MUSLIMAH

Sayangilah Ibumu Sepenuh Hati

Oleh Aminuddin
Jurnalis

Wahai saudaraku …

Ketika kita lapar, tangan ibu yang menyuapi. Ketika kita haus, tangan Ibu yang memberi minuman.

Ketika kita menangis, tangan ibu yang mengusap air mata.
Ketika kita gembira, tangan ibu yang menadah syukur, memeluk kita erat dengan deraian air mata bahagia.
Ketika kita mandi, tangan ibu yang meratakan air ke seluruh badan, membersihkan segala kotoran.

Ketika kita dilanda masalah,tangan ibu yang membelai duka sambil berkata, “Sabar nak, sabar ya sayang.”

NAMUN …
Ketika ibu sudah tua dan kelaparan, tiada tangan dari anak yang menyuapi.
Dengan tangan yang gemetar, ibu menyuapkan sendiri makanan ke mulutnya dengan linangan air mata

Ketika ibu sakit, dimana tangan anak
yang ibu harapkan dapat merawat ibu yang sedang sakit?

Ketika nyawa ibu terpisah dari jasad.
Ketika jenazah ibu hendak dimandikan,
dimana tangan anak yang ibu harapkan
untuk menyirami jenazah ibu untuk
terakhir kali.

Wahai saudaraku …
BAnyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari seorang anak dengan tanpa malu melab rak ibunya sendiri. Memaki dan bahkan tega mengusir perempuan yang telah melahirkan nya dengan susah payah.

Padahal, wahai saudaraku …
Ibu adalah sosok yang paling berjasa dalam hidup kita Menjadi seorang ibu bukan hanya ketika seorang anak sudah lahir melainkan ketika masih di dalam kandungan.

Selama sembilan bulan kita berada di rahim ibu, tumbuh dari sesuatu yang kecil hingga menjadi bayi dalam perut yang begitu merepotkan ibu.
Beliau rela menahan sakit pinggang, susahnya tidur pulas, hingga mempertaruhkan nyawa ketika kita dilahirkan.

Rasanya, tidak ada kata dan perbuatan sebesar apa pun yang mampu membayar lunas perjuangan seorang ibu.
Begitu besar utang budi kita terhadap ibu, maka wajib hukumnya bagi kita untuk berbakti kepadanya. Tidak boleh menyakiti ibu bahkan meski hanya sekadar menolak perintah ibu dengan kata “ah”.

Rasulullah saw dalam berbagai hadis selalu menyuruh kita agar berbakti kepada ibu. Seperti yang diriwayatkan oleh Ab u Hurairah berikut ini:
Suatu ketika salah seorang sahabat bertanya pada Nabi Muhammad saw tentang kepada siapa saja dia harus berbakti. Sahabat itu berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”

Baca Juga  Maumunah binti Harist, Perempuan Terakhir Dinikahi Nabi

Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Lalu orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?”

Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?”

Beliau kembali menjawab, “Ibumu.”
Kemudian orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?”
Nabi saw menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Al Bukhari)

Kata “ibu” yang disebutkan sebanyak tiga kali dalam hadis di atas adalah bukti bahwa seorang anak wajib hukumnya berbakti kepada ibu.

Sementara dalam hadis lainnya dikatakan, “Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat.” (HR. Ibnu Majah, sahih dengan syawahidnya).

Dalam riwayat lain disebutkan ada seorang sahabat Nabi SAW yang sangat memuliakan ibunya tetapi sahabat itu belum pernah sekalipun berjumpa dengan Nabi. Sahabat yang dimaksud adalah Uwais Al-Qarni yang dijamin surganya Allah SWT.

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais Al-Qarni, ia memiliki seorang ibu dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian.” (HR. Muslim)
Begitulah pesan Rasulullah saw kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib yang menjadi bukti bahwa dengan memuliakan seorang ibu, maka tidak ada yang dapat menghalangi terkabulnya suatu doa sebagaimana yang dilakukan Uwais Al-Qarni.

Wahai saudaraku ..
Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Minhajul Islam menyebut setidaknya ada empat cara berbakti kepada orang tua yang masih hidup, yakni:

Menaati keduanya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya dalam hal perbuatan yang bukan termasuk maksiat kepada Allah:

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (QS. Luqman: 15).

Baca Juga  Wanita Muslimah Adalah Mutiara

Menghormati dan mengagungkan keduanya, merendahkan diri kepadanya, memuliakannya dengan perkataan atau perbuatan hingga memanggil keduanya dengan namanya tapi dengan sebutan ayah dan ibu.

Berbakti kepada keduanya dengan memberikan makanan dan pakaian, mengobati penyakit hingga menghindari gangguan yang mengusik keduanya.
Bersilaturahim dengan kerabat orang tua, mendoakan dan memohonkan ampunan bagi kerabat-kerabatnya.

Adapun bagi orang tua yang telah meninggal dunia, kita bisa berbakti dengan melakukan anjuran Nabi Muhammad SAW seperti yang disebut dalam hadist riwayat Abu Daud.

Dalam hadis tersebut seorang pemuda Anshar bertanya tentang cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal. Nabi lalu bersabda yang artinya:

“Ada empat hal yang bisa kamu lakukan, mendoakan keduanya agar memperoleh rahmat, memohon ampunan untuk keduanya, menunaikan haji untuk keduanya, memuliakan tamu keduanya, serta menyambung tali silaturahim kepada orang yang belum pernah bersilaturahim denganmu kecuali melalui keduanya. Itulah kesempatan bagimu yang bisa kamu lakukan untuk berbakti kepada keduanya setelah keduanya meninggal.”

Sementara doa yang bisa dibaca untuk orang tua bisa kita ambil dari banyak ayat dalam Alquran:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Latin: “Rabbanaghfirlanaa wa li ikhwanina alladzina sabaqunaa bil iiman, wa laa taj’al fii quluubina gillallilladziina aamanuu rabbana innaka rouufurrohiim,”
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hasyr: 10).

Atau juga seperti firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 24:
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Latin: “Rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira,”
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber literasi :
detikNews.com
Akurat.co
Kompasiana
Ihram.co.id

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close