M O Z A I K

Ketulusan Hati: Menabur Kebaikan Tanpa Mengharap Penghargaan Orang Lain

Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang bahaya riya’, yaitu melakukan ibadah atau kebaikan demi dilihat dan dipuji manusia. Dalam hadis riwayat Ahmad, beliau memperingatkan umatnya tentang syirik kecil, yang dijelaskan sebagai riya’.

Ketulusan Hati: Menabur Kebaikan Tanpa Mengharap Penghargaan Orang Lain

Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen dan Wartawan Muslim

Berharap pada penghargaan manusia sering kali berujung pada kekecewaan. Sebab, penilaian, pujian, dan apresiasi orang lain berada di luar kendali kita. Ketika seseorang mampu berkarya, berbuat baik, dan memberikan manfaat tanpa haus pujian, di situlah keikhlasan mulai tumbuh. Ia bekerja bukan semata-mata demi pengakuan manusia, melainkan karena meyakini bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di hadapan Allah SWT.

1. Keikhlasan: Bebas dari Haus Pujian (Riya’)

Fokus utama seorang mukmin dalam beramal adalah mencari keridaan Allah, bukan mengejar popularitas atau pengakuan publik. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Insan (76): 9:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”

Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan sejati tidak harus disertai tuntutan balasan. Kita boleh bersyukur ketika dihargai, tetapi jangan sampai semangat berbuat baik hilang hanya karena tidak mendapat pujian.

Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang bahaya riya’, yaitu melakukan ibadah atau kebaikan demi dilihat dan dipuji manusia. Dalam hadis riwayat Ahmad, beliau memperingatkan umatnya tentang syirik kecil, yang dijelaskan sebagai riya’.

Karena itu, marilah kita senantiasa memeriksa niat. Apakah kita berbuat baik karena Allah atau karena ingin dianggap hebat oleh manusia?

2. Menjauhi Kesombongan dan Sikap Egois

Keinginan untuk selalu dipuji dapat menjerumuskan seseorang pada kesombongan. Ia merasa dirinya paling berjasa, paling benar, atau paling pantas mendapatkan penghormatan. Padahal, setiap kemampuan, kesempatan, dan keberhasilan pada hakikatnya merupakan karunia Allah SWT.

Baca Juga  Menjaga Hati Serta Menerima dengan Jiwa yang Luas

Dalam QS. Luqman (31): 18, Allah melarang manusia memalingkan wajah dari sesama karena sombong dan berjalan di bumi dengan angkuh.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim, bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Beliau juga menjelaskan bahwa Allah Mahaindah dan menyukai keindahan.

Pesannya jelas: kita boleh berprestasi, memiliki kedudukan, dan menghasilkan karya besar. Namun, semua itu tidak boleh membuat kita merendahkan orang lain. Kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak orang memujinya, melainkan pada ketakwaan, akhlak, dan manfaat yang diberikannya.

3. Belajar Menjaga Niat dari Para Ulama

Para ulama terdahulu memberikan perhatian besar terhadap persoalan niat. Sufyan ats-Tsauri dikenal menekankan betapa sulitnya menjaga niat karena hati manusia dapat berubah-ubah.

Fudhail bin Iyadh juga dikenal dengan nasihat tentang pentingnya ikhlas: meninggalkan amal karena manusia dapat menjadi riya’, sementara beramal demi mendapatkan pujian manusia merupakan penyimpangan niat.

Nasihat tersebut mengingatkan kita bahwa keikhlasan bukan perkara yang selesai dalam satu hari. Ia harus terus dilatih, diperiksa, dan diperbaiki sepanjang kehidupan.

Ketika mendapat pujian, jangan sampai kita lupa diri. Ketika menerima kritik, jangan langsung kehilangan semangat. Selama pekerjaan kita benar, bermanfaat, dan tidak bertentangan dengan ajaran Allah, teruslah berbuat baik sambil terbuka terhadap koreksi.

4. Berkarya untuk Manfaat, Bukan Sekadar PengakuanDalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai pendidik, wartawan, pemimpin, pengusaha, maupun anggota masyarakat, kita memiliki kesempatan untuk menanam kebaikan.

Baca Juga  Kesunyian yang Bermakna: Saat Diam Tidak Lagi Menjadi Masalah

Seorang dosen mendidik agar ilmu bermanfaat. Seorang wartawan menyampaikan informasi secara jujur dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin mengabdi demi kepentingan masyarakat. Setiap profesi dapat menjadi jalan ibadah apabila dijalankan dengan niat yang lurus dan cara yang benar.

Jangan berhenti berkarya hanya karena nama kita tidak disebut. Jangan pula merasa sia-sia ketika jasa kita tidak dikenang. Penghargaan manusia bisa datang dan pergi, tetapi kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tetap memiliki nilai di sisi Allah.

Tentu, apresiasi yang wajar bukanlah sesuatu yang terlarang. Kita boleh menghargai dan menerima penghargaan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai penghargaan menjadi tujuan utama, mengalahkan kejujuran dan ketulusan.

Tenanglah dalam Berbuat Baik

Membebaskan diri dari ketergantungan pada pujian manusia merupakan salah satu jalan menuju ketenangan jiwa. Kita tidak harus selalu menjadi pusat perhatian untuk menjadi manusia yang berarti.

Ubahlah pertanyaan dari “Apa kata orang tentang saya?” menjadi *“Apa manfaat yang dapat saya berikan kepada orang lain?”

Teruslah menebar kebaikan, sekalipun tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Jagalah kejujuran, sekalipun tidak selalu memperoleh penghargaan. Dan luruskan niat, sekalipun tidak seorang pun mengetahui perjuangan kita.

Sebab, tujuan akhir kehidupan bukanlah menjadi orang yang paling banyak dipuji manusia, melainkan menjadi hamba yang diridai Allah SWT.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan, menjauhkan kita dari riya’, dan membimbing kita agar senantiasa ikhlas dalam setiap amal.

Bang Bangun Lubis – Dosen dan Wartawan Muslim

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button