M O Z A I K

Ketika Dunia Terasa Tidak Adil

Ketika Dunia Terasa Tidak Adil

Oleh: Bangun Lubis

Kadang kita terdiam memandang kehidupan. Dunia manusia ini terasa aneh. Orang yang berbuat baik justru sering disakiti. Orang yang sedang kesulitan malah diabaikan. Bahkan tidak jarang, saudara sendiri pun perlahan menjauh dan tidak lagi memberi perhatian.

Padahal jika kita membuka Al-Qur’an, Allah telah memberikan pedoman yang sangat jelas tentang bagaimana manusia seharusnya hidup bersama.

Allah berfirman:“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil, berbuat ihsan (kebaikan), dan memberi kepada kaum kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini sering dibacakan dalam khutbah Jumat di berbagai tempat di dunia. Ia seperti ringkasan dari akhlak sosial dalam Islam. Ada tiga perintah penting di dalamnya: berlaku adil, berbuat baik, dan memperhatikan kerabat.

Namun kenyataannya, manusia sering menjalani hidup jauh dari tiga prinsip itu.

Keadilan sering dikalahkan oleh kepentingan. Kebaikan sering diabaikan karena tidak memberi keuntungan. Bahkan hubungan darah pun kadang kalah oleh urusan dunia.

Itulah sebabnya dunia terasa seperti tempat yang tidak selalu adil.

Tetapi Al-Qur’an sejak awal sudah mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang bukan tempat sempurna. Dunia adalah tempat ujian.

Allah berfirman:“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”(QS. Al-Mulk: 2)

Baca Juga  Walaupun Engkau tak Dipedulikan Orang, Tetaplah Sabar dan Balas dengan Kebaikan

Artinya, ketidakadilan yang kita lihat, sikap manusia yang kadang menyakitkan, bahkan pengabaian dari orang-orang terdekat—semua itu adalah bagian dari ujian kehidupan.

Ujian itu bukan hanya bagi yang disakiti. Tetapi juga bagi yang memiliki kesempatan untuk berbuat baik.

  • Apakah ia akan menolong?
  • Ataukah ia memilih berpaling?

Islam sebenarnya sangat menekankan kepedulian sosial, terutama kepada keluarga dan kerabat. Rasulullah ﷺ bahkan memberi peringatan keras bagi orang yang memutus hubungan silaturahmi.

Beliau bersabda:“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan dengan saudara dan keluarga. Dalam pandangan Islam, silaturahmi bukan sekadar hubungan sosial, tetapi juga bagian dari ibadah.

Sayangnya, dalam kehidupan modern, manusia sering sibuk dengan dirinya sendiri. Kesibukan dunia, pekerjaan, dan urusan pribadi sering membuat hati menjadi sempit. Kepedulian perlahan memudar.

Padahal Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam hal kepedulian.

Beliau tidak hanya memperhatikan keluarga dekat, tetapi juga orang-orang miskin, anak yatim, bahkan orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Beliau pernah bersabda:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga  Qana’ah: Kunci Kebahagiaan Dunia yang Sering Kita Lupakan

Inilah gambaran ideal masyarakat dalam Islam: saling merasakan, saling peduli, dan saling menolong.

Namun ketika nilai-nilai itu mulai hilang, manusia akan merasakan kesepian di tengah keramaian. Banyak orang hidup di tengah keluarga, tetapi hatinya tetap merasa sendiri.

Karena itu, ketika kita melihat ketidakadilan dalam kehidupan, jangan sampai hati kita berubah menjadi keras.

Tetaplah berusaha menjadi orang yang berbuat baik.

Tetaplah peduli kepada saudara. Tetaplah menolong orang yang sedang kesulitan.

Sebab pada akhirnya, kebaikan tidak pernah hilang di sisi Allah.

Allah berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.”(QS. Az-Zalzalah: 7)

Manusia boleh saja melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan. Mereka bisa saja tidak menghargainya. Tetapi Allah tidak pernah lupa mencatatnya.

  • Dan mungkin di situlah rahasia kehidupan: bahwa kebaikan sejati tidak selalu dihargai oleh manusia, tetapi pasti dihargai oleh Allah.

Karena itu, ketika dunia terasa tidak adil, jangan berhenti menjadi orang baik. Sebab kebaikan bukan sekadar untuk manusia, tetapi untuk menghadap Allah pada hari ketika semua amal diperlihatkan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button