TAFSIRIYAH

Ramadhan Bulan Latihan Untuk ‘Berpuasa’ Sepanjang Tahun

Berpuasa sebenarnya tidak cukup dengan hanya menahan lapar dan dahaga. Tetapi berpuasa hendaklah mengambil makna dari semua sifat kemanusiaan seseorang.

SATUJALAN NETWORK – Bila mereka yang beriman diwajibkan berpuasa sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran;”  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS, Al Baqarah (2):183).

Maka yang dimaksud adalah seluruh aktivitas yang membatalkan. Baik itu dari berbicara, mendengar maupun melihat yang tidak baik. Termasuk mempuasakan jiwa dari buruksangka dan ketidakbaikan yang ada pada relungjiwa seseorang.

Pada dasarnya, setiap manusia dihadapkan pada puasa yang sejatinya, dilakukan selama 12 bulan berturut-turut tanpa henti sepanjang manusia hidup. Idealnya puasa tersebut disetting menjadi prinsip dan pola hidup dalam pergaluan dan kehidupan bermasyarakat.

Ustadz H. Reza Esfan, pada Kajian rutin Ahad di Masjid Al Furqon Jl. R. Soekamto, Palembang mengurai seluruh arti dan makna puasa yang sesungguhnya.  Misalnya mulut.  Mulut hendaklah bicara yang tidak membuat sakit hati orang lain, tidak bicara yang mencelakai orang lain.

Tidak berucap yang membuat keresahan dan kegelisahan. Sebaliknya, manfaatkan mulut bertutur kata yang menentramkan perasaan sesama. Menghibur bagi yang sedang tertimpa kesusahan. Berbicara yang bersifat konstruktif dan membangun. Bacalah ayat-ayat Allah dan hadist. Berzikirlah selalu dalam setiap detikmu.

Lalu puasa berpikir, tidak berprasangka buruk, tidak (negative thinking), tidak picik akal, tidak membuat rencana buruk, destruktif, propokatif.  Sebaliknya, bukalah pikiran seluas-luasnya, tidak hanya mengandalkan konsep berfikir sebagai senjata utama mengupas permasalahan, jadikan pikiraan yang mampu menerima sinyal-sinyal dari batin agar pikiran menjadi lebih cermat dan teliti. Mulailah membaca sesuatu berangkat dari pikiran yang netral dan prasangka baik.

Baca Juga  Ayat Kursi Juga Disebut Ayat Keagungan

Puasa badani atau jasmani ; tidak mengumbar nafsu makan, tidak mengutamakan kenikmatan ragawi, tidak bertingkah provokatif ; mencelakai orang lain, menyinggung perasaan orang, tidak berulah atau bersikap menganggu ketentraman dan kebahagiaan sesama. Makan pada saat rasa lapar telah tiba, berhenti sebelum kenyang. Namun lebih baik makan seadanya atau tidak mengada-ada atau memaksa mengadakan.

Ibadah puasa di bulan Ramadhan sesungguhnya adalah suatu proses pendidikan  terhadap seseorang yang beriman agar menjadi orang yang bertakwa.” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS  Al Baqarah (2):183)

Menjadi orang bertakwa artinya kondisi dimana seseorang mempunyai kesadaran yang tinggi akan keberadaan Allah SWT. Jika seseorang bisa meraih derajat takwa maka akan timbul di dalam benak orang tersebut rasa takut, cinta dan juga harapan terhadap Allah SWT. Tentunya, kondisi takwa ini akan menjaga seseorang dari perbuatan perbuatan dosa.

Reformasi diri untuk menjadi orang yang bertakwa akan terjadi manakala ibadah puasa dijalankan dengan totalitas dari dimensi fisik dan juga spiritual. Dan tak hanya sepanjang ramadhan melainkan juga selamanya setiah hari dan waktu maupun tahun.

Di dalam suatu riwayat disabdakan, Rasulullah SAW mengatakan kepada Aisyah RA, “Gigihlah dalam mengetuk pintu surga.” Kemudian Aisyah RA bertanya kepada nabi, dengan apakah aku mengetuk pintu surga? Rasulullah SAW menjawab, “Dengan rasa lapar.”

Baca Juga  Surga dan Kenikmatannya

Begitu juga halnya dengan tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh kita yang lain. Intisari dari tingkatan berpuasa yang yang pada tingkatan tersebut adalah gunakanlah potensi jasmani kita untuk beribadah dan beramal shalih. Latihlah jasmani untuk menghindari keterlibatan dengan hal-hal yang buruk.

Dari riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya puasa itu adalah perlindungan. Ketika kamu berpuasa janganlah berkata yang tidak pantas atau melakukan tindakan yang tidak layak. Jika ada seseorang yang bersengketa atau berargumen denganmu, katakan kepadanya, ‘Saya sedang berpuasa, sungguh saya sedang berpuasa.’”

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS 49:13). Taqwa yang dimaksud tidak hanya berlangsung hanya pada bulan ramadahn saja , melainkan seluruh bulan dan seluruh waktu hanya mengingat Allah dan perintahnya.

Jika demikian maka ini sebagai suatu pendekatan yang sangat komprehensif dari dimensi fisik dan spiritual. Agar seseorang bisa meraih derajat takwa. Maka dari itu, di bulan yang ramadhan lalu hendaknya dijadikan bulan pendidikan untuk kemudian berpuasa dari seluruh aktivitas yang tidak baik hingga sepanjang tahun.” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.(QS 3:133).(*)

Penulis/Editor: Bangun Lubis

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close