DUNIA ISLAMM O Z A I KSYARIAH

Takwa dan Akhlak Mulia — Dua Sayap Menuju Cinta Allah

 

Oleh: Bangun Lubis

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga. Beliau menjawab dengan singkat namun padat makna:

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”*(HR. Tirmidzi, hasan menurut Al-Albani)*

Dua hal ini — takwa dan akhlak mulia — ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Takwa memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, sementara akhlak mulia memperindah hubungan manusia dengan sesamanya. Bila keduanya berpadu dalam diri, maka sempurnalah keindahan iman seseorang.

Buah dari Takwa adalah Akhlak

Takwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, tetapi juga kesadaran penuh untuk selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Dari takwa, lahirlah kelembutan hati, kejujuran, kasih sayang, dan keinginan tulus untuk berbuat baik kepada sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR. Thabrani dan Al-Hakim, sahih menurut Al-Albani).

Maka, semakin tinggi tingkat takwa seseorang, seharusnya semakin lembut pula perilakunya terhadap orang lain.

Di antara bentuk akhlak yang paling indah adalah memberi manfaat kepada manusia. Nabi ﷺ bersabda:

“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”(HR. Thabrani dan Ibnu Asakir)

Memberi manfaat, sekecil apa pun, adalah buah dari hati yang penuh takwa. Ia sadar bahwa setiap langkah dan perbuatannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Baca Juga  Allah Menjaga Hamba-Nya dalam Menjalani Hidup

Istighfar — Akhlak Para Muttaqin

Salah satu akhlak utama yang menunjukkan ketakwaan adalah kebiasaan beristighfar. Nabi ﷺ, manusia paling mulia, justru paling sering memohon ampunan kepada Allah.

“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”(HR. Bukhari)

Bahkan dalam satu majelis, para sahabat pernah menghitung beliau mengucapkan:

Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim”

“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”(HR. Abu Dawud)

Istighfar bukan sekadar ucapan lisan, tetapi cermin dari hati yang sadar akan kelemahan diri. Ia adalah tanda cinta, karena orang yang mencintai Allah akan merasa gelisah bila jauh dari ampunan-Nya.

Khouf dan Roja’ — Dua Sayap dalam Terbang Menuju Allah

Para ulama menggambarkan kehidupan seorang mukmin seperti burung yang memiliki dua sayap: khouf (takut) dan roja’ (harap), sedangkan kepalanya adalah mahabbah (cinta).

Tanpa salah satu sayap itu, burung tak akan bisa terbang. Tanpa cinta kepada Allah, ia tak tahu arah tujuan.

Allah berfirman:

“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”*(QS. Al-Hijr: 49–50)

Rasa takut membuat kita berhati-hati dalam maksiat, sementara harapan membuat kita tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Adapun cinta mendorong kita untuk terus mendekat kepada-Nya, meski dalam kepayahan hidup.

Thalq bin Habib rahimahullah berkata dengan indah:

Baca Juga  Hati-Hati dengan Lisan: Jangan Biarkan Ucapan Kita Menjadi Sebab Kehancuran

“Takwa adalah engkau beramal taat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena berharap pahala dari Allah; dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut siksa Allah.”

Sebenar-Benar Takwa

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan makna ayat ini dengan kalimat yang sederhana namun dalam:

“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai; diingat, tidak dilupakan; disyukuri, tidak dikufuri.”

Maka takwa sejati tidak hanya tentang ibadah di atas sajadah, tetapi juga tentang kesabaran dalam kesulitan, kejujuran dalam bekerja, kelembutan dalam berbicara, dan kesetiaan dalam kebaikan.

Orang bertakwa bukanlah yang paling fasih lisannya, tapi yang paling bersih hatinya. Bukan yang paling banyak amalnya, tapi yang paling ikhlas niatnya.

Meniti Jalan Takwa dan Akhlak

Ketika takwa tumbuh dalam hati, akhlak pun akan bersemi dalam perilaku. Ia menuntun manusia menjadi pribadi yang jujur, pemaaf, rendah hati, dan mudah berbuat baik.

Karena sesungguhnya, takwa adalah akar dari seluruh kebajikan, dan akhlak adalah buahnya yang ranum.

“Sungguh, orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menumbuhkan takwa, memperindah akhlak, dan terus beristighfar hingga ajal menjemput dalam keadaan husnul khatimah.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button