MUAMALAH

Kadang Kemewahan itu Berubah dengan Kekurangan

Oleh: Ustadz Juhartono  (Pimpinan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumsel )

PERJALANAN hidup manusia seperti roda pedati, terus berputar. Terkadang di atas terkadang di bawah. Pada satu kesempatan, Allah swt memberikan kita berada pada kelapangan harta. Akan tetapi di kemudian hari, kelapangan dan kemewahan itu berubah menjadi serba kekurangan.

Ustadz Juhartono

Disinilah kita dituntut sebagai hamba Allah untuk selalu cerdas dan pandai mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah swt. Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7.
“… Jika kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat-nikmat itu. Dan jika kita kufur nikmat, tunggulah azabKu sangat pedih.”

Surat Ibrahim ayat 7 tersebut memberikan pemahaman kepada kita semua untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur. Allah swt memberikan garansi, setiap manusia yang bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan, Allah akan menambahnya.
Sebaliknya jika kufur atau mengingkari nikmat yang diberikan, Allah tidak langsung menimpahan adzab kepada manusia. Allah hanya mengingatkan, ‘inna ‘adzaabii lasyadiid” ingatlah adzab-Ku sangat pedih.

Artinya adzab tidak akan langsung ditimpakan bagi manusia meskipun manusia itu kufur nikmat. Adzab bisa saja diberikan kapan saja, bisa jangka pendek, jangka panjang, bisa ditimpakan selama hidup di dunia, bisa juga diberikan ketika berada di akhirat.
Agar kita menyesal dikemudian hari, maka berdasarkan surat Ibrahim ayat 7 di atas, kita harus pandai menjadi hamba yang pandai bersyukur. Jangan sebaliknya, selalu kufur.
Banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah swt, di antaranya adalah:
Pertama, Lapang hati dan tidak mudah mengeluh.

Mengeluh dan terus mengeluh bukanlah solusi dalam menghadapi masalah. Ketika manusia sering mengeluh, sejatinya dia sedang menunjukkan ketidakberdayaannya untuk melangkah memperbaiki hidup.

Ingatlah di saat manusia mendapat masalah, sebenarnya Allah sedang menunjukkan rasa kasih sayang-Nya. Di saat manusia mendapat masalah, sebenarnya Allah sedang menguji kualitas imannya. Seperti firman Allah dalam surat Al Ankabut ayat 2.
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?”
Artinya ketika manusia mendapatkan ujian dari Allah, sejatinya Allah sedang memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk meningkatkan derajat dan kualitas imannya.

Seperti halnya ketika seorang pelajar atau mahasiswa akan naik ke tinglat selanjutnya, mereka harus menghadapi rangkaian ujian.
Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa ujian yang diberikan Allah pasti sesuai dengan kadar kemampuan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah : 286 :

Baca Juga  Meraih Ketenangan Jiwa yang Mantap

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ ……٢٨٦
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya.”

Kedua, selalu mengingat nikmat Allah swt.
Cobalah sesekali kita bangun tengah malam, berwudhu dengan sempurna, lalu menunaikan sholat tahajjud. Kemudian sambil menunggu shubuh kita merenung dan ber-muhasabah sejenak, bagaimana kondisi kondisi kita dari yang tidak ada menjadi ada. Sejak dari alam kandungan hingga kita lahir ke dunia.

Tumbuh dengan kasih sayang orang tua hingga menjadi dewasa seperti ini.
Kemudian kita bertanya kepada diri sendiri, siapakah yang memberikan nikmat kesehatan kepada kita? Tentu kita akan menjawab, yang memberikan semuanya adalah Sang Khalik, sang Maha Pencipta kita semua, Allah azza wajalla.

Banyak sekali nikmat yang Allah kepada hamba-Nya. Begitu banyaknya nikmat Allah, manusia tidak akan mampu menghitungnya. Apalagi membalasnya. Allah swt berfirman dalam surat Ibrahim ayat 34.

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّارٞ ٣٤
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Jika kita disuruh memilih antara kesehatan dengan harta yang berlimpah, tetapi badan sakit-sakitan, saya yakin kita semua akan memilih badan yang sehat. Karena di saat sakit, kita tidak akan bisa merasakan nikmatnya sebuah harta. Makanan semahal dan selezat apapun akan terasa pahit. Ketika kita menaiki mobil yang super mahal, tentu kita tidak akan merasa nyaman tubuh kita sakit.

Manusia terkadang hanya mengartikan rezeki berupa materi atau uang. Padahal nikmat bentuknya sangat banyak, seperti nikmat kesehatan yang seringkali kita lupakan. Kita baru menyadari nikmatnya kesehatan ketika sedang merasakan rasa sakit. Badan lemah, makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Belum lagi ketika kita harus pulang pergi rawat di rumah sakit. Pernafasan dibantu dengan tabung oksigen, makan dibantu dengan saluran infus, dan sebagainya. Betapa banyak uang yang harus dikeluarkan tiap hari, minggu, bulan atau tahun hanya demi satu nikmat yaitu kesehatan.
Hadirin sidang shalat Jum’at yang dirahmati Allah!
Ketiga, mencoba berbagi kepada saudara kita yang membutuhkan.

Berbagi dengan saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan adalah salah cara mengobati hati. Perlu dipahami bersama, dibalik harta yang kita miliki, sebenarnya ada bagian milik orang lain.
Maka ketika kita sedang mengeluarkan sebagian harta kita di jalan Allah, secara tidak langsung kita sedang berinvestasi pahala yang balasannya sungguh banyak luar biasa. Seperti firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Baqarah 261.
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١

Baca Juga  Makan pun Ada Adabnya, Biar Diberkahi Allah

“Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa-siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (al baqoroh ayat 261).

Keempat, tanamkan di dalam jiwa kita bahwa kehidupan tidak abadi.
Hidup di dunia tidak selamanya. Hidup di dunia tidak akan kekal abadi. Harta benda, pangkat jabatan, bahkan keluarga dan orang-orang tercinta akan kita tinggalkan semuanya. Ketika nyawa dicabut malaikat Izrail dan ketika kita dimasukkan ke dalam liang lahat, yang dibawa hanya tiga atau lima lembar kain kafan. Kemudian amal shaleh-lah yang akan menemani di alam kubur.
Rasulullah menyuruh kepada kita semua agar kita memperbanyak mengingat kematian, sebab dengan mengingat kematian akan menyadarkan bahwa kita hidup di dunia hanya semantara. Yang kekal abadi adalah alam akhirat.

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani).

Kelima, berserah diri atas segala rencana yang Allah sudah berikan.
Cara bersyukur yang terakhir adalah menyerahkan diri sepenuhnya atas ketentuan hidup dan skenario yang ditetapkan Allah swt. Dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah akan membuat hati tenang dan tenteram. Hatinya dijauhkan dari gelisah dan was-was. Karena kita selalu berharap kepada Allah ta’ala.

Yakinlah ketika manusia beriman yang menggantungkan hidupnya pada Allah ta’ala, maka kita akan dijauhkan dari rasa kecewa. Karena kita yakin semua kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia pasti mendapat balasan dari Allah SWT.

Demikianlah lima cara menjadi hamba yang pandai bersyukur. Mudah-mudahan dengan uraian tersebut, kita selalu dibimbing oleh Allah agar mampu menggunakan nikmat yang diberikan ke jalan yang diridhoi Allah swt. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button