SIRAH

Rasulullah, Sekalipun Dijahati Membalas dengan Kebaikan

 Oleh: Bangun Lubis

SATUJALAN NETWORK – Bukan hanya engkau wahai para sahabat yang dihina, dibenci dicaci maki bahkan diancam dan dilukai oleh musuhmu, Rasulullah juga menghadapi ejekan, cercaan, hinaan dan perbuatan keji dari musuh Islam. Tetapi Rasul adalah orang yang tabah, sabar, sehingga ia selalu lolos dan berhasil dari segala bentuk ancaman.

Sekalipun Rasulullah adalah seorang hamba yang sangat dicintai Allah SWT. Ia sangat dimanjakan Allah. Namun Rasulullah tetap saja berjuang dan kerja keras untuk bisa lolos dari ancaman, kepungan dan segala bentuk kekejaman dan masalah yang datang silih berganti. Dalam hatinya Islam harus ditegakkan.

Ada satu kisah yang ditulis dalam buku Kisah Rasulullah dan Sahabat, diceritakan, pada suatu saat, tiap kali Rasulullah membuka pintu rumah pada pagi hari untuk pergi menjalankan shalat Subuh ke masjid, Rasul selalu menemui tumpukan kotoran di dambang pintu. Nabi tidak hanya melihatnya saja lalu meninggalkannya. Tetapi, Dia ambil air dan disiramnya kotoran itu hingga tangga rumahnya pun bersih.

 

Dibalas dengan Kebaikan

Besoknya, pagi-pagi sekali, kondisi yang sama juga terjadi. Malah lebih banyak lagi. Itu berulang-ulang terjadi. Namun Nabi tidak mengeluh. Dengan sabar beliu bersihkan sendiri tempat bernajis itu setiap hari, sampai akhirnya orang jahat yang melakukan perbuatan keji itu merasa bosan sendiri dan menghentikan tindakannya.

Peristiwa yang tragis lagi, selepas kejadian itu, mendapat perlakuan yang berbeda. Setiap beliau lewat sebuah rumah berloteng ketika menuju mesjid, ada saja orang jahat yang membuang najis tepat mengenai kepala Nabi SAW.  Begitu yang beliau alami setiap hari. Namun Nabi tidak marah. Bahkan tatkala beberapa hari sesudah itu tidak ada air najis yang ditumpahkan ke kepalanya dari jendela loteng itu, Nabi bertanya kepada para sahabat.

Baca Juga  Nabi Idris,Penulis Pertama Sejarah dan Peradaban Manusia

“Ke mana orang yang tinggal di loteng atas itu?”  “Ada apa ya Rasulullah?” tanya para sahbat, penuh keheranan.  “Tiap hari biasanya ia selalu memberikan sesuatu kepadaku. Hari ini tidak. Jadi aku bingung keadaannya.”  “Kebimbanganmu tidak keliru, ya Rasulullah. Orang itu sedang sakit keras dan tidak keluar dari kamarnya.”
Maka Nabi SAW menyuruh istrinya menyiapkan makanan untuk sisakit agar beliau bawa sendiri ke rumah orang jahat itu, sambil menengok keadaan sakitnya dan mendoakan agar cepat sembuh.  Orang itu sangat terperanjat menerima kedatangan Rasulullah dengan membawa makanan yang lezat-lezat, padahal setiap hari ia memberikan air najis kepadanya. Orang itu pun amat malu dan menangis sembari meminta maaf.
Dengan lapang dada Rasulullah memberi maaf, sehingga orang itu kemudian menjadi sahabat setia, setelah dia juga masuk ke agama Islam. Ia merasa kagum dengan ketabahan dan kesalehan Nabi yang terus memaafkannya.

 

Abu Jahal

Bahkan suatu  ketika  paman Nabi, Abu Jahal mengirim utusan yang mengatakan bahwa ia tengah menderita demam hebat, dan ingin ditengok oleh Rasulullah SAW. Sebagai kemenakan yang berbakti, Rasulullah segera bergegas hendak berangkat menuju rumah Abu Jahal.
Pemimpin orang musyrik itu sebetulnya tidak sakit. Ia telah menyiapkan lubang di depan pembaringannya yang di atasnya ditutup dengan permadani, sedangkan di dalam lubang itu telah dipasanginya beberapa tonggak yang runcing-runcing. Maksudnya untuk menjerumuskan Nabi SAW ke dalamnya.
Nabi kedengaran mulai melangkah masuk ke dalam kamar Abu Jahal. Tokoh busuk itu cepat-cepat menutupi badannya dengan selimut sambil pura-pura merintih. Namun dalam pendengaran Rasulullah, rintihan Abu Jahal itu tidak wajar dan berlebih-lebihan, tidak sesuai dengan wajahnya yang tetap cerah dan kemerahan.

Baca Juga  Lebih Baik Diam, Atau Berkatalah yang  Baik-Baik Saja

Maka Nabi pun tahu, pasti Abu Jahal sedang menyiapkan jebakan untuknya. Karena itu, begitu beliau hampir menginjak permadani yang di bawahnya menganga sebuah lubang berisi tonggak-tonggak runcing, beliau segera permisi lagi dan keluar tanpa sepatah kata pun.

Abu Jahal terkejut. Ia bangun dan memanggil-manggil Nabi agar datang mendekat kepadanya. Karena Nabi tidak menggubris, Abu Jahal lalu bangkit dan melompak ke permadani hendak mengejar Nabi. Ia lupa akan perangkap yang dibuatnya sendiri. Akibatnya ia terjerumus sendiri ke dalam lubang itu dan menderita luka-luka yang cukup parah.

Akhirnya terpenuhi juga keinginan Abu Jahal ingin ditengok Rasulullah. Sebab setelah terperosok ke lubang itu ia betul-betul sakit. Nabi pun datang membawakan makanan-makanan lezat yang diterima Abu Jahal dengan muka kecut merasa malu. Begitulah teladan Rasulullah dalam menghadapi orang-orang yang jahat dan ingin mencelakakannya.(*)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button