Mengapa Sebagian Umat Islam Enggan ke Kajian dan Masjid? Sebuah Refleksi Zaman

Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim
Fenomena menurunnya keterikatan sebagian umat Islam terhadap majelis ilmu dan masjid adalah kenyataan sosial yang tidak bisa diabaikan. Di banyak tempat, masjid tetap berdiri megah, pengeras suara tetap memanggil lima waktu, dan kajian-kajian tetap diundang. Namun kursi-kursi di sebagian majelis sering tidak terisi penuh, dan saf-saf shalat berjamaah tidak sepadat masa lalu.
Pertanyaannya bukan sekadar “ke mana umat pergi?”, tetapi lebih dalam: “apa yang berubah dalam kehidupan umat sehingga masjid tidak lagi menjadi pusat gravitasi spiritual seperti dulu?”
Jawaban atas pertanyaan ini tidak tunggal. Ia merupakan persilangan antara perubahan zaman, kondisi sosial, psikologi manusia modern, hingga kualitas internal kehidupan beragama itu sendiri.
Dunia yang Bergerak Lebih Cepat dari Hati
Kita hidup di era yang serba cepat. Informasi datang tanpa jeda, pekerjaan menuntut tanpa henti, dan hiburan hadir di genggaman tangan setiap detik. Dalam situasi seperti ini, banyak orang mengalami apa yang bisa disebut sebagai “kelelahan perhatian”.
Masjid dan kajian membutuhkan sesuatu yang semakin langka hari ini: kehadiran yang utuh. Seseorang harus duduk, mendengar, merenung, dan menahan diri dari distraksi. Sementara dunia digital menawarkan sebaliknya: cepat, instan, dan tanpa tuntutan fokus yang panjang.
Akibatnya, sebagian orang tanpa sadar mulai menjauh bukan karena menolak agama, tetapi karena ritme hidup mereka tidak lagi selaras dengan ritme majelis ilmu.
Lunturnya Keterikatan Emosional dengan Masjid
Masjid dalam sejarah Islam bukan sekadar tempat shalat, tetapi pusat peradaban: pendidikan, musyawarah, bahkan pembinaan sosial. Namun dalam banyak kehidupan modern, fungsi itu perlahan menyempit menjadi sekadar tempat ibadah ritual.
Ketika seseorang tidak tumbuh dalam kedekatan emosional dengan masjid, maka masjid akan terasa sebagai tempat yang “formal”, bukan “rumah batin”. Ia datang hanya ketika ada kebutuhan tertentu: Ramadhan, Jumat, atau acara seremonial.
Padahal Rasulullah SAW membangun masyarakat yang hatinya terpaut dengan masjid. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa salah satu golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah:
“Seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid.”* (HR. Bukhari dan Muslim)
Keterpautan hati ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, tetapi dibangun melalui kebiasaan, pengalaman spiritual, dan lingkungan sosial.
Kita juga perlu jujur bahwa sebagian umat merasa kajian agama belum selalu menjawab persoalan hidup mereka secara langsung. Ada yang merasa kajian terlalu teoritis, terlalu jauh dari problem sehari-hari: ekonomi, keluarga, tekanan kerja, kesehatan mental, dan keresahan hidup modern.
Padahal manusia hari ini tidak hanya butuh nasihat normatif, tetapi juga bimbingan yang membumi: bagaimana menghadapi stres, bagaimana mendidik anak di era digital, bagaimana menjaga kejujuran di tengah tekanan ekonomi.
Ketika kajian mampu menjembatani langit dan bumi—antara nilai-nilai wahyu dan realitas kehidupan—maka ia akan kembali hidup dalam hati umat.
Hati yang Naik Turun
Dalam Islam, kondisi spiritual manusia tidak pernah statis. Ia naik dan turun. Rasulullah SAW bersabda bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Maka sebagian orang yang menjauh dari masjid bukan berarti keluar dari Islam, tetapi sedang berada dalam fase lemahnya iman. Bisa karena dosa, kelalaian, atau tekanan hidup yang membuat hati menjadi keras tanpa disadari.
Al-Qur’an mengingatkan: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?”* (QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini seakan menjadi cermin bahwa hati manusia memang bisa menjadi keras jika terlalu lama jauh dari dzikir dan ilmu.
Pengaruh Dunia Digital dan Ilusi Kedekatan
Salah satu fenomena paling kuat hari ini adalah “ilusi kedekatan spiritual” melalui media sosial. Seseorang bisa mendengar ceramah setiap hari melalui YouTube, TikTok, atau podcast, sehingga merasa sudah cukup secara spiritual.
Padahal ada perbedaan besar antara “mendengar agama” dan “mengalami majelis ilmu”. Kajian langsung di masjid membawa suasana, adab, interaksi, dan keberkahan kebersamaan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan layar.
Namun kenyataan digital ini tetap harus dipahami dengan bijak. Ia bukan musuh, tetapi tantangan baru dalam membangun kembali budaya kehadiran fisik di masjid.
Jalan Keluar: Menghidupkan Kembali Makna, Bukan Sekadar Seruan
Solusi dari fenomena ini tidak cukup dengan seruan normatif “ayo ke masjid” atau “hadirilah kajian”. Yang dibutuhkan adalah revitalisasi makna.
Pertama, masjid perlu kembali menjadi ruang yang ramah bagi semua kalangan: muda, tua, pekerja, pelajar. Kajian perlu disusun dengan bahasa yang menyentuh kehidupan nyata, bukan hanya bahasa formal keilmuan.
Kedua, para dai dan pengisi kajian perlu memahami psikologi jamaah modern. Dakwah hari ini bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, tetapi juga soal cara menyentuh hati yang lelah dan terdistraksi.
Ketiga, keluarga harus kembali menjadi basis pembiasaan spiritual. Anak yang tumbuh dengan melihat orang tuanya ke masjid akan lebih mudah menjadikan masjid sebagai bagian hidupnya.
Keempat, umat perlu menyadari bahwa ketenangan batin tidak bisa digantikan oleh konsumsi digital semata. Ada ruang kosong dalam diri manusia yang hanya bisa diisi oleh dzikir, ilmu, dan kebersamaan dalam kebaikan.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang “siapa yang datang dan siapa yang tidak datang ke masjid”. Ini adalah persoalan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhannya di tengah dunia yang semakin bising.
Masjid tetap memanggil. Kajian tetap terbuka. Namun hati manusia sedang berada dalam banyak tarikan: dunia, pekerjaan, gadget, dan kesibukan yang tak pernah selesai.
Tugas kita bukan menghakimi, tetapi memahami. Bukan hanya mengajak, tetapi juga memperbaiki cara mengajak.
Sebab ketika hati kembali menemukan ketenangan dalam sujud dan ilmu, maka masjid bukan lagi tempat yang dikunjungi sesekali, tetapi rumah yang dirindukan setiap waktu.



