DhammaSiri Product

  • GUNDAH 13-Mar-2018
  • MENGAPA ORANG-ORANG MENJADI GUNDAH ?

    Karena mereka menganggap sebagai diri.

    Bila ada keserakahan, kemelekatan, kemarahan, keangkuhan, yang terpenting adalah memandang mereka sebagai fenomena alamiah tanpa menganggap sebagai sesuatu yang berhubungan dengan diri. 
    Janganlah berusaha menanggulangi mereka.

    Menjadi Gundah Merupakan Sebuah Wujud Lain Dari Pengukuhan Ke-Akuan

    Menjadi Gundah Hanyalah Fenomena Alamiah

    Menjadi Gundah Merupakan Penggelembungan Ke-Akuan.

    Kalau Anda merasa gundah ketika menikmati musik, itu karena Anda terlalu menuntut, Anda mengaharapkan terlalu banyak dari diri Anda. Tetapi bila Anda menikmati itu dan mengamatinya dengan keseimbangan batin, hanya dengan demikianlah baru Anda melihat itu sebagaimana adanya.

    Kegundahan (yang merupakan dosa) adalah sahabat karib dari keserakahan dan keangkuhan. Anda Menjadi Gundah. Apabila Ada Keserakahan Atau Kenikmatan Dalam Bentuk Apapun.

    Keserakahan adalah tukang sulap jempolan.

    Pelajarilah cara dia membangkitkan perasaan senang.

    Batin telah dikelabui keserakahan sedemikian rupa sehingga kita tidak melihatnya sebagai seorang penyulap, tetapi memandangnya sebagai aku.

  • ROBOT 12-Mar-2018
  • Apakah Anda ingin menjadi sebuah robot? 

     T I D A K ! 

    Maka jangan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Sebuah robot bergerak berdasarkan perintah dari orang lain. 

    Apakan anda ingin melakukan perbuatan berdasarkan perintah kekotoran batin anda?

    Atau bertindak berdasarkan pikiran anda yang terlatih dengan baik? 

    Pikiran yang berpikir di-ibaratkan seperti ada seseorang yang mengendalikan Anda. 

    Jika Anda mengikuti pikiran anda yang tidak terkendali, itu sama seperti mematuhi perintah dari yang lain. 

    Jika anda ingin hidup menurut pikiran anda sendiri yang terlatih (baik) , Anda perlu perhatian (S A D A R). 

    Untuk bisa melakukan hal tersebut, coba berusaha untuk perhatian (SADAR) dan Bersabar. 

    Tanpa berlatih, tidak seorang pun dapat melakukan hal ini!

  • CUPLIKAN DHAMMA 06-Mar-2018
  • Kekotoran batin yang jahat sangat mirip dengan kurungan. 
    Di dalam lingkungan kehidupan kita ini terdapat penjara dan terdapat orang - orang yang menjadi tahanan di dalam penjara. 
    Tahanan tersebut mengalami penderitaan yang sangat banyak dan sangat mendalam.
     Mereka tidak memiliki kontrol dan kuasa terhadap diri mereka sendiri. 
     Mereka harus menjadi patuh, tunduk pada perintah orang lain. 
     Rantai kekotoran batin telah mengikat mereka. 

    Semua orang yang di dalam sel - sel penjara sangat menderita dan menyedihkan sekali. 
     Itulah sebabnya kekotoran batin sangat mirip dengan penjara. 

     Menjadi menderita karena penyakit kekotoran batin dapat dianggap sebagai didalam penjara. 
     Para narapidana yang berada di penjara dapat berharap ada hari pembebasannya. 
     Akan tetapi, untuk para penghuni penjara kekotoran batin, tidak ada tanggal pembebasan yang dapat diramalkan, diprediksi selama mereka masih menjadi pemilik dari kekotoran batin. 

     Penjara kekotoran batin adalah tempat yang sangat mengerikan yang penuh dengan kesedihan dan kemalangan.

     Kapan Anda mau KELUAR dan BEBAS dari Kotoran Batin ?

  • RENUNGKAN 23-Feb-2018
  • Renungkan Kehidupan Anda 

    Cara duniawi adalah melakukan sesuatu dengan alasan untuk mendapatkan sesuatu sebagai balasan. 
    Tetapi dalam agama Buddha kita melakukan sesuatu tanpa menginginkan keuntungan. 

     Tetapi jika kita tidak menginginkan apapun, apa yang akan kita peroleh? 

    Kita tidak mendapatkan apa-apa! 
    Apa pun yang kita peroleh hanyalah sebab dari penderitaan, 
    jadi kita berlatih untuk tidak mendapatkan apa-apa.

    Sang Buddha mengajarkan untuk meletakkan segala sesuatu tanpa inti yang kekal. 
     
    Ketika kebijaksanaan muncul bersama Kita, 
    Maka kita akan melihat Kebenaran dengan batin yang kosong. 

    Batin yang ‘kosong’ tidak berarti batin kosong seperti tidak ada apa-apanya di dalam. 
    Batin tersebut kosong dari keburukan tetapi dipenuhi dengan kebijaksanaan.

    Orang-orang tidak merenungkan usia tua, 
    penyakit, dan 
    kematian. 
    Mereka hanya suka berbicara tentang anti penuaan, 
    tanpa penyakit, dan 
    tanpa-kematian.

    Mereka tidak pernah mengembangkan Kessadaran untuk berlatih Dhamma.

     Kebahagiaan sebagian besar orang tergantung pada hal-hal yang sejalan dengan kehendak mereka. 
     Mereka harus dikelilingi orang yang hanya mengatakan hal-hal yang menyenangkan. 

    Begitukah cara Anda untuk menemukan kebahagiaan?
     
     Apakah mungkin dikelilingi orang dalam dunia ini yang hanya berbicara hal-hal yang menyenangkan? 

    Jika demikian, kapan Anda akan menemukan kebahagiaan?  

    Pohon, gunung, dan tanaman; semuanya hidup menurut kebenarannya sendiri. 
    Mereka lahir dan mati mengikuti sifat alaminya; mereka tetap tenang. 

    Tetapi manusia tidak. 
    Mereka mengeluh terhadap semua hal. 

    Tetapi tubuh hanya mengikuti sifat alaminya: 
    lahir, tumbuh menjadi tua, dan akhirnya mati. 

    Barang siapa berharap sebaliknya, 
    yaitu tidak bisa menerima ketua, tidak bisa menerima kesakitan,
    maka orang tersebut hanya akan menderita.
     

  • PERUMPAMAAN SEEKOR ANJING  23-Feb-2018
  • Saya pernah melihat seekor anjing yang tidak mampu memakan habis nasi yang telah saya berikan kepadanya, 
    jadi dia berbaring dan tetap menjaga nasinya di sana.

    Anjing tersebut sangat kenyang sehingga ia tidak bisa makan lagi, tetapi dia tetap berbaring sambil berjaga di sana. 
    Dia akan menunggu dan ngantuk, 
    dan kadangkadang dengan tiba-tiba memandang sekilas kepada makanan yang tersisa tersebut. 
    Jika ada anjing lain yang datang untuk makan, tidak peduli berapa besar ataupun kecil anjing tersebut, dia akan menggeram. 
    Jika ayam-ayam datang untuk makan nasi tersebut, dia akan menggonggong: 

    Guk!... Guk!... Guk!... 

    Perutnya sudah terasa akan pecah, tetapi dia tidak dapat membiarkan seekor hewan pun datang untuk makan. 

    Anjing tersebut kikir dan hanya mementingkan diri sendiri. 

    Manusia juga bisa bersifat seperti itu. 
    Jika mereka tidak mengetahui Dhamma, 

    Jika mereka tidak mempunyai kesadaran akan tugas mereka terhadap orang-orang yang di atas maupun di bawah mereka, 
    jika pikiran mereka dikuasai oleh kekotoran-kekotoran akan rasa tamak, marah, dan ketidaktahuan,
    mereka kikir dan hanya akan  mementingkan diri sendiri.
    Walaupun mereka sangat kaya.


    Mereka tidak tahu bagaimana cara berbagi. 
    Mereka merasa sulit bahkan untuk memberikan dana kepada anak-anak.

     Apakah Saya KIKIR ... ?! 

    Banyak orang hidup bukan untuk hidupnya. 
    Tapi demi pikiran dan perasaan mereka semata. 

    Jadi,.. wajarlah jika hidup nya terombang ambing tidak menentu. 
    Dan bahkan banyak dari mereka yang tidak tau apa yang sedang mereka kerjakan.

     Apakah SAYA sudah BERKESADARAN...? 
     Latih dan kembangkan Kesadaran Anda 

    Meditasi bersama 
    Bhikkhu Dhammasiri
     Seriap sabtu pk 08 s/d 15:00 
     Padepokan Meditasi Ariyasacca 
     Pabuaran Residence 
    Cluster Dahlia Blok D 6 No 5
    Cimone - Tangerang

  • ULAR COBRA BERACUN 23-Feb-2018
  • Ingatlah hal ini:  

    Semua objek pikiran, tanpa peduli apakah itu adalah hal yang kita suka atau yang tidak kita suka, adalah seperti kobra yang beracun. 

    Jika mereka menyerang dan menggigit kita, maka kita akan meninggal. 

    Objek-objek pikiran seperti kobra yang memiliki racun sangatlah tangguh. 
    Objek-objek yang kita suka mengandung banyak racun.
    Objek-objek yang tidak kita suka juga mengandung banyak racun.

    Mereka dapat menjauhkan pikiran kita dari kebebasan.
    Mereka dapat membuat pikiran tersesat dari prinsip-prinsip Buddha Dhamma. 

    Objek-objek dan suasana pikiran adalah seperti kobra beracun yang galak. 
    Jika tidak ada sesuatu yang menghadang jalan kobra tersebut, maka ia akan merayap pergi sesuai dengan sifatnya. 

    Meskipun ia mengandung racun, ia tidak memperlihatkannya. 
    Ia tidak berbahaya karena kita tidak di dekatnya. 

    Kobra itu hanya merayap pergi sesuai dengan urusan kobra itu sendiri. 
    Ia akan terus merayap di jalannya. 

    Jika kamu cerdas, kamu akan meninggalkan segala hal sendiri. 
    Kamu akan meninggalkan hal-hal baik sendirian; 
    kamu akan meninggalkan hal-hal buruk sendirian; 
    kamu akan meninggalkan hal-hal yang kamu suka sendirian;_ 
    Sama seperti kita meninggalkan seekor ular kobra beracun sendirian. 
    Kita biarkan ia merayap pergi di jalannya sendiri. 
    Ular itu merayap pergi meskipun ia membawa racun.

     Ingatlah...! 
     Permasalahan kita HANYA ada di 6 Indria kita. 

     Jika ingin terbebas dari masalah LENDALIKAN 6 indria ini. 

     Biarkanlah Objek ke 6 indria ini pergi dan berlalu. 
     Jangan menghadangnya 
    Jangan menangkapnya
    Maka kita akan selamat dari racun berbisa yang mematikan

     

    berlatih meditasi bersama 
    Bhikkhu Dhammasiri 
    Setiap hari Sabtu 
    Di Padepokan Meditasi Ariyasacca 
    Pabuaran Residence
    Tangerang_

  • BATU ES 23-Feb-2018
  • Tahukah Anda Sebongkah Batu Es ... ? 

    Apa yang akan terjadi apabila sebongkah Batu Es tersebut dibiarkan begitu saja di udara terbuka ... ?"

    "Mencair ... !"
    "YA... Mencair ..." 

    Demikian Tubuh ini bagaikan sebongkah Batu Es yang terus Mencair,
    Tubuh setiap saat Melapuk ...
    Melapuk ... dan terus Melapuk ...

    Kulit mengeriput, 
    Rambut memutih, 
    Pengelihatan mulai memudar,
    Gigi mulai tanggal, 
    Punggung mulai membungkuk.

     Apakah Anda SADAR akan Hal ini ... ? 

    Tubuh adalah Objek penuaan, penyakit dan kelapukan.
    Juga Tubuh adalah Objek yang bisa membantu Kita untuk mencapai Pembebasan.

    "Sadari Tubuh:
    Setiap Gerak, Sentuhan dan Postur tubuh
    "Selalu Aktif jasmani setiap saat

  • PERUMPAMAAN GELAS 23-Feb-2018
  • Kamu mungkin bisa berkata, 
     “Jangan pecahkan gelas saya!” 

    Tetapi kamu tidak bisa mencegah benda yang bisa pecah menjadi tidak pecah. 
    Jika ia tidak pecah sekarang, ia akan pecah suatu waktu. 

    Jika kamu tidak membuatnya pecah, orang lain yang akan membuatnya pecah.
    Jika orang lain tidak memecahkannya, mungkin hewan peliharaan kamu yang akan memecahkannya.

     Terimalah Hal ini 
     Memahami segala sesuatu: lihatlah gelas yang belum pecah ini sebagai gelas yang sudah pecah. 

     Ketahuilah bahwa gelas itu sudah pecah. 

    Kapanpun kamu mengambil gelas tersebut, 
    menuangkan air ke dalamnya,
    minum dari gelas tersebut, dan meletakkannya, 

    lihatlah bahwa gelas tersebut sudah pecah. 

     Dapatkah Anda memahaminya? 
     
     Melihat gelas pecah di dalam gelas yang tidak pecah. 
    Ketika saatnya telah tiba, gelas ini akan pecah. 
    Kembangkan cara berpikir ini. 

    Pakailah gelas tersebut; jagalah. 
    Namun jika suatu hari gelas tersebut tergelincir dari tanganmu: 
     “Brak, pecah!” 
     Tidak masalah. 
    Mengapa tidak masalah? 
     Karena kamu melihatnya sebagai gelas pecah sebelum ia pecah. 

     Paham? 
    Tetapi pada umumnya orang berkata, 
     “Saya sudah menjaga dengan baik gelas ini. Tidak akan membiarkannya pecah.” 

    Kemudian seekor anjing memecahkannya, dan kamu membenci anjing tersebut. 
    Jika anakmu memecahkannya, kamu membencinya juga. 

    Kamu membenci siapapun yang memecahkannya –
    karena kamu telah membendung dirimu sehingga air tidak bisa mengalir. 
    Kamu telah membuat sebuah bendungan dengan tanpa sebuah saluran pembuangan.
    Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh bendungan tersebut adalah meledak, 

    Ketika kamu membuat sebuah bendungan, kamu harus membuat sebuah saluran pembuangan juga. 
    Ketika air naik hingga ke tingkat tertentu, air tersebut dapat mengalir keluar dengan aman ke pinggiran. 
    Ketika air tersebut penuh hingga ke tepi, ia akan mengalir keluar melalui saluran pembuangan. 
    Kamu harus memiliki sebuah saluran pembuangan seperti ini. 
    Memahami ketidak-kekalan adalah saluran pembuangan
    Ketika kamu memandang segala sesuatu dengan cara ini, kamu akan mencapai kedamaian. 

     Semoga semua Damai, Sehat dan Bahagia 
    Sadhu...

  • PERUMPAMAAN PISANG DAN KELAPA 23-Feb-2018
  • Sebuah perbandingan sederhana. 
    Anggaplah Anda membeli setandan pisang atau sebutir kelapa di pasar dan kamu berjalan sambil membawanya.
     
    Seseorang kemudian bertanya,

     “Mengapa kamu membeli pisang tersebut?” 

     “Saya membelinya untuk dimakan.” 

     “Tetapi apakah kamu akan memakan kulit pisangnya juga?” 

     “Tidak.” 

     “Jika kamu tidak akan memakan kulitnya, jadi mengapa kamu membawanya juga?” 

     Atau anggap jika kamu membawa sebutir kelapa: 

     “Mengapa kamu membawa kelapa?” 

     “Saya membawanya pulang untuk membuat kari.” 

     “Dan kamu akan membuat kari dengan kulit kelapa nya juga?” 

     “Tidak.” 

     “Jika demikian mengapa kamu membawanya?” 

     Bagaimana kamu akan menjawab pertanyaan ini? 

     Mengapa kamu membawa kulitnya? 
     Karena belum waktunya untuk dibuang. 
    Kulitnya masih berguna untuk melindungi daging buah di dalamnya. 
    Waktunya belum tiba untuk membuang kulit tersebut, 
    jadi kamu masih membawanya untuk sementara waktu. 

     _Jika orang lain menuduh kita memakan kulit kelapa, 
    memangnya kenapa ?_ 

    Untuk itu Kita HARUS tau apa yang kita LAKUKAN.
    Kapan saat nya dan kapan bukan saatnya.
     Teruslah dengan KESADARAN ANDA. 

    Meskipun kita bermeditasi dengan cara melepas, 
    hal ini sama halnya dengan pisang atau kelapa tersebut: 
    Praduga dan pelepasan bercampur bersama, 
    sama seperti kelapa yang memiliki kulit yang bersatu dengan daging dan isinya, 
    jadi kamu membawa mereka semua. 

     TAPI INAGT.... 
     
    Ada saatnya KAMU HARUS MELEPAS... ! 

     JANGAN selamanya kamu bawa bawa kulit Pisang dan Kulit Kelapa, 
    hal itu dapat dipastikan ANDA Tidak akan pernah memakan isi pisang dan daging kelapa.

     LEPAS dan BUANG Kulitnya...! 

     Lepas EGO Anda... 
     Lepas PERSEPSI NEGATIF anda terhadap segala hal... 
     _Buang mereka jauh - jauh,
    Jika Anda ingin menikmati isi dan daging KEBAHAGIAAN dari buah kehidupan ANDA._ 

     *Meditasi bersama dan 
    Kelas Dhamma* 
     "Bhikkhu Dhammasiri" 
     Padepokan Meditasi Ariyasacca 
    Perumahan Pabuaran Residence 
    Blok D 6 No 5
     _Setiap Sabtu 
    pk 08:00 s/d 17:00_ 

     www.satujalan.com

  • Terlahir dari Mereka yang Disayangi  22-Feb-2018
  • Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, 
    Taman Anāthapiṇḍika.

    Pada saat itu seorang putera tunggal tersayang dan tercinta dari seorang perumah-tangga telah meninggal dunia. 
    Setelah kematian puteranya, ia tidak lagi berkeinginan untuk bekerja ataupun makan. 
    Ia terus-menerus pergi ke pekuburan dan menangis:
     
     _“Putera tunggalku, di manakah engkau? 
    Putera tunggalku, di manakah engkau?”_ 

    Kemudian perumah-tangga itu mendatangi Sang Bhagavā, dan berkata:
     _"Putera tunggalku yang tersayang dan tercinta telah meninggal dunia. 
    Sejak ia mati aku tidak lagi berkeinginan untuk bekerja ataupun makan. 
    Aku terus-menerus pergi ke pekuburan dan menangis: 
    ‘Putera tunggalku, di manakah engkau? 
    Putera tunggalku, di manakah engkau?’”_ 

     Kemudian Sang Bhagava berkata :
     _“Demikianlah, perumah-tangga, demikianlah! 
    Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.”_ 

     Akan tetapi Perumah tangga itu membantah dan berkata: 
     “Yang Mulia, kebahagiaan dan kegembiraan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.” 
    Kemudian, karena tidak senang dengan kata-kata Sang Bhagavā, perumah-tangga itu bangkit dari duduknya dan pergi.


    Akhirnya kisah ini sampai ke istana raja. 
    Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala berkata kepada Ratu Mallikā: 
     _“Ini adalah apa yang telah dikatakan oleh Petapa Gotama, Mallikā: 
    ‘Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.’”_ 

     “Jika itu telah dikatakan oleh Sang Bhagavā, Baginda, maka demikianlah adanya.” 

    Kemudian Ratu Mallikā berkata kepada Brahmana Nāḷijangha: 
     _“Pergilah, Brahmana, temui Sang Bhagavā dan bersujudlah atas namaku dengan kepalamu di kaki Beliau, dan tanyakan:

    ‘Yang Mulia, apakah kata-kata ini telah diucapkan oleh Sang Bhagavā: 

    “Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi”?’ 

    Dengarkanlah baik-baik apa jawaban Sang Bhagavā dan laporkanlah kepadaku; 

    karena Sang Bhagavā tidak mengucapkan kebohongan.”_ 


     “Baik, Nyonya,” 
    ia menjawab, dan ia mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. 
    Lalu Brahmana itu bertanya kepada Sang Bhagava:
     _‘Yang Mulia, apakah kata-kata ini telah diucapkan oleh Sang Bhagavā: 
    “Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi”?’”_ 

     __“Demikianlah, Brahmana, demikianlah! 
    Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.
    __ 


     Ada beberapa kasus terjadi di Sāvatthī: 

    “Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang wanita yang ibunya meninggal dunia. Karena kematian ibunya, ia menjadi gila, menjadi tidak waras, dan berkeliaran dari jalan ke jalan dan dari persimpangan ke persimpangan, dengan mengatakan: 
     _‘Apakah kalian melihat ibuku? 
    Apakah kalian melihat ibuku?’_ 


    “Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang wanita yang ayahnya, saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, puteranya, puterinya, suaminya meninggal dunia. 

    Karena kematian mereka itu, wanita ini menjadi gila, menjadi tidak waras, dan berkeliaran dari jalan ke jalan dan dari persimpangan ke persimpangan, dengan mengatakan: 
     _‘Apakah kalian melihat suamiku? 
    Apakah kalian melihat suamiku?’_ 

    “Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang perempuan yang menetap bersama keluarga sanak saudaranya. 
    Sanak saudaranya ingin menceraikan dirinya dari suaminya dan menyerahkan dirinya kepada orang yang tidak ia sukai. 
    Kemudian perempuan itu berkata kepada suaminya: 
     ‘Suamiku, sanak-saudaraku ingin menceraikan aku darimu dan menyerahkan aku kepada orang lain yang tidak aku sukai.’ 
    Kemudian sang suami memotong perempuan itu menjadi dua dan menusuk perutnya sendiri, dengan pikiran: 
     ‘Kita akan bersama-sama lagi dalam kehidupan berikut.’ 

     *Ini juga dapat dipahami dari ini, Brahmana, 
    bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.”* 

    Kemudian, dengan merasa senang dan gembira mendengarkan kata-kata Sang Bhagavā, 
    Brahmana Nāḷijangha bangkit dari duduknya, menghadap Ratu Mallikā, dan melaporkan kepadanya seluruh percakapannya dengan Sang Bhagavā.

    Kemudian Ratu Mallikā menghadap Raja Pasenadi dari Kosala dan bertanya: 
     _“Bagaimana menurutmu, Baginda? 
    Apakah engkau menyayangi Puteri Vajiri?”_ 

     “Tentu, Mallikā, aku menyayangi Puteri Vajiri.” 

     _“Bagaimana menurutmu, Baginda? 
    Jika perubahan terjadi pada Puteri Vajiri, akankah dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul pada dirimu?”_ 

     _“Perubahan pada Puteri Vajiri berarti perubahan dalam hidupku. 
    Bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?”_ 

     “Sehubungan dengan hal ini, Baginda, maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: 
     ‘Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.
    ’ 

     _“Sungguh mengagumkan, Mallikā, sungguh menakjubkan betapa jauhnya Sang Bhagavā menembus dengan kebijaksanaan dan melihat dengan kebijaksanaan! 
    Pergilah, Mallikā, ambilkan aku air pencuci.”_ 

    Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, dan setelah membenahi jubah atasnya di salah satu bahunya, ia merangkapkan tangannya sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā dan mengucapkan seruan ini tiga kali:

     _“Hormat kepada Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna! 

    Hormat kepada Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna! 

    Hormat kepada Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna!”_