SIRAH

Nabi Ibrahim Mengajari Kita Beragama Tekun Tanpa Mendua

SATUJALAN NETWORK – Remaja yang sedang dalam pertumbuhan fisik dan mental memerlukan bimbingan beragama dengan benar. Jika tidak, mereka akan mempunyai kesan bahwa agama itu tidak perlu.

Dan sebagian kita orang dewasa pun tak juga beda jika melihat zaman yang makin menggilas pola pemikiran beragama yang benar dan sungguh-sungguh.

Sebab, jika tidak beragama dengan benara akan muncul dalam persepsi bahwa yang pokok bagi manusia adalah tercukupinya kebutuhan pangan, sandang dan papan. Sedangkan agama dianggapnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan dan kemakmuran hidup.

Remaja dan kita orang dewasa akan merasakan agama sebagai sesuatu yang tidak perlu bila melihat orang tuanya beragama seenaknya. Apalagi apabila orang tuanya menanamkan rasa benci terhadap agama kepada anaknya.

Misalnya dengan mengatakan bahwa Islam sebagai agama yang tidak mempunyai pola pikir perbedaan dan persamaan hak dan lain sebagainya. Hal semacam ini akan menjauhkan kita dan anak-anak kita dari keinginan untuk lebih mengenal Islam, apalagi memeluk Islam.

Banyak kasus pada anak-anak remaja yang orang tuanya tidak beragama Islam, sedang dia banyak bergaul dengan teman-temannya yang beragama Islam, dan di sekolah sering mengikuti pelajaran agama Islam.

Remaja-remaja semacam ini telah menyadari bahwa pelajaran agama Islam selalu mudah diterima akal. Mereka ingin sekali masuk ke dalam agama tersebut, tetapi takut akan kemarahan orang tuanya.

Kisah Nabi Ibrahim

Kasus semacam ini bukan hanya menjadi problem bagi remaja sekarang, melainkan juga dialami oleh Nabi Ibrahim dengan bapaknya pada masa lalu.

Ibrahim yang waktu itu masih remaja menyadari bahwa dewa-dewa yang disembah oleh orang tua dan kaumnya, bahkan oleh raja mereka, adalah sesat. Karena itu, Nabi Ibrahim berupaya keras untuk mencari sesembahan dan agama yang benar.

Baca Juga  Terusir dari Tanah Kelahiran

Dengan petunjuk Allah, akhirnya Ibrahim remaja menemukan kebenaran tentang siapa sebenarnya Tuhan dan agama apa yang benar. Setelah dia mendapatkan agama yang benar, dia lalu mengingatkan bapaknya untuk meninggalkan penyembahan tuhan yang tidak benar, yaitu berhala-berhala yang diyakini sebagai penjelmaan dewa.

Akhirnya, ayah Ibrahim remaja marah dan menyuruhnya untuk mengikuti agama nenek moyangnya serta menghentikan kritik-kritiknya terhadap agama orang tuanya dan kaumnya.

Kisah Ibrahim remaja ini dapat kita telaah dalam al-Qur’an surat Maryam ayat 44 – 46: “Wahai bapakku, janganlah engkau menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan.” Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam; dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.”

Kata Ibrahin lagi sebagaimana Firman Allah SWT;” Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al An’am : 74)

Mengajak Kepada Tauhid

Inti dari kisah yang dikemukakan pada ayat di atas adalah ayah Ibrahim remaja mengancam putranya agar dia tidak menegakkan agamanya. Bahkan orang tuanya menunjukkan permusuhan yang keras terhadap Ibrahim remaja yang berusaha menegakkan kehidupan beragama yang berjiwakan tauhid.

Nabi Ibrahim a.s adalah salah satu nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah tauhid dan mengajak manusia untuk meninggalkan penyembahan berhala dan segala bentuk kesyirikan. Beliau adalah bapak para nabi dan rasul, dan juga nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW

Baca Juga  Kisah Suami-Istri, Zaman Nabi Musa Kaya Mendadak Setelah Sedekah

Menghadapi ancaman orang tuanya seperti itu, Ibrahim yang mendapatkan perlindungan istimewa dari Allah tidak mengendorkan tekadnya untuk menegakkan agama tauhid.

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa’: 125)

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain dari Allah; kami ingkari kamu; dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian sampai selama-lamanya kamu beriman kepada Allah saja”. (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Akan tetapi, bagaimana dengan kita dan para remaja pada umumnya? Apakah para remaja sekarang memiliki keteguhan sikap dalam memegang agamanya yang berjiwa tauhid walaupun orang tuanya sendiri memusuhinya, atau setidak-tidaknya menyatakan kebencian terhadap agama yang bukan agamanya Islam?

Ataukah, kita dan anak akan merasa terancam bila berlainan agama dengan orang tuanya. Dalam Islam perbedaan agama tentu terlarang. Marilah kita menunaikan ibadah dengan baik dan menggakkan agama Islam sebagai penganutnya dengan konsekwen, tanpa kebingungan dan berjalan di luar aturan Islam.?

Kisah Nabi Ibrahim AS dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Kisahnya dapat mengajarkan arti dari keteguhan hati, pendirian yang kuat, mengajarkan tentang prinsip kehidupan dalam ajaran agama. Dari kisahnya juga, setiap manusia harus terus berpikir kritis sebelum melakukan tindakan dan selalu mencari kebenaran dari ketidaktahuan.

Penulis: Bangun Lubis

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button