DUNIA ISLAM

Al-Quran Dasar Pengokohan Iman  

IMAN  menjadi salah satu dasar kepercayaan bagi pemeluk agama Islam

Oleh: H. Emil Rosmali

IMAN  menjadi salah satu dasar kepercayaan bagi pemeluk agama Islam. Terdapat enam rukun iman yang wajib diyakini di dalamnya. Ketetapan tersebut disebutkan dalam firman Allah QS An Nisa ayat 136 yang berbunyi,  Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab (Al Quran) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

Menurut buku Islamologi: Arti Iman yang ditulis oleh Maulana Muhammad Ali, iman artinya dalam Islam diterjemahkan sebagai percaya. Akar katanya berasal dari kata amana yang mengandung arti ia percaya. Jika digunakan menurut wazan transitif artinya menganugerahkan ketentraman atau perdamaian. Namun, bila menurut wazan intransitif artinya berubah menjadi masuk dalam keadaan tentram atau damai. Pengertian Iman juga disebutkan dalam hadits dari Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh Malaikat Jibril, Jibril bertanya pada Rasulullah, Artinya: “Beritahukanlah kepadaku apa itu iman.” Rasulullah menjawab, “Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim). Sementara itu, bila dilihat dari segi kebahasaan, melansir dari buku Pendidikan Agama Islam: Materi

 

Iman Sebagai Pembenaran

Pembelajaran Perguruan Tinggi karya Malikus Solekha, M.Pd.I., kata iman berarti pembenaran (At-Tasdiq). Hal inilah yang dimaksud dengan kata shadiqiin seperti yang termaktub dalam firman Allah QS. Yusuf ayat 17, Artinya: “Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.” Iman artinya dalam Islam menurut segi istilah disebut sebagai keyakinan bulat yang dibenarkan oleh hati, diikrarkan oleh lidah, dan dimanifestasikan dengan amalan atau pembenaran dengan penuh keyakinan. Tanpa adanya sedikit pun keraguan mengenai ajaran yang datang dari Allah dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa seseorang dinyatakan beriman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorongkannya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinan. Sebab itu, iman bukan hanya dipercayai atau diucapkan melainkan juga untuk menyatu dalam diri seseorang yang dibuktikan dalam perbuatannya. Menurut mujahid dakwah Hasan Al-Banna yang dikutip dari sumber yang sama, adapun ruang lingkup akidah Islam tentang keimanan di antaranya: Illahiah, yaitu pembahasan tentang segalah sesuatu yang berhubungan dengan illah (Tuhan) seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat Allah.  Nubuwwah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi dan Rasul termasuk kitab kitab suci dan mukjizat mereka. Ruhaniyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan alam metafisik, seperti malaikat, jin, iblis dan roh. Sam’iyah, yaitu pembahasan tetang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui melalui Sam’i, yakni dalil naqli berupa Al Quran.

Baca Juga  Beramal Ikhlas , Memurnikan Diri

Sesungguhnya orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.( qs. Al-Hujurat : 15 ). Konsep Asasi  Iman Menurut Al-Qur’an, bersumber pada Al Quranulkarim. Diantara karakteristik asasi Iman yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya, keyakinan (iman) yang teguh dan kuat tanpa keraguan yang disertai dengan komitmen yang menyeluruh (comprehensive commitment).

Dalam Kajian yang bertemakan “Bagaimana Menata Iman “ disajikan  Ustads Beni Subandi, Spd.I, pada Kajian Jumat, di Yayasan Dakwah dan Pendidikan (YDP) Al Furqon, R Soekamto Palembang, mengemukakan bahwa, Surat Al-Baqarah [2:285], Allah tiada membedakan makhluk satu dengan yang lainnya dalam soal Iman. Dan Iman mereka sangat komitmen dan menyeluruh. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.(QS. Al Baqarah : 285).

Surah Al-Baqarah dimulai dengan menerangkan bahwa Alquran tidak ada keraguan padanya dan juga menerangkan sikap manusia terhadapnya, yaitu ada yang beriman, ada yang kafir dan ada yang munafik. Selanjutnya disebutkan hukum-hukum salat, zakat, puasa, haji, pernikahan, jihad, riba, hukum perjanjian dan sebagainya.           Ayat – ayat itu, adalah sebagai ayat penutup surah Al-Baqarah yang menegaskan sifat Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya terhadap Alquran. Mereka mempercayainya, menjadikannya sebagai pegangan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan ayat ini juga menegaskan akan kebesaran dan kebenaran Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman, dan menegaskan bahwa hukum-hukum yang tersebut itu adalah hukum-hukum yang benar. Dengan ayat ini Allah swt. menyatakan dan menetapkan bahwa Rasulullah saw. dan orang-orang yang beriman, benar-benar telah mempercayai Alquran, mereka tidak ragu sedikit pun dan mereka meyakini benar Alquran.

Baca Juga  Jangan Ragukan Lagi Datangnya Kematian

 

*Hati yang Bersih*

Pernyataan Allah swt. ini terlihat pada diri Rasulullah saw. dan pribadi-pribadi orang mukmin, terlihat pada kesucian dan kebersihan hati mereka, ketinggian cita-cita mereka, ketahanan dan ketabahan hati mereka menerima cobaan-cobaan dalam menyampaikan agama Allah, sikap mereka di waktu mencapai kemenangan dan menghadapi kekalahan, sikap mereka terhadap musuh-musuh yang telah dikuasai, sikap mereka di waktu ditawan dan sikap mereka di waktu memasuki daerah-daerah luar Jazirah Arab.

Sikap dan watak yang demikian adalah sikap dan watak yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran Alquran dan ketaatan melaksanakan hukum Allah swt. Inilah yang dimaksud dengan jawaban Aisyah r.a. ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad saw. beliau menjawab:  “ Bukankah engkau selalu membaca Alquran?” Jawabnya: “Ya.” Aisyah berkata: “Maka sesungguhnya akhlak Nabi itu sesuai dengan Alquran.” (HR Muslim). Seandainya Nabi Muhammad saw. tidak meyakini benar ajaran-ajaran yang dibawanya dan tidak berpegang kepada kebenaran dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tentulah ia dan pengikutnya tidak akan berwatak demikian. Bisa jadi Rasulullah akan ragu. Tapi ternyata tidak, karena keyakinan tersebut.

Dalam pada itu orang-orang yang hidup di zaman Nabi, baik pengikut beliau maupun orang-orang yang mengingkari, semuanya mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang kepercayaan, bukan seorang pendusta. Tiap-tiap orang yang beriman itu yakin akan adanya Allah Yang Maha Esa, hanya Dia sendirilah yang menciptakan makhluk, tidak berserikat dengan sesuatu pun. Mereka percaya kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan-Nya kepada para Nabi-Nya, percaya kepada malaikat-malaikat Allah, dan malaikat yang menjadi penghubung antara Allah swt. dengan rasul-rasul-Nya, pembawa wahyu Allah. Mengenai keadaan zat, sifat-sifat dan pekerjaan-pekerjaan malaikat itu termasuk ilmu Allah, hanya Allah swt. yang Maha Tahu. Percaya kepada malaikat merupakan pernyataan percaya kepada Allah swt.(*)

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button