ADABMUAMALAH

Jangan Sia-siakan Mereka

Oleh: Aminuddin
Jurnalis Indonesia

“Islam memandang anak adalah amanat yang diberikan Allah SWT kepada orang tua. Ia hadir tanpa diminta, ia memiliki dunia tersendiri. Ia adalah generasi penentu masa depan..Begitu agung Islam menempatkan anak sebagai calon khalifah pemakmur bumi.” (Imam Al-Ghazali).

_________

WAHAI para orangtua …

Jangan sia-siakan anakmu. Perlakukan lah mereka dengan baik. Mereka adalah masa depanmu. Mereka adalah harapan terbaikmu saat kau sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Perlakuanmu terhadap mereka akan se laku terkenang dan dikenang selama hi dup. Tidak akan bisa terlupakan dan di lupakan

Akan selalu mereka ingat.

Momen apa saja misalnya?

1. Merasa aman atau sebaliknya

Setiap anak memerlukan perlindungan dan perhatian dari orang tuanya.

Namun, terkadang malah orang tualah yang justru membuat mereka terluka.

Yah, anak akan mengingat saat-saat orang tua membuatnya merasa aman, contohnya saat Moms memeluknya usai sang anak bermimpi buruk.

Namun mereka juga akan mengingat bila kita sendiri yang membuat anak kita merasa takut.

Wajar memang jika kita terkadang marah pada anak.

Namun, jangan sampai amarah akan membuat anak merasa tak nyaman saat berada di dekat kita.

Kita harus bisa membuat anak merasa aman dan nyaman kapanpun bersama kita.

2. Saat Anda memberi mereka perhatian penuh

Anak-anak mengukur cinta orangtua terutama dari perhatian terhadap mereka.

Saat Moms menghentikan pekerjaan demi bermain bersama anak, mereka akan selalu mengingat hal itu.

Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal kecil dengan anak-anak.

Bagaimana pun juga, momen bersama mereka akan men jadi hal mahal yang tak akan bisa dibeli dengan uang.

3 Cara Ibu berinteraksi dengan Ayah

Anak-anak kita menggambarkan cinta sebagian besar dari cara kita memperlakukan pasangan kita.

Jadi, jangan pernah bertengkar dengan Dads di depan anak.

Ini akan membuat mereka trauma akan pernikahan jika saatnya tiba nanti.

Beri mereka rasa aman yang datang dari melihat orang tua mereka dalam hubungan yang saling berkomitmen dan saling mencintai satu sama lain.

4. Kata-kata kasar dan kata-kata kritik

Jantung anak seperti semen basah yang akan mengeras seiring berjalannya waktu.

Mereka akan mendasarkan rasa identitas, kemampuan dan harga diri mereka atas kata-kata yang kita ucapkan kepada mereka di tahun-tahun formatif itu.

Sebagai orang tua, pekerjaan kita adalah memperbaiki dan mendisiplinkan.

Tapi, gunakanlah kata-kata penuh dengan cinta, dorongan dan penguatan positif dalam mendidik mereka.

Jangan sesekali mengucapkan kata kasar atau kritik, apalagi mengatakan bodoh, nakal, bandel, dan kata negatif lain.

5. Tradisi keluarga

Anak-anak mencintai spontanitas, tapi mereka juga memiliki kebutuhan mendalam untuk hal-hal yang bisa diramalkan.

Mereka akan ingat dan sangat menyukai “tradisi” dalam keluarga, contohnya menonton film pada malam hari saat akhir pekan atau mengunjungi tempat tertentu untuk berlibur, merayakan ulang tahun dan acara khusus atau tradisi khusus lainnya.

Jadi, ciptakanlah tradisi khusus yang membuat mereka bahagia dan lebih mengakrabkan hubungan keluarga.

Ini juga bisa diterapkan oleh mereka saat anak-anak telah memiliki keluarga sendiri.

Mendidik anak memang gampang-gampang susah, beda zaman maka beda pula cara mendidiknya.

Namun yang terpenting dari semua itu adalah sikap kita terhadap mereka yang akan selalu mereka ingat dan tanamkan dalam diri mereka.

Kedudukan Anak

Duhai para orangtua …

Dalam Al-Quran, Allah SWT mengklasifikasikan kedudukan anak menjadi empat golongan, yaitu :

1. Musuh

Hal ini Allah jelaskan dalam surat At-Taghabun ayat 14 :

“Wahai orang-orang yang beriman..!! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.”

Baca Juga  Wanita - Wanita Tangguh Itu Tak Pernah Gamang Dalam Hidup

Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.

2. Fitnah atau ujian

Hal ini Allah jelaskan dalam surat At-Taghabun ayat 15 :

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anamu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.”

Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negatif.

Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya.

3. Perhiasan

Hal ini Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46 :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.

4. Penyejuk mata (qorrota a’yun)

Hal ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqan ayat 74 :

“Dan orang-orang yang berkata” Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtu anya. Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita. Apabila diperintahkan belajar, mereka sege ra mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pe kerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Pendidikan terhadap Anak

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi kita dalam segala hal, termasuk dalam pergaulan beliau dengan anak-anak.

Dalam masalah ini, kita bisa memetik enam pokok dalam pendidikan beliau terhadap akidah anak-anak :

1. Membiasakan anak mengucapkan dan mendengarkan kalimat tauhid dan memahamkan maknanya jika ia telah besar.
Wajib atas orang tua untuk menumbuhkan tauhid terhadap Allah pada anak-anaknya sedari dini. Oleh karena itu, ajarkan dan pahamkan anak bahwa Rabb mereka adalah Allah ‘Azza Wajalla, Dialah yang menciptakan, yang memberi rejeki, yang menghidupkan dan makna-makna rububiyyah Allah lainnya.

Setelah mengenal keagungan Allah dalam rububiyah-Nya, iringilah dengan mengajarkan bahwa Allah-lah yang berhak untuk disembah, diibadahi, disyukuri, diharapkan dan hanya kepada-Nya pula ditujukan segala jenis ibadah. Tak kalah pentingnya memperingatkan mereka dari syirik dan menjelaskan bahayanya pada mereka.

2. Menanamkan Kecintaan anak terhadap Allah SWT.

Dalamnya kecintaan kepada Allah SWT dan tertanamnya keimanan terhadap takdir-Nya membawa seorang anak untuk bisa menghadapi hidupnya dengan optimis dan tawakkal. Benih cinta kepada Allah SWT yang tertanam akan menumbuhkan keberanian, karena dia akan menyadari bahwa tidak ada yang pantas ditakuti kecuali kemurkaan-Nya.

Gambaran keberanian yang menakjubkan ini terlukis pada diri seorang anak kecil, hasil didikan generasi mulia, Abdullah bin Az-Zubair.

Suatu saat Abdullah dan anak-anak sebayanya berkumpul dan bermain-main di suatu jalan. Ketika melihat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhum lewat di jalan tersebut, semua anak berlarian kecuali Abdullah bin Az-Zubair.

Menyaksikan peristiwa itu, Umar merasa takjub sehingga bertanya kepada anak kecil itu, apa sebabnya ia tidak lari seperti anak-anak lainnya…?

Abdullah kecil pun menjawab, “Aku tidak bersalah sehingga aku harus lari, dan aku tidak takut pada Anda, sehingga aku harus meluaskan jalan bagi Anda.”

Baca Juga  Latihlah Kesabaran dengan Sungguh- Sungguh

Inilah sosok mungil Abdullah bin Az-Zubair, tidak ada yang ditakutkannya kecuali kemurkaan Rabbnya karena melanggar larangan atau meninggalkan perintah-Nya.

3. Menanamkan kecintaan anak pada Nabi SAW

Dalam riwayat Bukhari dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhum bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدَكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari).

Betapa pentingnya kecintaan terhadap Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sampai-sampai tidak akan sempurna iman seseorang tanpanya. Membacakan sirah Rasulullah SAW dan mengenalkan mereka akan sifat-sifat beliau yang mulia merupakan upaya terbaik untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada beliau.

4. Mengajarkan pada anak Al Quran Al Karim

Sepantasnya bagi orang tua untuk memulai pelajaran bagi putra-putrinya dengan Al Qur’an sejak dini. Yang demikian itu untuk menanamkan pada mereka bahwa Allah adalah Rabb mereka dan Al Qur’an adalah firman-Nya. Menancapkan ruh Al Quran pada hati-hati mereka dan cahaya Al Quran pada pikiran-pikiran mereka, sehingga mereka tumbuh di atas kecintaan kepada Al Qur’an.

Hati mereka menjadi terikat padanya sehingga mereka siap untuk mengikuti perintahnya dan berhenti dari larangan-larangan yang ada padanya, berakhlak dengan akhlak Al Quran dan berjalan di atas manhajnya.

Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa mengajarkan Al Quran pada anak merupakan salah satu pokok Islam agar mereka tumbuh di atas fitrahnya, dan cahaya hikmah itu lebih dahulu menancap di hati mereka sebelum menetapnya hawa nafsu, kotoran-kotoran maksiat dan kesesatan.

Para salafus shaleh biasa mengajari anak-anak mereka Al Quran sebelum mencapai usia 3 tahun, sehingga kita akan dapati pada usia yang masih belia, mereka telah menghapal Al Quran.

Sebut saja Imam Syafi’i, beliau telah hapal Al Quran pada usia 10 tahun, demikian pula Imam Nawawi rahimahumallah.

5. Mendidik anak untuk berakhlak yang baik

Islam sebagai agama yang sempurna dan relevan di setiap tempat dan zaman sangat menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana sabdanya :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Aku diutus oleh Allah tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

Akhlak merupakan tolok ukur iman seseorang. Sabda beliau :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya tentang penyebab yang paling banyak orang masuk surga. Beliau menjawab,

تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Tidak ada sesuatu yang paling berat dalam timbangan melebihi akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

6. Memilih sekolah dan lembaga pendidikan yang baik

Adanya generasi yang buruk, bukan karena kesalahan mereka semata, namun ada faktor lain yang turut menentukan hal tersebut. Selain keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, pendidikan formal pun memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak.

Akan tetapi, pendidikan formal saat ini, pada umumnya tidak mampu mendidik anak didiknya dengan baik. Contoh, sekolah / lembaga pendidikan hanya sekadar mentransfer ilmu, sedangkan pembinaan kepribadian jarang dilakukan. Belum lagi kurikulum yang diterapkan sebagian besar adalah ilmu umum, sedangkan ilmu agama sangat sedikit sekali, menyebabkan anak didik berperilaku kurang baik.

________

Sumber literasi :

1. Kompas.com
2. Jiwa Muslim

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button