DUNIA ISLAM

Setiap Saat Allah Mengawasi Hidup Kita

“Allah setiap saat terus mengawasimu, Dia ada untukmu”

Oleh: Bangun Lubis

SATUJALAN NETWORK – Salah satu nilai takwa yang dihasilkan dari ibadah puasa adalah muraqabatullah, yakni merasa diawasi oleh Allah Swt. Betapa tidak, pada siang hari ketika kita sedang melaksanakan puasa, kita bisa saja makan dan minum di tempat yang tersembunyi.

Namun, hal itu tidak dilakukan karena kita meyakini, walaupun dapat bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan manusia, kita tidak akan mampu bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan Allah. Kita bisa saja berpura-pura menjalankan ibadah puasa di hadapan manusia, tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hal itu dari pengawasan Allah. Inilah bentuk dari muraqabatullah.

Jelasnya, muraqabarullah itu adalah mengondisikan diri merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupan. Allah melihat, mengetahui rahasia-rahasia, memperhatikan semua amal perbuatan, dan juga mengamati apa saja yang dikerjakan semua jiwa.

Allah berfirman, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata.” (QS.Yunus [10]: 61)

Dalam ajaran Islam, muraqabatullah merupakan suatu kedudukan yang tinggi. Hadis menyebutkan bahwa muraqabatullah sejajar dengan tingkatan ihsan, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya dan jika kita tak mampu melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihat kita (Muttafaq alaih). Sebagai seorang mukmin hendaknya kita berusaha menggapai kedudukan muraqabatullah ini. Ketika kita sudah mencapai kedudukan muraqabatullah, serangkaian kebaikan dan keutamaan akan kita dapatkan.

Di antaranya, kita akan merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kesempurnaan-Nya, tenteram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketenteraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Akhirnya, mari kita merenungi sebuah kisah yang dituturkan oleh Abdullah bin Dinar sebagai motivasi bagi kita untuk menjadi orang yang merasa selalu diawasi oleh Allah Swt.

Abdullah bin Dinar dalam dokumen republika, berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khattab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, ‘Hai penggembala, jualah seekor kambingmu kepada kami’.”

Penggembala tersebut berkata, “Kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik majikanku.’’ Umar bin Khattab berkata, “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambingnya dimakan serigala.’’ Namun, penggembala yang budak tersebut berkata, “Kalau begitu, di mana Allah?”. Umar bin Khattab menangis, kemudian ia pergi ke majikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut dan memerdekakannya.”

Baca Juga  Inilah Kunci Menjemput Rezeki

Bila kita sediakan waktu membaca dan menguak kisah-kisah masa para sahabat, maka banyak ikhtibar dan pedoman yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah itu menjadi pencerdasan dan inspirasi yang begitu besar dalam menata kehidupan selama waktu kehidupan di dunia ini.

Ustadz Drs. H. Umar Said, Ketua FUI (Forum Umat Islam), mengurai soal kisah-kisah yang baik untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menata hidup di dunia. Kisah itu adalah mana kala Khalifah Umar bin Khattab dalam perjalanan melewati gurun pasir, yang bertemu sekelompok kafilah. Saat itu malam begitu gelap, masing-masing orang tidak saling mengenali. Sahabat Abdullah bi Mas’ud berada dalam kafilah itu.

Khalifah Umar memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada kafilah yang berada di hadapan mereka. “Dari manakah kalian? Dan hendak kemana kalian ? ” Abdullah menjawab “Min fajjin ‘amiq ila baitil atiq. Dari lembah yang dalam menuju baitullah al-atiq.”

Jawaban tersebut membuat Umar mengira bahwa di rombongan kafilah pasti ada orang yang sangat alim. Kemudian diperintakannya pula untuk bertanya’ “Ayat Qur’an manakah yang paling agung? Ayat apakah yang paling kuat hukumnya? Dan ayat Qur’an manakah yang paling luas cakupannya?” Setiap pertanyaan dijawab dengan baik oleh Abdullah.

Hingga tiba satu pertanyaan, “Kabar ayat Qur’an manakah yang paling menakutkan?” Abdullah menjawab,“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.”  (QS. An Nisaa’ ; 123)

*Takut Kepada Allah*

Abdullah bin Mas’ud menilai ayat ini memberikan kabar yang menakutkan. Pendapat itu disetujui oleh Umar. Kabar yang menakutkan yang pertama ada pada kalimat “pahala itu bukanlah seperti angan-anganmu”.   Ayat ini menjadikan setiap orang haruslah takut kepada Allah, bahwa sesungguhnya Allah-lah yang mengatur kehidupan manusia.

Apalagi para ulama biasanya sangat takut kepada Allah, khawatir amal mereka tidak diterima. Sebab, semakin seseorang memiliki ilmu dan banyak amal, dia semakin takut kepada Allah. Selama ini, boleh jadi kita sering mengingat kebaikan yang pernah kita lakukan, berbagai ibadah yang kita jalankan. Lalu kita mengkalkulasi, begitu banyak pahala yang menurut kita telah kita kumpulkan. Semestinya kita khawatir, jangan-jangan nilai disisi Allah sebenarnya jauh dari angan-angan kita.

Baca Juga  Saudi Sudah Mulai Kasih Kelonggaran Masuk Negeri Itu

Kelak akan banyak orang yang celaka. Mereka merasa telah berbuat yang sebaik-baiknya, padahal apa yang dianggap baik, ternyata bukan kebaikan menurut Alloh,;“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi : 104). Ibnu Qayyim al-Jauziyah menafsirkan maksud yang merugi dalam ayat ini, “inilah hasil amalan yang bukan diperuntukkan Allah, atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah Shallalahu ‘alihi wa sallam.”

*Ikhlas*

Maka selayaknya kita memperhatikan dan mengevaluasi amal kita, sebelum dan sesudahnya. Sebelum beramal, selayaknya kita bertanya,” untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana saya mesti beramal?” Jawaban yang pertama adalah dengan mewajibkan hati kita untuk ikhlas, yakni tidak beramal dan berbuat kecuali hanya karena Allah semata.  Adapun pertanyaan kedua, “bagaimana saya mesti beramal?” Jawabannya haruslah dengan, mengikuti sunnah Rasulullah Shallalahu ‘alihi wa sallam. “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah dariku, maka tertolak.” (HR. Bukhari)

Amal yang diterima oleh Allah, hanyalah amal yang ikhlas dan benar. Sementara kita tidak bisa menjamin, bahwa semua yang kita lakukan sudah ikhlas seperti yang diperintahkan, baik sebelum amal, tatkala beramal, dan ba’da amal. Tidak heran jika ulama salaf mengatakan, “ikhlas itu berat.” Sufyan ast-Tsauri juga berkata, ”Aku tidak pernah mengobati penyakit yang lebih berat dari mengobati niatku.” Orang yang beribadah tapi tidak ikhlas atau tidak benar, kelak akan tertipu oleh angan-angannya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam barsabda,;“Sesungguhnya orang yang bangkrut dikalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, sgaum, maupun zakat. Akan tetapi dia telah mencela ini, menuduh itu, memekan harta si anu, menumpahkan darah si anu, memukul si anu, lalu kebaikannya diberikan kepada si ini, kebaikan lain diberikan kepada si itu, hingga kebaikannya telah habis sementara ke dzhalimannya belum terlunasi, maka dosa orang yang didzhalimi ditimpali kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka.”  (HR. Muslim).

Dalam hadist tadi, terdapat ancaman menakutkan. Namun juga ada hiburan yang melegakan. Dimana setiap kesusahan dan penderitaan sekecil apapun yang dialami oleh seorang muslim itu adalah kafarah (penebus) bagi dosa. Pada akhirnya, kita berdo’a, semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari siksa neraka. Semoga Allah memberikan kegembiraan berupa pengampunan atas dosa-dosa kita semua. Doa adalah senjata bagi umat yang beriman.(*)

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button