M O Z A I K

Jangan Rendahkan Sesama, Karena Allah Membencinya

Oleh: Bangun Lubis

Dalam hidup, kita sering berhadapan dengan beragam karakter manusia. Ada yang tampak berilmu, ada yang sederhana. Ada yang diberi kelapangan harta, ada yang diuji dengan kesempitan.

Namun satu hal yang harus kita ingat: kedudukan manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh penampilan atau keadaan lahiriah, melainkan oleh ketakwaan yang tersembunyi dalam hati.

Sayangnya, banyak di antara kita yang masih tergelincir dalam sikap meremehkan orang lain. Entah dengan ucapan mencemooh, tatapan merendahkan, atau sikap seolah-olah kita lebih baik. Padahal, sikap semacam ini amat dibenci Allah SWT.

Allah telah memperingatkan dengan tegas dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka. Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka…” (QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini menegaskan, bahwa di mata Allah, yang tampak hina belum tentu benar-benar hina. Justru mungkin saja, orang yang kita remehkan memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya karena amal-amalnya yang tersembunyi.

Baca Juga  Menjawab Kegelisahan Manusia, Allah Jamin Hidupmu

Rasulullah SAW pun memperingatkan dalam sabdanya:

“Cukuplah seseorang dianggap berbuat keburukan apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim.”(HR. Muslim)

Hadis ini memberi pesan bahwa merendahkan sesama sudah cukup membuat kita tercatat sebagai orang yang berbuat buruk, meski tanpa dosa-dosa besar lainnya. Betapa berat akibatnya di hadapan Allah.

Kisah yang Menggugah

Suatu ketika, sahabat mulia Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah mencela seorang budak dengan menyebut ibunya secara merendahkan. Rasulullah SAW segera menegurnya dengan keras:

“Wahai Abu Dzar, engkau telah mencelanya dengan ibunya. Sesungguhnya engkau masih memiliki sifat jahiliyah!”(HR. Bukhari dan Muslim)

Peristiwa ini menunjukkan bahwa meskipun Abu Dzar adalah sahabat yang dekat dengan Nabi, beliau tetap ditegur keras agar tidak meremehkan sesama. Apalagi kita yang hidup jauh setelah generasi terbaik umat ini.

Jangan pernah menilai seseorang hanya dari pakaian, pekerjaan, atau status sosialnya. Orang yang kita anggap rendah bisa jadi lebih dekat dengan Allah. Boleh jadi mereka sering menangis di sepertiga malam, rajin bersedekah diam-diam, atau menolong banyak orang tanpa diketahui publik.

Baca Juga  Rezeki: Ketetapan Ilahi, Usaha Insani

Sementara kita yang tampak baik di mata manusia, belum tentu baik di sisi Allah. Karena itu, merendahkan sesama hanya akan membuat kita menambah dosa dan menurunkan derajat diri sendiri.

Allah SWT berfirman lagi:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13)

Maka, marilah kita rawat hati dengan kerendahan diri, menjaga lisan dari ucapan yang meremehkan, serta memandang setiap orang dengan penuh penghormatan.

Sebab siapa pun yang kita temui adalah ciptaan Allah, dan mencemooh ciptaan-Nya sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta. Na‘udzubillah.

Jangan pernah merendahkan sesama, karena perbuatan itu hanya akan mendatangkan murka Allah. Sebaliknya, rendahkanlah hati kita di hadapan Allah, niscaya Dia akan meninggikan derajat kita.

> Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu‘ (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”* (HR. Muslim)

Semoga kita termasuk hamba yang selalu menjaga hati, lisan, dan perbuatan dari meremehkan orang lain.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button