DUNIA ISLAM

Teguh Sampai Akhir Hayat

Kisah inspratif

Oleh : Aminuddin  l  Wartawan

INI kisah tentang Ammar bin Hisyam. Se moga kisah ini memberi manfaat bagi kita semua. Amin …
___________________

SUDAH lama Ammar bin Hisyam, yang lebih dikenal dengan nama Abu Jahal, marah-marah saja saban hari.

Hal ini dikarenakan para budaknya satu demi satu memeluk agama Islam di depan matanya sendiri.

Bahkan ada yang satu keluarga menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW seluruhnya, yaitu Yasir, Samiyyah isterinya, dan kedua anaknya, Ammar dan Abdullah.

Pada suatu hari mereka dihadapkan di depan pengadilan Abu Jahal dengan tangan dan kaki terbelenggu.

“Keparat kamu semua,” hardik Abu Jahal dengan berang.

“Muhammad itu kan anak gila, mengapa kalian harus ikuti? Keluar kamu dari Islam! Nanti kalian selamat.”

Keempat orang itu diam saja sambil mulutnya komat-kamit mengucapkan kalimah-kalimah tauhid.

“Kurang ajar. Setan belang. Kalau sudah dihadapan ku begini, kalian mau minta tolong kepada siapa, ha?”

Sambil berteriak demikian, cambuknya melecut-lecut mendera tubuh mereka.

“Kepada Muhammad? Ha ha ha … Dia tak kan sanggup menolongmu.”

Empat hamba Allah SWT tetap diam. Tak sepatah pun kata keluar dari mulut mereka kecuali ucapan-ucapan syahadat.

Meski cambuk makin deras menghan tam mereka, namun sejengkal pun me reka tak mau bergeming dari aqidah tauhid.

Memuncaklah kemurkaan Abu Jahal. Diperintahkannya para algojo untuk me manggang mereka di atas bara api.

Seperti orang membakar sate, demikianlah keadaan keluarga Yasir. Seorang demi seorang ditelentangkan di atas tempat pemanggangan. Daging mereka sudah melepuh, bau kulit terbakar meruyak-ruyak hidung.

Nabi Muhammad SAW datang menjenguk, namun beliau tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka budak orang lain, sedangkan waktu itu belum turun ayat untuk berperang.

Sambil meneteskan air mata, beliau mendekati mereka dan menggumam, “Sa barlah, hai keluarga Yasir. Ada saatnya nanti masa akan berputar. Sesungguhnya di depanmu telah menunggu surga yang dijanjikan.”

Lalu Nabi Muhammad SAW mengangkat kedua tangannya :

“Ya Allah, berilah kelapangan jiwa bagi keluarga Yasir.”

Abu Jahal dan anak buahnya tertawa terbahak-bahak.

Ketika Nabi pergi.

“Kalian lihat, junjunganmu pergi begitu saja? Ha ha ha …”

Tak berapa lama setelah dipanggang te rus menerus, Yasir sudah tidak tahan lagi. Gugurlah dia.

Baca Juga  Makna Persahabatan dalam Islam

Innalillahi wainna ilaihi raajiun.

Ketika mayatnya diangkat, tampak sudah gosong sekali. Ammar hanya menunduk sedih. Air matanya sudah kering sebelum tumpah ke bumi.

Setelah itu menyusul pula Abdullah, sau dara Ammar. Badannya yang sakit-saki tan tak kuat lagi menahan siksaan yang di luar batas itu, sehingga wafatlah dia.

Namun pada detiknya yang terakhir Abdullah sempat tersenyum sebagai pertanda keteguhan imannya.

Abu Jahal semakin murka.

“Setan iblis. Disiksa begitu kejamnya masih juga keras kepala. Baik,” teriaknya.

“Angkat Samiyyah, ibu keparat itu!”

Maka Samiyyah pun diangkat sebelum tewas dalam siksaan yang ganas dan buas itu. Sedangkan Ammar masih tetap dipanggang dengan hebatnya.

Setelah didudukkan, Abu Jahal lantas berkata kepada perempuan tua itu :

“Kalau kau mau keluar dari agama Muhammad, Ammar yang hampir mampus itu akan kulepaskan.”

Dengan tenang, sambil menahan rasa sakit, Samiyyah menjawab, “Ammar adalah urusan Ammar sendiri. Dia punya tanggung jawab kepada Tuhan, sebagai mana aku juga punya tanggung jawab terhadap Tuhan. Apa pun yang aku perbuat tidak ada sangkut pautnya dengan dia, seperti yang dia perbuat juga tak ada sangkut pautnya denganku.”

“Terkutuklah binatang tua,” serapah Abu Jahal.

“Kembalilah kepada agama Lata dan Uzza, nanti kau selamat. Kalau tidak …”

“Mengapa kalian buang-buang waktu saja?” Tanya Samiyyah.

“Kalau kau mau bunuh aku, bunuhlah. Aku tetap pengikut Muhammad sampai mati.”

“Hem, begundal jelek. Sudah tua begini cintakan Muhammad. Muhammad tak kan demen sama kamu, tahu? Sekarang bawalah cintamu itu ke kerak neraka.”

Abu Jahal kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya dengan kerlingan mata.

Maka terjadilah peristiwa menge rikan itu. Peristiwa yang tak akan sa nggup sejarah mencatatnya.

Samiyyah ditelanjangi bulat-bulat. Tu buhnya yang bugil itu disurukkan ke atas padang pasir tengah hari, pada saat matahari sedang terik sekali.

Setelah tersiksa dalam panas yang tak tertahankan, Abu Jahal mengambil sebilah pedang.

Kemaluan Samiyyah ditusuk dengan pedang itu, lalu disobeknya badan Samiiyyah dari situ.

Dengan sentakan kalimah tauhid, Samiyyah menjerit buat yang terakhir kali.

Dia menangis kepada Tuhan yang disembahnya. Wafatlah dia dalam kesempurnaan iman dan aqidah.

Baca Juga  Siapa Manusia Terbaik dan Yang Terburuk di Mata Allah Subhanawata'alla ?

Sementara Ammar, lantaran tidak mem pan disiksa di atas api, dilepaskan ika tannya, lalu dipaksa untuk memakai baju besi.

Ia dijemur di tengah-tengah padang pa sir.

Ammar tidak tahan dan minta dilepas kan. Mulutnya mengaku murtad tapi hatinya tetap beriman.

Para sahabat yang lain gempar men dengar perbuatan Ammar itu. Mereka melapor kepada Rasulullah SAW.

“Wahai Rasulullah. Ammar telah murtad dari agama kita. Dia mengaku kembali kepada agama nenek moyang.”

Nabi SAW dengan bijaksana menjawab, “Allah telah mencampur iman Ammar di antara ujung rambut hingga ujung kakinya. Dan Allah telah mencampur imannya dengan daging dan darahnya.”

Perkataan ini Nabi SAW ucapkan setelah turun ayat 106 Surah An-Nahl yang berbunyi :

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang-orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar.”

Ibnu Abbas berkata, ketika Rasulullah SAW hendak hijrah ke Madinah, orang-orang musyrik menahan Bilal, Khabbab, dan Ammar bin Yasir.

Adapun Ammar, yang bersangkutan sempat mengucapkan kalimat-kalimat yang menyimpang untuk melindungi dirinya dari siksaan mereka.

Ketika dia kembali kepada Rasuluah SAW, dia menceritakan hal itu.

Beliau lalu bertanya, “Bagaimana keadaan hatimu saat mengucapkannya, apakah hatimu menerima dengan apa yang kamu ucapkan itu?”

Ammar menjawab, “Tidak.”

Maka Allah SWT menurunkan ayat, “Illaa man .. sampai .. bil-imaani.” (HR Ibnu Abi Hatim).

Mujahid berkata, ayat 106 ini turun berkenaan dengan orang-orang Mekah yang beriman. Para sahabat yang berada di Madinah memberitahukan mereka agar hijrah kesana.

Maka berangkatlah mereka hijrah menuju Madinah. Sayang, dalam perjalanan mereka dijegal oleh kafir Quraisy dan memaksa mereka untuk kembali kepada kekafiran.

Karena terpaksa, akhirnya mereka kembali pada kekafiran. Berkenaan dengan mereka, turunlah ayat tersebut. (HR Ibnu Abi Hatim). Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber literasi :

1. Latar Belakang Turunnya Ayat-Ayat Al-Quran karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

2. 30 Kisah Teladan (1) karangan KH Abdurrahman Arroisi.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close