MUSLIMAH

Mencintai Karena Allah, Suatu Anugerah Bagi Manusia

Mencintai sesuatu berarti sama dengan menyenanginya

 

Oleh: Hj. Desmawati Djuliar

Membicarakan cinta tak dapat dilepaskan dengan motif dan tujuan pelakunya. Sesuai arti katanya, cinta adalah perasaan hati dalam menyenangi sesuatu. Dalam bahasa Arab, cinta sering disebut dengan kata mahabba.

Mencintai sesuatu berarti sama dengan menyenanginya. Cinta adalah salah satu sifat fitri (alami) yang memang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Dengan cinta, manusia satu dan lainnya dapat membina hubungan dengan harmonis.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT memiliki 100 rahmat kasih sayang. Sebanyak 99 Ia simpan untuk hamba-hamba-Nya nanti di akhirat, sedangkan satunya Ia turunkan kepada umat manusia. Dengan hanya satu rahmat inilah, manusia satu dengan yang lainnya saling mencintai.” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam Pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Amran Anwar di Mesjid Al Furqon, pekan lalu, ia menggambarkan bagaimana cinta dan kasing sayang, bahwa cinta dan kasih sayang yang dimiliki manusia hakikatnya adalah bentuk anugerah tertinggi yang Allah SWT berikan.

Itu artinya, cinta sesungguhnya harus dilandasi dengan keyakinan bahwa cinta itu adalah dari Allah SWT dan harus dimanfaatkan sepositif mungkin oleh manusia, semata-mata karena Allah.

Baca Juga  Islam itu Membawa Cinta & Rahmat Allah

Dengan kata lain, uajrnya mencintai manusia lain sebetulnya harus dilandasi sikap bahwa cintanya itu adalah karena Allah, sehingga cinta yang ditimbulkan akan selalu berada dalam jalur yang sudah Allah SWT gariskan, bukan cinta buta yang hanya memperturutkan hawa nafsu rendah.

Mencintai seseorang karena Allah SWT akan mengantarkan seseorang pada satu level, di mana Allah SWT melimpahkan cinta abadi-Nya yang tak terkira. Rasulullah SAW pernah bercerita kepada Abu Hurairah, sebagaimana kisah yang diceritakan oleh Amran,  “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berniat mengunjungi temannya dalam sebuah kampung.

Dalam perjalanan, itu bertemu dengan malaikat yang sengaja Allah turunkan untuk menanyakan tujuannya. Laki-laki itu menjawab, ia ingin mengunjungi salah satu temannya di sebuah kampung. Malaikat bertanya lagi tentang alasan kunjungan itu, apakah karena temannya itu memiliki satu jasa berharga yang harus dibalas atau tidak.

Dengan tegas, laki-laki itu menjawab ia tidak memiliki alasan selain bahwa kunjungannya itu adalah karena cintanya kepada temannya, cinta yang dilandasi semata-mata karena Allah SWT.

Baca Juga  Pelajarilah Fikih Nikah Sebelum Menikah

Malaikat itu akhirnya memberi tahu kepada laki-laki itu bahwa ia adalah utusan Allah untuk menyampaikan kabar gembira bahwa laki-laki itu dijamin akan dicintai Allah selamanya, dengan sebab cintanya pada temannya itu.” (HR Muslim).

Cinta sesama manusia hanya karena Allah, sebagaimana kisah dan ajaran dalam Islam menurut Amran, bukan karena alasan lain, itulah cikal bakal cinta abadi yang Allah SWT siapkan di akhirat kelak. Cinta model ini pulalah yang akan menjadi naungannya nanti di hari kiamat. Satu hari yang tidak ada naungan lagi selain naungan yang Allah berikan kepada manusia.

Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti Allah SWT akan berseru, ’Mana orang-orang yang saling mencintai hanya karena Aku? Pada hari kiamat yang tidak ada naungan ini, Aku akan memberikan naungan-Ku pada mereka semua.’” (HR Muslim).

Dengan cinta yang dilandasi keyakinan seperti inilah, umat manusia akan dapat mewujudkan kedamaian dan keharmonisan di antara sesama. Wallahu a’lam.(*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button