FIKIHMUAMALAH

Memahami Israj Mikraj Membutuhkan Iman yang Kuat dan Cerdas

Dimulai dari Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina

Artinya: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi di sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Q.S. Al-Isra: 1).

SATUJALAN NETWORK – Berkaitan dengan Isra dan Mi’raj, para ulama bersepakat mempercayai dan mayikini kenyataan itu dengan Iman.

Ustadz H. Ghozali Al Buchori pada Kajian rutin di Musholla An Nur Citra Damai 2 Palembang Sabtu Malam ( 13/03- 2021) menguatkan pendapat tersebut bahwa Imanlah yang dapat memaknai kebenaran Israj Mikraj Rasulullahi Shollollohu Alaihi Wasallam.

Kajian Mushalla An Nur
Dalam berbagai analisa sesungguhnya, dijelaskan secara terang benderang, mengurai bahwa para mufasir Al-Qur’an kenamaan, Thabrani (awal abad ke-10), berpendapat bahwa perjalanan Nabi itu benar-benar terjadi secara jasmani, karena mereka lebih harfiyah, dan dalam Al-Qur’an sebagaimana ditekankan oleh Thabrani dengan jelas mengatakan “Allah telah memperjalankan hambaNya pada malam hari” dan “bukan jiwa hambaNya”.

Dan tidak mustahil ketika kejadian Isra Mi’raj ini banyak ditentang oleh kaum rasionalis dan mereka berdalih “mana mungkin seseorang mampu berjalan melebihi kecepatan sinar”.

Ustadz Ghozali menguraikan, bahwa Israj Mi’raj juga memiliki makna penting dalam ruang imajinasi umat Islam. Iman adalah utama dalam mempercayai dan memaknai ini.

Makna penting itu jika diurai tentu akan memanjang. Israj Mi’raj, bisa dimaknai dari sudut pergolakan dakwah Nabi, kebenaran doktrin Islam, perjumpaan dengan para Nabi dan lain sebagainya.

 

Dalam Al-Quran juga telah diterangkan kisah perjalanan Isra melalui QS Al Isra: 1. Sedangkan perjalanan Mi’raj, ada pada QS An-Najm: 1-18. Lantas, apa saja yang perlu dimaknai serta diambil hikmahnya dari perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW?

Berikut penjelasannya.

1. Bukti Allah Menyayangi Hambanya

Terjadinya Isra dan Mi’raj berlangsung pada tahun kesedihan bagi Rasullulah, yaitu ketika dirinya baru saja ditinggal oleh orang terdekatnya. Saat itu juga, Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi Muhammad melakukan perjalanan mulia nya sebagai bentuk penghiburan dari Allah.

Baca Juga  Miskin dalam Pandangan Ulama Fikih dan Tafsir

Pertama dimulai dari Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian diangkat ke Sidratul Muntaha menggendarai Buraq dengan kecepatan tidak tertanding

Tapi yang jelas, kisah-kisah serupa itu mengarahkan pengetahuan dan kesadaran umat beragama akan narasi besar yang memperkukuh dinamika umat untuk menyaksikan kehadiran Yang Mutlak (Allah). Ini penting, setidaknya demi membendung tergelincirnya sejarah ketuhanan dan Agama dari sekadar sejarah dunia yang biasa dan profan.

Disamping itu pula, mirajnya seorang mukmin bukanlah sebuah upaya pendakian spiritual untuk berpaling dari tanggung jawab kemanusiaan, melainkan justru agar terjalin kontak antara kehendak suci di langit dan orientasi manusia di bumi.

Shalat dan dzikir bisa dilihat sebagai institusi iman dimana sebuah keyakinan dan orientasi keilahian diterjemahkan dikaitkan dengan orientasi praksis untuk menciptakan salam (perdamaian) diantara sesama manusia.

Ketika Nabi berada pada ujian yang luar biasa, Allah memberikan kepadanya peristiwa yang menunjukkan orang yang beriman sangat disayangi oleh Allah.”

2. Keimanan Meningkat Setelah Cobaan

Cobaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebelum Isra dan Mi’raj merupakan ujian untuk meningkatkan keimanan, yaitu dengan kepergian orang terdekatnya.

Allah pun menjanjikan umatnya yang dapat melewati cobaan dengan baik serta berpegang teguh pada syariat Islam, maka dirinya akan memperoleh nikmat besar dari Allah SWT.

“Siapa yang berhasil melewati ujian kehidupan, Allah akan membuat peringkat imannya semakin kuat. Kualitas keimanan akan naik serta mendapatkan ketentraman dan karunia dari Allah,” tutur Wahyul.

Dengan begitu dapat disimpulkan, bahwa cobaan sebesar apapun yang diberikan Allah kepada umatnya merupakan tanda cinta untuk mendongkrak kadar keimanan.

3. Memperbaiki Kualitas Salat

Baca Juga  Islam Harus Bangun, Tak Boleh Terlena

Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW juga menerima perintah salat dari Allah yaitu 50 kali dalam sehari, namun setelah diberi keringanan jadilah lima waktu sehari.

Dalam peristiwa ini di samping Nabi melihat tentang kebesaran-kebesaran Allah, juga diperlihatkannya surga beserta panoramanya dan peristiwa-peristiwa yang lain yang menakjubkan.

Berbagai fenomena yang ditemui oleh Nabi saat melakukan wisata religius begitu banyak yang amat mengerikan, seperti bibir dan lidah yang terus tergunting yang mencerminkan hukuman bagi orang-orang yang selalu menyebarkan fitnah. Wajah dan dada yang terus tercakar sebagai gambaran bagi mereka yang suka menindas.

Ada makna dan hikmah Isra Mi’raj dari perintah salat ini, yaitu mengajak umatnya untuk memperbaiki kualitas salat sekaligus menjadi bakal memperbaiki hubungan dengan Allah.

“Salat lima waktu untuk menyambungkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Akan sangat rugi apabila meninggalkannya. Karena salat lima waktu bukan beban, melainkan karunia,” ucap Wahyul.

4. Terjadi di Malam Hari

Peristiwa perjalanan Isra Mi’raj terjadi di malam hari seperti dalam arti QS Al Isra:  Alasan yang membuat Allah memilih perjalanan malam itu, karena semua orang sedang terlelap.

Perjalanan malam merupakan waktu sangat sepi dan di sinilah perlu dimaknai, bahwa Allah sangat ingin melihat hambanya yang benar-benar beriman. Malam hari juga disebut sebagai waktu paling mustajab untuk berdoa serta mendekatkan diri kepada Allah dibandingkan dengan waktu lainnya.

5. Mempercayai Kekuasaan Allah

Isra dan Mi’raj mengajarkan bahwa Allah Maha Kuasa, karena perjalanan Nabi Muhammad tersebut seolah tak masuk akal apabila dilakukan hanya satu malam.

Menurut Ustadz Ghozali untuk mempercayai kuasanya memang memerlukan kacamata keimanan. Selain itu, kejadian dahsyat tersebut mempunyai makna dan hikmah Isra Mi’raj, bahwa mukjizat itu nyata dan hanya milik Allah semata.

Penulis & Editor: Bangun Lubis

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close