ADABMUSLIMAH

Pernikahan Dalam Pandangan Madzhaf Syafi’i

Melalui pernikahan, rumah tangga terbangun dengan legal dan aman. Itulah mungkin segelintir tujuan manusia di muka bumi ini menikah dengan ikatan yang sah

 

SATUJALAN NETWORK –  Pernikahan merupakan sebuah bentuk budaya ikatan antara laki-laki dan perempuan untuk membina rumah tangga dan menghalalkan apa-apa saja yang diharamkan oleh syariat Islam.

Melalui pernikahan, rumah tangga terbangun dengan legal dan aman. Itulah mungkin segelintir tujuan manusia di muka bumi ini menikah dengan ikatan yang sah, resmi, legal, dan tak bertentangan dengan budaya, adat, dan tradisi masyarakat setempat.

Buku terjemahan ini merupakan salah satu menu yang disajikan untuk mengulas hal-ihwal seputar pernikahan menurut hukum Islam. Secara etimologi, nikah berarti berkumpul atau menyatu. Menurut terminologi syara’, nikah adalah sebuah akad yang mengandung kebolehan saling mengambil kenikmatan biologis antar suami dan istri sesuai dengan prosedur yang diajarkan oleh syara’.

Pernikahan harus dijalani secara berkesinambungan. Karena esensi dan substansi pernikahan adalah menyatukan dua insan yang berbeda; baik secara fisik maupun psikis antara laki-laki dan perempuan. Artinya, laki-laki memperistri perempuan dan perempuan menjadikan laki-laki sebagai suami. Sebab pernikahan itu bertujuan menyatukan dua insan hingga satu sama lain saling berkumpul dan menyatu (Hal. 15).

Akad (ijab dan qabul) dalam bahasa kita sehari-hari merupakan bentuk transaksi yang dilakukan oleh calon suami dengan wali perempuan yang dilamar. Seorang laki-laki yang akan menjadi suami harus benar-benar siap dengan apa yang menjadi komitmennya, yaitu menjadi suami. Sedangkan bagi perempuan yang dilamar juga harus siap untuk menjadi istri atau pendamping laki-laki yang melamarnya. Dengan demikian pernikahan akan berlangsung khidmat.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi patokan bagi mereka yang ingin mencari calon istri yang ideal. Karena tentu saja hasrat untuk hidup tampak sempurna dalam mencari pendamping hidup juga perlu memperhatikan beberapa hal yang patut untuk dikenali. Karena jika kita salah dalam memperistri seorang gadis, maka masa depan kita yang akan menjadi ancamannya. Ciri-ciri ideal untuk mencari jodoh bagi seorang laki-laki yaitu; beragama dan berakhlak mulia, nasab (keturunan yang baik), bukan kerabat dekat, perawan, subur, sepadan (Hal. 38-44]

Akad nikah tidak dianggap sah sebelum rukun dan kesempurnaan syarat-syaratnya terpenuhi. Secara umum rukun nikah ada empat. Jika diperinci lebih lanjut menjadi enam, yaitu; ijab-qabul antara dua orang yang berakad (pengantin laki-laki dan wali), pengantin wanita dan dua orang saksi. Pada tiap-tiap syarat tersebut juga mencakup rukunnya (Hal. 111).

Ini menjadi hal mutlak yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh calon suami yang ingin melamar seorang perempuan. Tanpa rukun yang benar yang telah ditetapkan oleh syariat Islam, maka hukum nikahnya tidak sah. Maka dari itu, memahami dan belajar tentang perihal pernikahan sangat penting. Karena tidak semua orang akan paham mengenai tatacara pernikahan yang benar dan bisa mengantarkan pada keberkahan serta keharmonisan hidup.

Baca Juga  Insya Allah Kita akan Bisa Melewati Ujian - Ujian Itu

Maka dari itulah, sebuah rukun yang sudah ditetapkan oleh syari’at harus benar-benar dihadirkan ketika akan melakukan akad nikah. Itu tak lain bertujuan demi kenyamanan dan kelancaran serta kelegalan pernikahan yang akan dilaksanakan. Pernikahan bisa batal jika salah satu rukunnya tidak dipenuhi. Misalkan pernikahan tanpa wali, pernikahan tanpa saksi, atau pernikahan yang salah satu syaratnya tidak dipenuhi. Begitu pula sebaliknya, pernikahan akan sah jika rukun dan syarat-syaratnya disempurnakan (Hal. 181-182).

 

Buku terjemahan ini merupakan alternatif untuk memahami perihal pernikahan bagi mereka yang tidak bisa membaca aksara Arab. Bagian-bagian di dalamnya dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami menyajikan berbagai ulasan yang berkaitan dengan akad nikah. Misalkan pengertian nikah dan hukum-hukumnya, rukun, syarat, dan sunnahnya, serta beberapa hal yang perlu dipahami terkait dengan perihal akad nikah.

Tujuannya tak lain ingin memberikan pandangan yang luas mengenai nikah dan persoalan yang ada kaitan dengannya. Karena sejatinya sebagian orang memandang nikah sangat sulit, padahal sangat mudah jika memahami secara benar hukum-hukumnya. Selamat membaca dan mengamalkannya
Kita simpulkan lebih ringkas, bahwa kata pernikahan berasal dari bahasa arab, yakni an-nikah. Secara bahasa, kata nikah memiliki dua makna. Pertama, nikah berarti jimak, atau hubungan seksual. Selain itu, nikah juga bisa bermakna akad, yaitu ikatan atau kesepakatan.

Adapun secara istilah, definisi nikah berbeda-beda menurut ulama fikih dari empat mazhab. Dalam buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Pernikahan (2019), karya Ahmad Sarwat, terdapat penjelasan soal definisi nikah menurut empat mazhab fikih (hlm 4-5). Keempat definisi itu ialah:

  • Mazhab Hanafi: Nikah adalah akad yang berarti mendapatkan hak milik untuk melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang tidak ada halangan untuk dinikahi secara syari.
  • Mazhab Maliki: Nikah adalah sebuah akad yang menghalalkan hubungan seksual dengan perempuan yang bukan mahram, bukan majusi, bukan budak, dan ahli kitab, dengan sighah.
  • Mazhab Syafii: Nikah adalah akad yang mencakup pembolehan melakukan hubungan seksual dengan lafaz nikah, tazwij atau lafaz yang maknanya sepadan
  • Mazhab Hambali: Nikah adalah akad perkawinan atau akad yang diakui di dalamnya lafaz nikah, tazwij dan lafaz yang punya makna sepadan.
Baca Juga  Mengambil Harta Suami Tanpa Izin, Bolehkah?

Karena mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti Mazhab Syafii, penjelasan berikut mengenai hukum pernikahan akan merujuk pada pendapat ulama fikif dari mazhab ini.

Sebagaimana dilansir laman NUOnline, Sa‘id Mushtafa Al-Khin dan Musthafa al-Bugha, dalam kitab Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i (Juz IV, hlm. 17) menjelaskan:

“Nikah memiliki hukum yang berbeda-beda, tidak hanya satu. Hal ini mengikuti kondisi seseorang [secara kasuistik].”

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa, secara syariat, hukum nikah bisa berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing orang. Berdasar penjelasan Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha dalam kitab Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i, hukum nikah adalah sebagai berikut:

1. Sunah

Nikah sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, hukum asal nikah adalah sunah bagi seseorang yang memang sudah mampu untuk melaksanakannya.

Hal ini sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (nomor 4779), yang artinya berikut ini: “Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu, maka menikahlah. Sungguh menikah itu lebih menenteramkan mata dan kelamin. Bagi yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa bisa menjadi tameng baginya.”

2. Sunah Ditinggalkan

Nikah juga bisa dianjurkan atau disunahkan untuk tidak dilakukan. Hukum tersebut berlaku bagi orang yang ingin menikah, namun tidak memiliki kelebihan harta untuk biaya menikah sekaligus menafkahi istri. Dalam kondisi seperti ini, orang tersebut sebaiknya mencari nafkah, beribadah dan berpuasa sambil berdoa Allah SWT segera mencukupi kemampuannya untuk menikah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat An-Nur ayat 33, yang artinya: “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”

3. Makruh

Nikah pun bisa dihukumi makruh. Hukum ini berlaku bagi orang yang memang tidak menginginkan untuk menikah, karena faktor perwatakannya ataupun penyakit. Seseorang itu juga tidak memiliki kemampuan untuk menafkahi istri dan keluarganya. Jadi, apabila dipaksakan menikah, orang itu dikhawatirkan tidak bisa memenuhi hak dan kewajibannya dalam pernikahan.

Sumber Buku: Fikih Munakahat Kajian Fiqih Pernikahan dalam Perspektif Madzhab Syafi’i Penulis: Prof. Dr. Muhammad Zuhaily Penerjemah: Mohammad Kholison, M.Pd.I 

Editor: Bangun Lubis

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close