Mencari Kehangatan yang Hilang

Oleh: Bangun Lubis ( Wartawan Muslim )
Dalam rumah tangga, Allah SWT menetapkan suami dan istri sebagai pasangan yang saling melengkapi, bukan saling menyaingi.
Allah berfirman:“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan ketenteraman (sakinah), kasih (mawaddah), dan sayang (rahmah). Jika seorang istri tidak peduli pada suaminya, maka hakikat tujuan pernikahan itu menjadi pudar, bahkan bisa menimbulkan keretakan rumah tangga.
Hak dan Kewajiban dalam Pandangan Islam
Islam mengajarkan keseimbangan hak dan kewajiban antara suami dan istri. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami atas istri.”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Hadis ini bukan untuk merendahkan wanita, melainkan menekankan betapa besar kewajiban istri dalam menghormati suaminya. Kepedulian seorang istri kepada suaminya tercermin dari sikapnya yang menjaga kehormatan, perhatian, dan ketaatan dalam perkara yang ma’ruf.
Allah SWT juga menegaskan:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”(QS. An-Nisa: 34)
Ayat ini menunjukkan peran kepemimpinan suami, namun pada saat yang sama menuntut adanya dukungan, penghormatan, dan kepedulian dari istri.
Bahaya Istri yang Abai terhadap Suaminya
Para ulama menjelaskan bahwa seorang istri yang tidak peduli pada suami — misalnya acuh pada kebutuhannya, tidak menghargai pengorbanannya, atau bahkan melawan dalam hal yang ma’ruf — termasuk sikap yang bisa mengundang murka Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa ketaatan dan kepedulian kepada suami adalah bagian penting dari ibadah seorang istri. Sebaliknya, jika ia abai dan tidak peduli, maka ia sedang mengabaikan salah satu pintu besar menuju surga.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa salah satu bentuk kepedulian istri adalah menghormati suami, menenangkannya setelah penat bekerja, serta tidak membuatnya kecewa dengan kelalaian dalam urusan rumah tangga. Sikap tidak peduli berarti melawan fitrah pernikahan itu sendiri.
Mencari Jalan Perbaikan
Meski demikian, Islam tidak langsung mencela tanpa memberi solusi. Jika seorang istri mulai menunjukkan tanda-tanda tidak peduli, suami dituntun untuk menasihati dengan cara yang baik. Allah SWT berfirman:
*“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak menyakitkan). Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa: 34)
Ayat ini bukan untuk melegitimasi kekerasan, melainkan menekankan tahapan penyelesaian konflik: nasihat dengan lembut, memberi jarak sementara, lalu mencari solusi dengan cara yang adil.
Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa kepedulian dalam rumah tangga harus dijaga dua arah. Istri wajib peduli pada suami, begitu pula suami harus peduli pada istri. Karena tanpa keseimbangan itu, rumah tangga akan rapuh.
Istri yang tidak peduli pada suami bukan hanya mengurangi keharmonisan, tetapi juga bisa menghalangi keberkahan rumah tangga. Al-Qur’an, Hadis, dan ulama sepakat bahwa kepedulian seorang istri kepada suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.
Maka, menjaga cinta, perhatian, dan kepedulian dalam rumah tangga adalah ibadah yang akan membuka pintu-pintu rahmat Allah. Sebaliknya, sikap abai dan acuh dapat menjauhkan pasangan dari ketenteraman yang dijanjikan Allah.



