NASIHAT

Bertauhid Tanpa Ada Keraguan, Penuh Keyakinan yang Tertancap dalam Jiwa

 SATUJALAN NETWORK – Aqidah adalah istilah yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Bahkan bisa dibilang pemahaman tentang aqidah adalah landasan dari ajaran Islam. Dalam istilah agama Islam, aqidah juga bisa dimaknai sebagai iman.

Setiap umat muslim diharuskan untuk memiliki aqidah yang benar terlebih dahulu. Namun, sebelum itu kamu tentunya perlu mengenali dan memahami apa itu aqidah secara mendalam. Pasalnya, aqidah adalah keyakinan dasar seseorang.

Firman Allah;” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(QS. Al Baqarah (2): 186).

Konsep Asasi  beraqidah Islam atau Iman sebagaiumana menurut Al-Qur’an, bersumber pada Al Quranulkarim. Diantara karakteristik asasi Iman yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya, keyakinan (iman) yang teguh dan kuat tanpa keraguan yang disertai dengan komitmen yang menyeluruh.  Rasulullah telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Allah, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.

(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.(QS. Al Baqarah : 285). Sesungguhnya orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. ( Al-Hujurat : 15 ).

Dalam Surat Al-Baqarah [2:285], “Allah tiada membedakan makhluk satu dengan yang lainnya dalam soal Iman. Dan Iman mereka sangat komitmen dan menyeluruh”. Kemudian, Firman Allah lagi :”Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. Aqidah bermuara dari bagaimana keyakinan atau keiumanan ummat Islam secara patut dan ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya.

Aqidah yakni, Iman Kepada Allah dan Rasulnya

Surah Al-Baqarah, dimulai dengan menerangkan bahwa Alquran tidak ada keraguan padanya dan juga menerangkan sikap manusia terhadapnya, yaitu ada yang beriman, ada yang kafir dan ada yang munafik. Selanjutnya disebutkan hukum-hukum salat, zakat, puasa, haji, pernikahan, jihad, riba, hukum perjanjian dan sebagainya.

Baca Juga  Ambil Hikmah Dibalik Musibah, Ada Balasan Kemudahan dan Pahala yang Besar Bila Bersabar

Ayat – ayat itu,    adalah sebagai ayat penutup surah Al-Baqarah yang menegaskan sifat Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya terhadap Alquran. Mereka mempercayainya, menjadikannya sebagai pegangan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan ayat ini juga menegaskan akan kebesaran dan kebenaran Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman, dan menegaskan bahwa hukum-hukum yang tersebut itu adalah hukum-hukum yang benar.

Dengan ayat ini Allah Swt. menyatakan dan menetapkan bahwa Rasulullah Saw. dan orang-orang yang beriman, benar-benar telah mempercayai Alquran, mereka tidak ragu sedikit pun dan mereka meyakini benar Alquran.

Pernyataan Allah swt. ini terlihat pada diri Rasulullah saw. dan pribadi-pribadi orang mukmin, terlihat pada kesucian dan kebersihan hati mereka, ketinggian cita-cita mereka, ketahanan dan ketabahan hati mereka menerima cobaan-cobaan dalam menyampaikan agama Allah, sikap mereka di waktu mencapai kemenangan dan menghadapi kekalahan, sikap mereka terhadap musuh-musuh yang telah dikuasai, sikap mereka di waktu ditawan dan sikap mereka di waktu memasuki daerah-daerah luar Jazirah Arab.

Sikap dan watak yang demikian adalah sikap dan watak yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran Alquran dan ketaatan melaksanakan hukum Allah swt. Inilah yang dimaksud dengan jawaban Aisyah r.a. ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad saw. beliau menjawab:Bukankah engkau selalu membaca Alquran?” Jawabnya: “Ya.” Kemudian Aisyah berkata: “Maka sesungguhnya akhlak Nabi itu sesuai dengan Alquran.” (HR Muslim). Pada pernyataan Aisyah ini, terletak keimanan (Aqidah) yang kuat.

Seandainya Nabi Muhammad saw. tidak meyakini benar ajaran-ajaran yang dibawanya dan tidak berpegang kepada kebenaran dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tentulah ia dan pengikutnya tidak akan berwatak demikian. Bisa jadi Rasulullah akan ragu. Tapi ternyata tidak, karena keyakinan atau iman yang kokoh tersebut.  Dalam pada itu orang-orang yang hidup di zaman Nabi, baik pengikut beliau maupun orang-orang yang mengingkari, semuanya mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang kepercayaan, bukan seorang pendusta.

Tiap-tiap orang yang beriman itu yakin akan adanya Allah Yang Maha Esa, hanya Dia sendirilah yang menciptakan makhluk, tidak berserikat dengan sesuatu pun. Mereka percaya kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan-Nya kepada para Nabi-Nya, percaya kepada malaikat-malaikat Allah, dan malaikat yang menjadi penghubung antara Allah swt. dengan Rasul-Rasul-Nya, pembawa wahyu Allah tentunya.

Mengenai keadaan zat, sifat-sifat dan pekerjaan-pekerjaan malaikat itu termasuk ilmu Allah, hanya Allah swt. yang Maha Tahu. Percaya kepada malaikat merupakan pernyataan percaya kepada Allah swt. “Tiada Tuhan (sembahan) yang berhak disembah selain Allah dan tiada Rabb selain Dia (Allah),” tulis Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri dalam Kitab Minhajul Muslim seperti dikutip dari Hikmah detikcom., “Iman Kepada Allah: Pengertian Serta Dalil Naqli dan Dalil Aqlinya”

Baca Juga  Kalau Sangka Baik, Allah Kasih Kebaikan dan Rezeki

Lebih luas diungkapkan sebagai pemahaman yang kuat akan keimanan bagi mereka yang beraqidah Islam yakni tertera dalam firman Allah ini,:” Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al Araf: 54). Kalimatullah ini, menjadi pengayaan atas pemahaman keyakinan yang kuat bagi setiap orang. Keyakinan inilah yang disebut sebagai Aqidah yang murni.

Beraqidah, yang dimaksud adalah apa yang diterima oleh hati dengan ikhlas. Aqidah adalah kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘Aqada, yang artinya simpul, ikatan, atau memegang erat. Mengutip dari laman altayyib.com, ketika berkaitan dengan perilaku dan mental kita makna aqidah adalah teguh dan ulet.

Inilah yang harus dirasakan oleh setiap muslim dalam dasar-dasar Islam, yaitu memiliki keyakinan yang teguh dan kuat di dalam hati. Lebih jelasnya, aqidah adalah beriman kepada Allah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan-Nya; ibadah dan ketuhanannya, nama dan sifat-sifatnya, kepercayaannya kepada malaikat, kitab-kitab, rasul, takdir, hari akhir dan segala sesuatu yang otentik dalam ajaran agama Islam.

Kita harus menerima atau meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan penguasa, serta menerima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai orang yang patut diteladani, yang perilaku dan penilaiannya perlu kita tiru dan dijadikan sebagai pedoman kehidupan sehari-hari. Bagian terpenting dari Aqidah seorang muslim adalah tauhid, yaitu keesaan Allah dalam ibadah, ketuhanan dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

Pentingnya makna tauhid sehingga kita sering menggunakan istilah tersebut secara bergantian dengan aqidah. Allah menciptakan langit dan bumi semata-mata untuk tauhid, Dia mengirim rasul dan nabi untuk mengajak orang-orang untuk menyembah hanya kepada-Nya.

Oleh karena itu, adalah kewajiban kita sebagai muslim untuk mempelajari hal ini, untuk mengetahui tujuan di balik keberadaan kita, dan untuk mengajarkan dan menyebarkannya pada anak-anak, keluarga dan umat manusia.(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button