NASIHAT

Meneladani Akhlak Umar bin Khttab

Umar menyatakan keinginannya untuk juga menunaikan shalat subuh yang belum dia kerjakan.

Oleh Aminuddin
Jurnalis

SATUJALAN NETWORK – ADA kisah menarik dan mengharukan tentang Umar Ibnul Khattab ra.

Pagi itu, 26 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah atau tahun 644 dalam kalender Masehi, ada 6 luka tusukan pisau di tubuh Umar bin Khattab.
Tiga di bagian punggung, tiga lagi di perut.

Adalah Abu Lukluk (Fairuz), seorang pemuda Persia bekas tawanan perang yang menusuk sang Khalifah saat menjadi imam shalat subuh di Masjid Nabawi, Madinah pagi itu.

Umar pun minta salah satu sahabat, Abdul Rahman bin Auf untuk menjadi imam shalat shubuh menggantikan dirinya. Sementara Umar terbaring bersimbah darah.

Abdul Rahman bin Auf sengaja memperpendek bacaan surat dalam shalat subuh agar bisa segera memberi pertolongan kepada Umar.
Maka setelah selesai shalat, Abdul Rahman bin Auf, Ibnu Abbas, dan Umar bin Maimun beserta sejumlah sahabat mendatangi Umar bin Khattab untuk memberi pertolongan.

Namun, justru Umar lebih dulu yang menyapa para sahabat tersebut.
“Apakah engkau telah selesai shalat,” tanya Umar kepada Abdurrahman bin Auf dan para sahabat.

Kepada Umar bin Khattab, Abdul Rahman bin Auf mengatakan bahwa shalat subuh sudah selesai dilaksanakan.
Mendengar jawaban tersebut, Umar menyatakan keinginannya untuk juga menunaikan shalat subuh yang belum dia kerjakan.

“Wahai Amirul Mukminin, engkau sedang mengalami luka parah,” kata Abdul Rahman bin Auf.

Umar tetap pada keinginannya, yakni mengerjakan shalat subuh meski dalam keadaan terluka parah dengan 6 tusukan pisau.

Menurut Umar, bagi seorang muslim laki-laki tidak ada halangan untuk mengerjakan shalat. Bahkan bagi yang meninggalkan shalat de ngan sengaja bukan termasuk umat Islam.
“Tidak ada halangan bagi laki-laki untuk mendirikan shalat. Sesungguhnya tidak Islam mereka yang meninggalkan shalat,” begitu kata Umar bin Khattab.

Maka sang Amirul Mukminin itu pun meminta kepada para sahabat agar membalut lukanya dengan kain agar darah berhenti mengucur.
Setelah itu, dengan dipapah para sahabat, Umar mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat subuh.
Selesai shalat subuh, Umar diantar ke rumahnya.

Sejumlah sahabat memanggilkan tabib untuk mengobati Umar. Namun luka pria yang dijuluki Singa Padang Pasir itu sudah terlanjur parah.
Beberapa kali tabib berusaha memberikan minum juz kurma untuk mengobati luka Umar.

Baca Juga  Teruslah Berdakwah, Sabar dan Jangan Berhenti

Namun air minum itu justru keluar lagi dari luka Umar.
Dan pada hari Ahad, 27 Djulhijjah tahun ke 23 Hijriah, Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sebelum wafat dia mengutus putranya untuk menemui Aisyah, istri Rasulullah SAW.

Umar meminta izin agar bisa dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash Shiddiq.
Aisyah mengizinkan Umar bin Khattab dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW dan sahabatnya.

Surah Yusuf
Dalam shalat-shalat Subuhnya Umar ra selalu membaca surat-surat Al-Quran yang panjang. Ketika sampai ayat yang terjemahannya ber bunyi :
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

Ia pun menangis terisak-isak hingga suaranya tidak bisa terdengar oleh makmumnya.
Demikian pula dalam shalat tahajudnya. Umar sering membaca ayat suci Al-Quran sambil terisak-isak.
Sampai Umar terjatuh dan sakit.
Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah.

Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.
Beliau dibesarkan di lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Khalifah kedua di dalam Islam setelah Abu Bakar.

Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib.
Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah SAW selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Khatamah binti Hasyim bin al Mughirah al-Makhzumiyah.

Rasulullah SAW memberi beliau kunyah Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua dan memberi laqab (julukan) al-Faruq.
Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaqlid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri.

Baca Juga  Doa Akan Merubah Takdirmu

Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 keNabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.
Umar bin Khattab Ra memang terkenal berakhlak mulia. Tiga di antaranya adalah sebagai berikut :
a) Pemberani

Sejak sebelum masuk Islam, sifat pemberani telah dimiliki Umar bin Khattab. Perbedaannya, jika sebelum masuk Islam keberanian Umar digunakan untuk memusuhi Islam, namun setelah masuk Islam keberanian tersebut untuk melindungi Islam.

Keberanian Umar nampak ketika dia akan berhijrah. Dia menantang kaum kafir Quraisy yang menghalangi perjalanan hijrahnya maka dia tidak segan-segan untuk membunuhnya.

b) Adil

Untuk menemukan seorang pemimpin yang adil sangat sulit. Apalagi pemimpin yang selalu mengu tamakan kepentingan rakyat seperti Umar bin Khattab, tidaklah mudah.

Suatu malam Umar bin Khattab berjalan-jalan sen dirian untuk melihat kondisi rakyatnya. Sampai di sebuah rumah dia mendengar anak kecil terus-terusan menangis.

Setelah tangis anak itu berhenti, Umar bin Khattab mengetuk pintu rumah tersebut. Dia bertanya pada seorang perempuan yang membukakan pintu mengenai alasan anak tersebut menangis.
Kata perempuan tadi anaknya menangis karena kelaparan.

Umar melihat ada api di dapur dan di atasnya terdapat panci. Ketika dibuka Umar isi panci tersebut adalah batu. Ternyata ibu tadi ingin menentramkan hati anaknya agar anaknya mengira sebentar lagi makanan akan masak.

Melihat kejadian itu, Umar meneteskan air mata dan merasa berdosa karena menganggap dirinya tidak dapat menjadi pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyatnya.

Dia kemudian bergegas pergi ke baitul mal untuk mengambil sekarung gandum dan dipanggulnya sendiri untuk diberikan kepada keluarga tadi.

c) Sederhana

Umar bin Khattab adalah sahabat yang terkenal dengan kesederhanaannya. Meskipun menjadi seorang khalifah namun dia tidak memiliki pengawal.

Kesederhanaannya juga terlihat dari caranya berpakaian. Pakaian yang dimiliki Umar bin Khattab hanya dua potong. Ketika pakaian itu sobek Umar pun tidak malu untuk menjahitnya sendiri dan memakainya kembali.

Wallahu a’lam bishshawab

Sumber literasi
Detik.com
Kisah-kisah Teladan Tentang Nabi, Sahabat, Tabi’in, Karomah dan Humor Sufi karya MB Rahimsyah
Bacaanmadani.com

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close
Close