MUAMALAH

Allah Beri Kemudahan Bila Melepaskan Kesusahan Orang  

Oleh: Hj. Desmawati M.Si [ Pimpinan SIT Al Furqon Palembang ]

Sebagai mahluk sosial, setiap orang tidak akan lepas dari lingkungan sosialnya sebagai tempatnya hidup bersama dengan orang lain. Seseorang memerlukan orang lain,  baik dalam bertukar pikiran, tolong-menolong saling membantu dalam banyak hal.

Dalam sebuah kajian di Mesjid Al Furqon Jl. R Soekamto Palembang yang dipandu Ustads *Umar Said*, mengupas soal bagaimana sikap kita dalam hidup bersama dalam sebuah lingkungan masyarakat. Melepaskan kesusahan orang lain sangat luas maknanya, bergantung pada kesusahaan yang diderita oleh saudarnya seiman tersebut. Namun, adalah sebuah kemenangan bagimu jika engkau membantu kesusahan saudara atau temanmu seiman itu.

Jika saudaranya se Iman itu termasuk orang miskin, sedangkan ia termasuk orang berkecukupan atau kaya, ia harus berusaha menolongnya dengan cara memberikan pekerjaan atau memberikan bantuan sesuai kemampuannya.

Kalau saudaranya sakit, ia berusaha menolongnya, antara lain dengan membantu memanggilkan dokter atau memberikan bantuan uang alakadarnya guna meringankankan biaya pengobatannya.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW. Bersabda, ‘’barang siapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di dunia, niscaya Allah melepaskan dia dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa member kelonggaran kepada orang yang susah, niscaya Allah akan member kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barang siapa menutupi aib seorang muslim,  niscaya Allah menutupi aib diadi dunia dan di akhirat. Dan Allah selamanya menolong hamba-Nya, selama hambanya menolong saudaranya. (H.R.Muslim)

Jika saudaranya termasuk orang miskin, sedangkan ia termasuk orang berkecukupan atau kaya, ia harus berusaha menolongnya dengan cara memberikan pekerjaan atau memberikan bantuan sesuai kemampuannya.

Lalu kalaulah saudara kita itu sakit, ia berusaha menolongnya, antara lain dengan membantu memanggilkan dokter atau memberikan bantuan uang alakadarnya guna meringankankan biaya pengobatannya.  Bila saudaranya dililit utang, ia berusaha untuk mencarikan jalan keluar, baik dengan memberikan bantuan agar utangnya cepat dilunasi, maupun sekedar memberikan arahan-arahan yang akan membantu saudaranya dalam mengatasi utangnya tersebut dan lain-lain.

Baca Juga  Tetap Semangat Mencari Rezeki

Menolong orang lain untuk menuju kebaikan, merupakan salah satu bentuk sebagai orang yang bener-benar membantu agama Allah, sepanjang orang ini memiliki niat utama untuk Allah semata.

Orang membantu kaum muslimin agar terlepas dari berbagai cobaan dan bahaya, ia akan mendapat pahala yang lebih besar dari Allah SWT dan Allah pun akan melepaskannya dari berbagai kesusahan yang akan dihadapinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak, pada hari ketika harta benda, anak, maupun benda-benda yang selama ini dibanggakan di dunia tidak lagi bermanfaat.pada waktu itu hanya pertolongan Allah saja yang akan menyelamatkan manusia.

Berbahagialah bagi mereka yang bersedia untuk melepaskan penderitaan sesama orang mukmin karena pada hari kiamat nanti, Allah akan menyelamatkannya. Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).

Tutupi Kesalahan

Digambarkan dalam sebuah buku sebuah Quantum Reliji, karangan Ichsanuddin,  orang mukmin pun harus berusaha menutupi aib saudaranya. Apalagi jika ia tahu bahwa orang yang bersangkutan tidak akan senang kalau aaib atau rahasianya diketahui oleh orang lain. Namun demikian, jika aib tersebut berhubungan dengfan kejahatan yang dilakukannya, ia tidak boleh menutupinya. Jika hal itu dilakukan, berarti ia telah menolong orang lain dalam hal kejahatan sehingga orang tersebut terhindar dari hukuman. Perbuatan seperti itu sangat dicela dan tidak dibenarkan dalam Islam.

Sabda Nabi Muhammad SAW “Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim” maksudnya menutupi aib orang yang baik, bukan orang-orang yang telah dikenal suka berbuat kerusakan. Hal ini berlaku dalam kaitannya dengan dosa yang telah terjadi dan telah berlalu.

Dalam sebuah hadist Rasulullah menyabdakan sebagaimana diuraikan Anas ra.; “Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kami sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i).

Sementara *Ustadz Mugiono M.Pdi* dalam kajian lain di Masdjid Al Furqon Palembang,  memberikan pendapat terhadap sikap individualistis adalah sikap mementingkan diri sendiri, tidak memiliki kepekaan terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain.

Baca Juga  Tips Mencari Pasangan Hidup

Menurut agama, sebagaimana di sampaikan dalam hadits di atas adalah termasuk golongan orang-orang yang tidak (smpurna) keimanannyanya. Apalah salahnya kalu kita berbaik hati kepada saudara kita atau teman dan handaitolan, tiadalah merugi kiranya.

Hadits di atas juga menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sesungguhnya. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan bukan hal-hal lain, karena ada keinginan yang menguntungkan secara materi misalnya, tetapi ikhlas sehingga betul-betul merupakan persaudaraan murni dan suci.

Persaudaraan yang akan abadi seabadi imannya kepada Allah swt. Dengan kata lain, persaudaraan yang didasarkan Illah, sebagaimana diterangkan dalam banyak hadits tentang keutamaan orang yang saling mencintai karena Allah swt, di antaranya: “Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda,: “pada hari kiamat Allah swt. akan bertanya (berfirman), ‘di manakah orang yang saling terkasih sayang karena kebesaran-Ku, kini aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat tiada naungan, kecuali naungan-Ku.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa seorang anak manusia itu harus saling tolong-menolong dalam kebenaran dan kesabaran, selain itu hadits ini juga mengajarkan kepada kita agar peka terhadap problematika sosial yang muncul di hadapan kita sehingga jika kita meringankan beban orang lain maka pada hakikatnya kita telah meringankan beban kita sendiri.

Oleh karena itu sudah terbukti jelas bahwa Al-Quran dan Sunnah akan tetap sesuai dan relevan dengan perubahan zaman. Islam itu berlaku buat segala zaman, bukan pada satu zaman saja(.*)

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button