M O Z A I K

Menyongsong  Cahaya Malam Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan

Menyongsong  Cahaya Malam Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim

Ramadhan selalu membawa harapan besar bagi setiap muslim. Di bulan inilah Allah membuka pintu rahmat seluas-luasnya, mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, dan menghadiahkan sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadar.

Namun ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan dengan jujur di dalam hati:

Apakah kita benar-benar telah merasakan cahaya Lailatul Qadar itu?

Sebab tanda-tandanya tidak hanya pada lamanya shalat malam, banyaknya tilawah Al-Qur’an, atau seringnya kita beritikaf di masjid. Semua itu memang amal yang sangat mulia. Tetapi para ulama mengingatkan, buah dari ibadah itu harus terlihat pada perubahan hati.

Jika setelah semua ibadah itu hati masih gelisah…

masih mudah marah…

masih merasa iri kepada orang lain…

masih sulit bersyukur…

masih merasa hidup ini sempit dan penuh kekurangan…

maka boleh jadi kita belum benar-benar menyentuh hakikat Lailatul Qadar.

Allah menggambarkan malam itu dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 1–3)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa keberkahan malam itu bukan hanya pada pahala ibadahnya, tetapi juga pada turunnya ketenangan ke dalam hati manusia.

Allah melanjutkan firman-Nya:

Baca Juga  Perkuat Kesyukuranmu dalam Setiap Keadaan: Husnuzhon, Ikhlas, dan Syukur sebagai Jalan Ketenangan

> “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 4–5)

Kata salaam dalam ayat tersebut oleh banyak ulama ditafsirkan sebagai kedamaian dan ketenteraman yang meliputi hati orang-orang beriman.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa malam itu penuh dengan keselamatan, keberkahan, dan ketenangan bagi orang yang beribadah dengan ikhlas.

Karena itu, jika seseorang benar-benar tersentuh oleh Lailatul Qadar, maka yang pertama berubah adalah hatinya.

Ia menjadi lebih tenang.

Lebih mudah memaafkan.

Lebih lapang melihat orang lain.

Lebih ringan bersyukur.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri memberikan gambaran tentang orang yang berhasil menghidupkan malam tersebut:

> “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ampunan dosa bukan hanya catatan yang terhapus di langit. Ampunan itu juga menghadirkan ketenangan di dalam hati manusia.

Hati yang diampuni menjadi ringan.

Tidak lagi dipenuhi dendam.

Tidak lagi dipenuhi kebencian.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah pernah menulis bahwa salah satu tanda hati yang hidup adalah hilangnya kebencian kepada manusia dan tumbuhnya rasa kasih sayang kepada mereka.

Karena itu, jika kita masih mudah membenci orang lain, masih kesal melihat keberhasilan orang lain, masih merasa dunia ini tidak adil kepada kita, maka sebenarnya ada sesuatu yang belum selesai di dalam hati kita.

Baca Juga  Buah Kesabaran Itu adalah Keberhasilan

Barangkali ibadah kita masih sebatas gerakan tubuh.

Belum sampai menyentuh kedalaman jiwa.

Padahal tujuan ibadah dalam Islam adalah membersihkan hati.

Allah berfirman:

> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan hati inilah salah satu tanda bahwa seseorang telah menyentuh cahaya Ramadhan dan keberkahan malam Lailatul Qadar.

Maka jangan berhenti mencari malam itu.

Teruslah mengetuk pintu langit dengan doa.

Teruslah membersihkan hati dari iri dan benci.

Teruslah belajar memaafkan manusia.

Karena boleh jadi Lailatul Qadar bukan hanya sebuah malam yang kita temukan dengan mata, tetapi sebuah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.

Jika suatu saat kita merasa hati menjadi lebih tenang…

lebih mudah bersyukur…

lebih ringan memaafkan…

dan tidak lagi sibuk menghitung kekurangan hidup…

maka mungkin saat itulah kita mulai merasakan cahaya Lailatul Qadar yang sebenarnya.

Dan itulah kemenangan yang paling indah dalam Ramadhan.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan malam yang penuh kemuliaan itu. Aamiin.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button