SIRAH

Abu Hurairah Menangis Pilu Melihat Rasulullah

Oleh: Bangun Lubis

Kita selalu merasa bahwa Rasulullah SAW adalah seorang yang serba berada dan apapun keinginannya selalu diusahakan agar tercapai. Ternyata pemikiran semacam ini, tidak berlaku pada diri Rasulullah. Rasulullah adalah orang yang sederhana bahkan sahabatnya menangis, karena terlalu sederhana dalam kebendaan atau materi.

Pernah suatu malam Abu Hurairah lewat di samping rumah Rasulullah. Ia melihat gelap-gelap saja. Hatinya bertanya, ada apa dengan beliau junjungan yang mulia. Akhirnya ia memutuskan untuk menyapa istri Rasulullah, Aisyah.

Aisyah menjawab, “Sering kali kami melewati masa hingga 40 hari, sedang di rumah kami tidak pernah ada lampu yang menyala dan dapur kami tidak  mengepul. “Lalu apa yang kalian makan untuk bertahan hidup?’ Aisyah menjawab, “Kurma dan air saja, itu pun jika dapat.” ujarnya.

Begitulah kisah Asyah dan Rasulullah, selama hidup mereka, tidak pernah berlebih-lebihan. Bahkan, sering mereka tidak makan karena memang tidak ada yang akan dimakan. Rasulullah dan Aisyah selalu menyembunyikan cerita mereka ini kepada sahabat. Tetapi hari ini, cerita itu tersebar.

Baca Juga  Nabi Idris,Penulis Pertama Sejarah dan Peradaban Manusia

Abu Hurairah di tengah perjalanan menuju Masjid menangis tersedu mendengar ucapan Aisyah itu. Abu Hurairah ditegur seorang sahabat ketika menyaksikan sahabat itu berjalan sambil menangis.

Raga suci itu letih, peluh di dahinya sesekali mengucur. Di atas tikar raga itu terkulai. Sudah berbulan-bulan tak ada api yang mengepul di rumahnya. Kondisi itu tidak hanya terjadi sekali, bahkan berkali-kali semenjak beliau diutus menjadi nabi,”ujar Abu Hurairah menceritakan kisah Rasulullah itu.

Setelah cerita itu Abu Hurairah menceritakan kisah lanjutan mengenai Rasulullah:  “Aku pernah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika dia shalat sambil duduk, maka aku pun bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa aku melihatmu shalat sambil duduk, apakah engkau sakit?’ Jawab beliau, ‘badanku terasa lemah, wahai Abu Hurairah. Pada wajah yang penuh kemuliaan itu, terpancar juga kesedihan Rasulullah dan kelemahan yang menghiasi.

Baca Juga  Menggapai Kekayaan Lewat Berbagi Kepada Sesama

Mendengar jawaban beliau, tercucur air mata sedih yang mengalir ke pipi Abu Hurairah. Rasulullah merasa kasihan melihatku menangis, lalu beliau berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, jangan menangis, karena beratnya penghisaban di hari kiamat nanti tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia ini.”

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi, Ummul mukminin menuturkan. “Rasulullah tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut. Sebenarnya jika kita mau, kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar daripada dirinya sendiri.”

Kesederhanaan Rasulullah adalah pilihan hidup, bukan keterpaksaan. Sebab, seandainya beliau mau, maka gunung uhud akan dirubah Allah menjadi emas untuknya, namun beliau menolak tawaran itu. Beliau menganggap kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. Inilah pola hidup sederhana, bukan ingin mengajarkan miskin kepada kita.(*)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button