MUSLIMAHUncategorized

Begini Wanita Islam yang Terpelihara Kebaikannya

 Oleh: Hj. Desmawati Djuliar, M.Si (Wartawan Satujalan Network)

SATUJALAN NETWORK – Meski diciptakan berbeda dengan laki-laki, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan terkait dengan pahala atas amal yang telah diperbuat. Perempuan dapat melakukan ibadah seperti kaum laki-laki, dan mendapatkan ganjaran atas amal yang diperbuatnya.

Sebagaimana dalam Firman Allah SWT: Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” (QS. An-Nahl: 97).

Terkait dengan pahala, Islam juga memberikan kriteria perempuan yang memiliki karakter yang baik dan juga buruk. Diriwayatkan dari Abu Udzainah Ash-Shadafi RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik perempuan di antara kalian adalah yang sangat sayang (cinta) kepada suami; yang memiliki banyak anak; tidak kasar; membantu suami dalam kebaikan; ketika mereka bertakwa kepada Allah.

Dan seburuk-buruk perempuan di antara kalian adalah yang suka berdandan/berhias berlebih-lebihan (ketika keluar rumah); sombong; merekalah perempuan-perempuan munafik. Mereka tidak masuk surga, kecuali seperti burung gagak bersayap putih (atau sangat langka),” (HR. Baihaqi dalam As-Sunan 7: 82).

Dalam hadist ini terdapat beberapa petunjuk mengenai karakter perempuan yang baik dan buruk menurut Islam.

Kita ingat bagaimana wanita terbaik Islam, Siti Khadijah, ketika pada masa Rasulullah mengembangkan Islam. Saat itu, tak banyak orang yang peduli kepada agama yang datang ngan Rahmat Allah ini. Namun, Siti Khadijah sbgi Istri tercinta Rasulullah tampil menjadi seorang wanita yang gagah ikut berjuang.

Semua biaya kehidupan umat Islam yang memperjuangkan kebenaran di Jalan Allah, ditanggung oleh Siti Khadijah. Terutama Rasulullah dan sahabat yang tak hanya berjuang dari kota ke kota lain di jazirah Arab, namun membekali pasukan perang pun dilakukan oleh Siti Khadijah. Ia sangat mulia dalam membiaya apapu yang terkait dengan kebutuhan umat Islam saat itu.

Sesungguhnya, wanita demikian hebatnya menopang kehidupan para lelaki terutama istri dan keluarganya. Pada saat seorang laki-laki merasa kesulitan, maka sang istri lah yang bisa membantunya. Ketika seorang laki-laki mengalami kegundahan, sang istri lah yang dapat menenangkannya. Dan ketika sang laki-laki mengalami keterpurukan, sang istri lah yang dapat menyemangatinya.

Baca Juga  Rezeki Berlimpah Setelah Menikah

Sungguh, tidak ada yang mempunyai pengaruh terbesar bagi seorang suami melainkan sang istri yang dicintainya.

Ingat ketika Rasulullah dalam kondisi ketakutan menerima wahyu Allah. Istrinya Siti Khadiujah yang tampil menenangkan hatinya, menyejukkan jiwanya. Hingga merasa damai.  Hingga dalam Islam bukanlah menjadi pemimpin yang diharapkan dari seorang wanita, melainkan pendamping yang setia,  dapat membantu, mengarahkan dan menenangkan adalah hal yang sangat mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Wanita adalah sebagai seorang Ibu

Dalam sebuah kisah yang disampaikan oleh Ustadz Al Ghazali di Mesjid Annur Citra Damai Palembang mengisahkan, bahwa tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu.

Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang> “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Seorang ibu merupakan seseorang yang senantiasa diharapkan kehadirannya bagi anak-anaknya. Seorang ibu dapat menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang baik sebagaimana seorang ibu bisa menjadikan anaknya menjadi orang yang jahat. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya.

Pernahkah kita membaca kisah-kisah kepahlawanan atau kemulian seseorang? Siapakah dalang di dalam keberhasilan mereka menjadi seorang yang pemberani, ahli ilmu atau bahkan seorang imam? Tidak lain adalah seorang ibu yang membimbingnya.

Mari kita simak perkataan seorang shahabiyah, Khansa ketika melepaskan keempat anaknya ke medan jihad.

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk islam dengan sukarela dan telah hijrah berdasarkan keinginan kalian. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra dari ayah yang sama dan dari ibu yang sama, nasab kalian tidak berbeda. Ketahuilah bahwa seseungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia yang fana. Bersabarlah, tabahlah dan teguhkanlah hati kalian serta bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Jika kalian menemui peperangan, maka masuklah ke dalam kancah peperangan itu dan raihlah kemenangan dan kemuliaan di alam yang kekal dan penuh kenikmatan”

Baca Juga  Haram Bagi Wanita Aroma Surga, Bila Gugat Cerai  Suaminya Tanpa Alasan Kuat

Keesokan harinya, masuklah keempat anak tersebut dalam medan pertempuran dengan hati yang masih ragu-ragu, lalu salah seorang dari mereka mengingatkan saudara-saudaranya akan wasiat yang disampaikan oleh ibu mereka. Mereka pun bertempur bagaikan singa dan menyerbu bagaikan anak panah dengan gagah berani dan tidak pernah surut setapak pun hingga mereka memperoleh syahadah fii sabilillah satu per satu. (Sirah Shahabiyah hal 742, Pustaka As-Sunnah)

Inilah kekuatan seorang ibu yang diberikan kepada anak-anaknya. Tatkala sang anak merasa ragu akan hal yang ingin diperbuatnya, namun mereka teringat akan nasehat ibu mereka, maka semua keraguan itu menjadi hilang, yang ada hanya semangat dan keyakinan akan harapan seorang ibu.

Demikianlah peran mulia seorang ibu, dan tidak ada peran yang lebih mendatangkan pahala yang banyak melainkan peran mendidik anak-anaknya menjadi anak yang diridhoi Allah dan rasulnya. Karena anak-anaknya lah sumber pahala dirinya dan sumber kebaikan untuknya.

Ketahuilah, banyak dikalangan orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim, yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan lihatlah hasil yang di dapatkannya. Mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Sebut saja, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Al-Bukhori dll adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan.

Tahukah para pembaca dengan Imam Shalat Masjidil Haram, Asy-Syaikh Sudais? Apa yang melatarbelakangi beliau menjadi Imam shalat Masjidil Haram? Tidak lain adalah karena harapan dan doa dari ibu beliau. Seorang ibu yang terus menerus memotivasi anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, telah membuat tekad Syaikh Sudais kecil menjadi besar dan membuatnya bersemangat untuk menghafalkan quran dan selalu berusaha agar keinginannya dan keinginan ibunya tercapai untuk menjadi Imam Masjidil Haram.(*)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button