DUNIA ISLAMMOZAIK ISLAMS Y A R I A T

Menyembah Allah dengan Rasa Cinta

Ibadah merupakan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya,

Oleh: Bangun Lubis

SATUJALAN – Mendengar kata ibadah, pikiran kita tentu langsung tertuju kegiatan sehari-hari yakni shalat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah seperti ini merupakan gambaran dari keyakinan (aqidah) kita kepada kekuasaan Allah SWT.

Ibadah merupakan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, Allah SWT atau hablum minallah. Secara harfiah, kata ibadah dapat berarti menyembah atau beramal baik. Sebagaimana Firman Allah :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku”. ( QS. Al Dzariyat : 56)

Firman Allah tersebut menyatakan bahwa seluruh umat manusia wajib beribadah kepada-Nya. Allah SWT telah menetapkan bentuk-bentuk ibadah yang harus dilakukan hambaNya yang beriman.

Dalam Pengajian Minggu di Mesjid Al Furqon Jl. R Soekamto, Palembang , Ustads Amran Anwar, SE, di hadapan Jamaah mengmukakan bahjwa  Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: kecintaan, khauf (takut) dan raja’ (harapan).

Amran menguraikan, rasa cinta (hubb) harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf (takut) harus dibarengi dengan raja’ (harapan). Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah  berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin, “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54).

Baca Juga  Islam Harus Bangun, Tak Boleh Terlena

Dan juga firman-Nya, “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).  Dalam perkara ini, Allah  juga berfirman menyifati para Rasul dan Nabi-Nya,“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Sebagian ulama berkata, “Siapa yang menyembah Allah  dengan rasa cinta (hubb) saja maka dia zindiq (istilah untuk setiap munafik, orang yang sesat dan mulhid). Siapa yang menyembah-Nya dengan raja’ (harapan) semata maka ia adalah murji’ (orang Murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan dari iman. Iman hanya dengan hati saja). Dan siapa yang menyembah-Nya hanya dengan khauf (takut) saja, maka dia adalah harury (orang dari golongan Khawarij, yang pertama kali muncul di Harurro’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa adalah kafir). Siapa yang menyembah-Nya dengan hubb, khauf dan raja’ maka dia adalah mukmin muwahhid”. (Dikutip dari Kitab Tauhid lish-Shafil Awwal karya Dr. Shalih Al-Fauzan)

Baca Juga  Orang – Orang Bodoh yang Merasa Pintar

Ibnu Qayyim rahimullah menyerupakan beredarnya ibadah di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah  dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah rasul dan syari’atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari’atkan baginda Rasul  itulah yang memutar orbit ibadah. Ibadah tidak diputar oleh bid’ah, nafsu dan khurafat.(*)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close