DUNIA ISLAMMOZAIK ISLAMS Y A R I A T

Makna Persahabatan dalam Islam

Janganlah berkawan dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu

Oleh: Bangun Lubis

Saya pernah membaca sebuah tulisan KH. Hasyim Muzadi yang menggambarkan bagaimana sesungguhnya arti dan makna persahabatan dalam Islam. Persahabatan yang diceritakan Hasyim merujuk pada Rasulullah SAW dengan Abu Bakar As- Siddiq.

Bahkan persahabatan mereka tercatat dalam Al Qur’am ayat 40 surah at-Taubah yang menyebutkan persaabatan itu. “… sedang dia; salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, pada waktu dia berkata kepada sahabatnya, `Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ ”

Dalam sebuah Hadist juga tersebut makna persahabatan yang dikutip Hasyim sebagai berikut :’Janganlah berkawan dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu dan pembicaraannya tidak membimbingmu ke jalan Allah” (Ibnu `Athoillah).
Sahabat yang baik, demikian merujuk kepada ayat  dan hadist di atas, tentu akan menjelmakan kabar baik bagi sahabat itu. Sahabat sejati akan menggembirakan sahabatanya, sekalipun ketika nyawa mereka dalam ancaman. Persis Rasulullah ketika membesarkan hati Abu Bakar dengan memintanya tak perlu bersedih. Mengapa tak perlu bersedih? Sebab, demikian kabar gembira Nabi kepada sahabatnya itu, Allah menyertai mereka dalam gua yang pada saat itu mereka terkepung dalam Gua Hira.

Baca Juga  Ber-Istighfar, Satu Kalimat Beribu Solusi

Kabar gembira itu telah membuat semangat Abu Bakar melonjak. Kalau keberadaan serta sosok Nabi saja sudah mampu menjadi “jaminan” bagi ketenangan Abu Bakar, apalagi ketika menyimak kata-kata Nabi kepadanya. “Laa Tahzan–jangan bersedih!” Dan, keteguhan Abu Bakar bertambah-tambah ketika Nabi mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak hanya berdua. Bersama mereka juga “ada” Allah yang terus menyertai perjalanan ini.

Adakah sebutan paling indah yang diharapkan umat Islam selain sebutan sahabat oleh junjungannya? Maka, sebuah persahabatan yang menyelamatkan adalah yang di dalamnya mem-persyaratkan adanya sikap dan amal seseorang yang mampu menyelamatkan sahabatnya.

Sahabat dalam hal ini menjangkau makna yang sangat luas. Suami bisa jadi sahabat bagi istrinya dan istri bisa menjelma sahabat bagi suaminya.  Guru bisa menjadi sahabat bagi muridnya dan para murid bisa jadi sahabat bagi gurunya.  Ulama bisa bersahabat dengan umatnya dan umat bisa menjadi sahabat bagi ulama, guru-guru mereka.

Baca Juga  Orang – Orang Bodoh yang Merasa Pintar

Maka, suami yang baik adalah yang menyertakan Allah dalam persahabatan dengan istrinya. Sebagaimana juga istri yang baik adalah yang senantiasa mengajak suaminya bersahabat dalam lindungan Allah SWT. Marilah kita bersahabat dengan orang  yang membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT. Wallohu’alam.(*)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close