MUAMALAH

Inilah Rahasia Dibalik Shalat Dhuha

 

Oleh Aminuddin
Jurnalis

ADA banyak kesempatan yang terben tang di pagi hari, khususnya jelang sia ng. Di antara kesempatan amat baik itu datang dengan menunaikan Shalat Dhuha.

Memiliki rahasia yang menakjubkan dengan bertaburkan keutamaan. Se andainya kalian tahu pasti tidak akan pernah mele watkan untuk mengerjakan Shalat Dhuha.
Di antara keutamaan itu adalah per tama, sebagai pengganti sedekah anggota badan. Manusia memiliki 360 sendi, yang setiap sendinya hendaknya dikeluarkan sedekah pada setiap harinya. Tentu, hal ini merupakan pekerjaan yang sangat sulit untuk dilaksanakan.

Akan tetapi, Rasulullah SAW menawarkan solusi praktis untuk mengatasi itu semua, yaitu dengan menggantinya dua rakaat Shalat Dhuha.

“Setiap sendi tubuh setiap orang di antara kamu harus disedekahi pada setiap harinya. Mengucapkan satu kali tasbih (Subhanallah) sama dengan satu sedekah, satu kali tahmid (Alhamdulillah) sama dengan satu sedekah, satu kali tahlil (La ilaha illallah) sama dengan satu sedekah, satu kali takbir (Allahu Akbar) sama dengan satu sedekah, satu kali menyuruh kebaikan sama dengan satu sedekah, dan satu kali mencegah kemungkaran sama dengan satu sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan melaksanakan dua rakaat Shalat Dhuha.” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Kedua, dibangunkan istana dari emas. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa Shalat Dhuha 12 rakaat, maka Allah SWT akan membangunkan baginya istana dari emas di surga.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, diampuni dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menjaga Shalat Dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Ibnu Majah).

“Barang siapa yang menunaikan Shalat Subuh kemudian ia duduk dan tidak mengucapkan perkataan yang sia-sia, melainkan berzikir pada Allah SWT hingga menunaikan Shalat Dhuha empat rakaat, maka dosa-dosanya akan terhapus bersih seperti anak yang baru dilahirkan oleh ibunya, ia tidak punya dosa.” (HR Abu Ya’la).

Keempat, dicukupi kebutuhan hidupnya.

Dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena Aku pada awal siang (Shalat Shuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)-mu sampai sore hari.” (HR Tirmidzi).

Baca Juga  Sebuah Dusta yang Besar Ketika Tidak memelihara Rasa Malu

Kelima, mendapat pahala setara ibadah haji dan umrah.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian duduk berzikir untuk Allah sampai matahari terbit kemudian (dilanjutkan dengan) mengerjakan Shalat Dhuha dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.” (HR Tirmidzi).

Dalam kitab fasholatan karya KH R Asnawi Kudus disebutkan, shalat dhuha minimal dikerjakan dua rakaat dan lebih utama delapan rakaat.

Bacaan Niat Sholat Dhuha:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Usholli sunnata duha rak’ataini lillahi ta’ala.

Artinya, “Aku menyengaja shalat Sunat Dhuha dua rakaat karena Allah SWT.

Setelah membaca Surat Al Fatihah, dianjurkan membaca Surat Al A’la di rakaat pertama dan surat Ad Dhuha di rakat kedua atau Surat Al Kafirun di rakaat pertama dan Al Ikhlas di rakaat kedua.

Selesai sholat dianjurkan untuk membaca istighfar dan tasbih. Setelah itu dilanjutkan dengan doa.

Berikut doa Shalat Dhuha:

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Allahumma innad dhuha a dhuhauka, wal baha a baha uka, wal jamala jamaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrota qudrotuka, wal ‘ismata ‘ismatuka. Allahumma in kana rizqi fis sama-i fa-anzilhu, wa in kana fil ardhi fa akhrijhu, wa in kana mu’assaron fa yassirhu, wa in kana haroman fathohhirhu, wa in kana ba’idan faqorribhu, bihaqqi dhuha-ika, wa baha-ika, wa jamalika, wa quwwatika, wa qudrotika, aatini ma atayta ‘ibadakas sholihin”.

Artinya: “Ya Allah, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah. Jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sukar atau dipersulit (kudapat), mudahkanlah. Jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah dengan hak duha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh”.

Baca Juga  Keutaman Menunaikan Shalat Dhuha

Ad-Dahwu

Dikutip dari laman Laduni, dhuha berasal dari kata ad-Dhahwu yang berarti siang hari yang mulai panas.

Sedangkan dalam kajian fikih, dhuha berarti: Waktu ketika matahari mulai meninggi sampai datangnya zawal (tergelincirnya matahari) (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27/221).

Akibat rentang waktunya yang tergolong panjang, banyak yang lantas bingung dengan kapan waktu terbaik untuk melaksanakan ibadah ini.

Selain itu, sistem waktu yang berbeda dengan zaman Nabi Muhammad SAW juga menjadi salah satu alasan kebingunan bagi banyak orang.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, waktu menjalankan Shalat Dhuha dapat diperkirakan sekitar pukul 07.00-11.00.

Namun untuk waktu terbaik, shalat ini sebaiknya dilakukan setelah melewati seperempat hari.

Asumsikan satu hari selama 12 jam terdiri dari pukul 05.00-17.00. Kemudian bagi empat waktu tersebut, maka Shalat Dhuha bisa dilakukan pada seperempat kedua.

Maka, waktu tersebut artinya jatuh pada pukul 09.00, yang menjadikannya ibadah kedua setelah shalat subuh.

Dengan pemilihan waktu ini, seluruh hari akan selalu terisi dengan ibadah shalat tanpa putus.

Contohnya ibadah subuh yang dilakukan sebagai pembuka hari, kemudian dilanjutkan dengan Shalat Dhuha, kemudian dzuhur, ashar, dan maghrib.

Jenis hukum shalat ini adalah sunah mu’akkadah yang artinya amat dianjurkan karena pahala dan berkahnya begitu besar. Namun, bagi yang meninggalkanya tidak akan mendapatkan dosa.

Shalat sunnah ini minimal dilaksanakan dalam dua rakaat, dengan anjuran empat rakaat dan sempurna dalam enam rakaat.

Namun, untuk yang paling utama ialah ukuran maksimal yakni delapan rakaat.

Disarankan untuk melaksanakannya dalam dua rakaat untuk satu kali salam, meskipun boleh melakukannya dalam empat rakaat sekaligus.

Wallahua’lam bishshawab.

________

Sumber Literasi :

1. Republika.co.id

2. I.news.id

3. Lifestyle Kompas

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close