SIRAH

Terusir dari Tanah Kelahiran

Oleh aminuddin
Pemerhati Keislaman

RASULULLAH SAW pernah terusir dari tanah kelahirannya, meninggalkan Makkah, negeri yang sangat dicintainya, dan itu sempat membuat beliau MENETESKAN AIRMATA.

Dalam perjalanannya meninggalkan Makkah, beliau menoleh, melihat ke seluruh penjuru Makkah dan berkata, “Sesungguhnya engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai. Seandainya pendudukmu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan pernah keluar darimu.”

(Prophet had expelled from his homeland, leaving Mecca, much-loved country, and that could make him shed tears. On his way to leave Mecca, he turned to look around Mecca and said, “Truly you are God’s best country I love. If your people not thrown out, I certainly will never get out of you).”

Meskipun beliau dan para sahabat menemukan penduduk dan negeri yang baru, yang lebih baik, tapi kerinduan mereka pada Makkah, tetap tidak bisa hilang dari dalam ingatan.

Suatu hari Bilal bin Rabah sakit demam, rupanya ia masih menyimpan kerinduannya pada lembah-lembah Makkah, Tanah Hitam dan rumput hijau dan bunga Yasmin yang ia tuangkan kerinduannya dalam bait-bait syair :

“Wahai…apakah semalam aku tidur di lembah itu
Sekeliling rumput yang hijau dan bunga Yasmin
Apakah masih sempat aku pada suatu hari
Mereguk air telaga Majinnah dan menyaksikan Tanah Hitam?”

(Although he and his friends discover the people and the new country, the better, but their desire to Mecca, still can not disappear from the memory. One day Bilal bin Rabah fever, apparently he still had the longing in the valleys of Mecca, Soil Black and green grass and flowers which he poured Yasmin longing in verses of poetry:
“Oh … did I sleep last night in the valley
Around the green grass and flowers yasmin
Is it still had me on one day
Drinking water and watching the lake Majinnah Black Land)? ”

Baca Juga  Lebih Dekat dengan Abu Lukluk, Pembunuh Umar bin Khattab

Mendengar hal itu dari ‘Aisyah, Rasulullah SAW berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah atau lebih lagi…”

(Heard about it from ‘A’isha, the Prophet prayed:
“O Allah, make us love Medina as we love Mecca or even more …)”

Suatu hari ‘Aisyah bertanya Nabi, “Tidakkah Allah telah menggantikan bagi engkau yang lebih baik dari Khadijah?”

Nabi menjawab, “Tidak, demi Allah ia telah percaya kepadaku di waktu kaumku masih kafir, ia telah membantu kepadaku pada masa semua orang menghinakan aku, ia telah memberikan harta kekayaannya kepadaku pada masa kaumku serentak memboikot kepadaku.”

(One day ‘Aisha asked the Prophet, “Did God have replaced for you better than Khadija?”
He replied, “No, by God she had believed me at the time my people were still pagan, he has helped me during all those humiliating me, he had given their wealth in the nation to boycott me once.)”

Memang benar, Rasulullah sering sekali menyebut-nyebut nama Khadijah binti Khuwailid meski beliau sudah wafat.

Kadang menyembelih kambing lalu membagikannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Seolah-olah di dunia tidak ada wanita lain selain Khadijah.

(It is true, the Messenger of Allah often mentioned Khadija bint Khuwaylid though he is dead. Sometimes slaughter a goat and then gave them to friends of Khadija. As if the world no other woman Khadija).

Baca Juga  Nabi Zakaria, Menanti Kelahiran Putra Hingga Usia 90 Tahun

Sampai suatu hari, Halah binti Khuwailid (saudara Khadijah yang memiliki suara sama persis dengan nya), minta izin masuk ke rumah Rasulullah.

Dan ketika beliau mendengar suara nya, BELIAU TERHARU, karena itu seperti Khadijah yang hidup kembali, sebab Rasulullah masih mengingat suaranya.

Lalu Rasulullah berkata, “Ya Allah…ini adalah Halah binti Khuwailid (bukan Khadijah binti Khuwailid).”

(Until one day, Halah bint Khwailid (Khadija’s brother who has an identical voice to her), ask permission to enter the house of Allah. And when he heard his voice, he was touched, because it was like living back Khadija, for Allah still remember his voice. Then the Prophet said, “Oh God … this is Halah bint Khwailid (not Khadija bint Khwailid).”

Begitu pun ketika cucu beliau Umaimah meninggal dunia, RASULULLAH MENANGIS.

Sa’id bin Ubadah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda MENANGIS? Bukankah anda melarang Zainab (Ibu Umaimah) menangis?”

(So even when Umaimah grandchild dies, RASULULLAH CRYING. Sa’id ibn Ubadah asked, “O Messenger of Allah, whether you CRYING? Are not you banned Zainab (Mother Umaimah) crying)?”

Jawab Nabi, “Itu merupakan tanda belas kasih sayang yang ditaruh Allah dalam hati hamba-hamba-Nya. Dan Allah mengasihi hamba-Nya itu hanyalah bagi mereka yang menaruh belas-kasih sayang diantara mereka.”

(The Prophet replied, “That is a sign of affection of compassion in the hearts of God put His servants. And Allah loves His servant was only for those who put compassion affection between them).”

___

Bahan literasi : https://ineszimbalist.wordpress.com > sa …

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button