Ketika Dunia Makin Gelap, Kok Kita Masih Tenang-Tenang Saja?

Ketika Dunia Makin Gelap, Kok Kita Masih Tenang-Tenang Saja?
Oleh: Bangun Lubis – Wartawan Muslim
Dunia hari ini sedang berjalan menuju arah yang membuat hati sesungguhnya pantas merasa gelisah. Bukan hanya karena peperangan, bencana, kemiskinan, atau kerusakan moral yang semakin nyata di depan mata, tetapi juga karena manusia mulai kehilangan hubungan paling penting dalam hidupnya: hubungan dengan Allah SWT.
Anehnya, di tengah begitu banyak tanda dan peringatan, sebagian manusia masih hidup seolah semuanya baik-baik saja. Masih tertawa tanpa batas, masih sibuk mengejar dunia, masih lalai dari salat, masih ringan melakukan dosa, dan masih menunda taubat. Padahal usia terus berjalan, kematian semakin dekat, dan dunia sedang menunjukkan tanda-tanda bahwa manusia telah terlalu jauh dari Tuhannya.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini terasa begitu hidup di zaman sekarang. Kerusakan bukan hanya soal alam, tetapi juga kerusakan hati, rusaknya akhlak, pudarnya kasih sayang, dan hilangnya rasa takut kepada Allah. Manusia semakin cerdas secara teknologi, tetapi semakin miskin secara ruhani.
Kita melihat berita setiap hari. Ada perang yang menumpahkan darah, ada anak-anak kelaparan, ada keluarga hancur karena narkoba, ada korupsi yang merajalela, ada fitnah dan kebencian berseliweran di media sosial. Bahkan manusia mulai bangga mempertontonkan maksiat tanpa rasa malu.
Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika hati kita tidak lagi tersentuh.
Kita melihat semua itu, tetapi tetap merasa aman. Tetap merasa punya waktu panjang. Tetap merasa kematian masih jauh. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda:
> “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini seperti mengetuk kesadaran kita. Hidup bukan sekadar makan, bekerja, tidur, lalu mengumpulkan harta. Ada kehidupan yang lebih panjang setelah dunia ini. Ada hisab. Ada surga dan neraka. Ada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah tanpa membawa jabatan, kekayaan, ataupun popularitas.
Sayangnya, manusia modern sering tertipu oleh kenyamanan sementara. Ketika rezeki masih ada, tubuh masih sehat, dan rumah masih berdiri, kita merasa semuanya aman. Padahal bisa jadi itu adalah ujian kelalaian.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Dunia adalah negeri amal tanpa hisab, sedangkan akhirat adalah negeri hisab tanpa amal.”
Kalimat ini begitu dalam. Hari ini kita masih diberi kesempatan memperbaiki diri. Masih bisa bersujud. Masih bisa membaca Al-Qur’an. Masih bisa meminta ampun. Tetapi entah sampai kapan kesempatan itu ada.
Banyak manusia baru sadar ketika musibah datang. Ketika sakit menghampiri. Ketika kehilangan orang tercinta. Ketika usia mulai senja. Padahal Allah sudah berkali-kali memanggil manusia lewat berbagai cara.
Kadang lewat azan yang terdengar lima kali sehari.
Kadang lewat kematian teman dekat.
Kadang lewat kegagalan hidup.
Kadang lewat kesedihan yang membuat hati terasa kosong.
Tetapi manusia sering lebih sibuk mendengarkan dunia daripada mendengarkan panggilan Allah.
Padahal ketenangan sejati bukanlah ketika hidup tanpa masalah, melainkan ketika hati dekat dengan Allah.
Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini adalah jawaban bagi kegelisahan manusia modern. Banyak orang memiliki rumah mewah tetapi tidak tenang. Banyak yang terkenal tetapi kesepian. Banyak yang kaya tetapi hatinya kosong. Karena ketenangan bukan dibeli dengan dunia, melainkan diperoleh melalui iman dan kedekatan kepada Allah.
Maka pertanyaannya sekarang adalah: sampai kapan kita akan menunda berubah?
Sampai kapan salat masih sering ditinggalkan?
Sampai kapan Al-Qur’an hanya menjadi pajangan?
Sampai kapan dosa dianggap hal biasa?
Sampai kapan hati ini terus mencintai dunia melebihi akhirat?
Sesungguhnya Allah tidak pernah menutup pintu taubat. Sebesar apa pun dosa manusia, rahmat Allah jauh lebih besar. Rasulullah SAW bersabda:
> “Setiap anak Adam pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Karena itu, jangan pernah merasa terlambat untuk kembali kepada Allah. Bahkan langkah kecil menuju kebaikan sangat dicintai oleh-Nya. Mulailah dari hal sederhana: menjaga salat, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an walau sedikit, memperbaiki akhlak, dan meninggalkan dosa-dosa yang selama ini dianggap ringan.
Dunia memang semakin berat. Fitnah semakin besar. Godaan semakin dekat. Tetapi seorang mukmin sejati tidak boleh hanyut dalam kelalaian. Ia harus menjadi cahaya di tengah gelapnya zaman.
Kita tidak tahu kapan dunia berakhir. Kita juga tidak tahu kapan usia kita selesai. Tetapi yang pasti, setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada kematian.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Dunia berjalan meninggalkan kita, sedangkan akhirat berjalan mendatangi kita.”
Betapa banyak manusia yang hari ini masih sempat tertawa, tetapi esok sudah terbujur kaku. Betapa banyak rencana dunia yang akhirnya terputus karena ajal datang tanpa izin.
Karena itu, jangan terlalu merasa aman dengan hidup ini.
Jangan terlalu tenang dalam kelalaian.
Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan akhirat.
Mungkin hari ini Allah masih memberi kesempatan karena Dia ingin kita kembali.
Mungkin hari ini Allah masih memberi napas karena Dia menunggu taubat kita.
Dan mungkin, ini adalah saat terbaik untuk memulai perubahan sebelum semuanya terlambat.
Semoga hati kita tidak menjadi hati yang keras. Semoga Allah menjaga iman kita di tengah zaman yang penuh fitnah. Dan semoga ketika dunia semakin gelap, kita justru semakin dekat kepada cahaya Allah SWT. Aamiin.




