DUNIA ISLAM

Kalimat Menyentuh Hati yang Tidak Diridhai Allah: Sebuah Peringatan Lembut untuk Lisan Kita

Oleh: Bangun Lubis ( Satujalan.com)

KEHIDUPAN sehari-hari, tak jarang kita mendengar atau bahkan mengucapkan kata-kata yang indah, lembut, dan menyentuh hati.

Entah dalam konteks nasihat, motivasi, percakapan santai, bahkan dalam relasi yang tak halal. Namun, satu hal yang sering luput dari perhatian: apakah kata-kata itu membuat Allah ridha atau justru murka?

Bahaya Kalimat Indah yang Tak Pada Tempatnya

Di balik kalimat-kalimat menyentuh, ada dua kemungkinan: ia menjadi cahaya yang membimbing jiwa, atau justru menjadi api yang membakar iman secara perlahan. Kalimat manis yang menggoda, meski tidak disertai sentuhan fisik, bisa menggelincirkan hati. Terutama jika itu keluar dari lisan seseorang kepada lawan jenis bukan mahramnya, dalam konteks yang tidak dibenarkan syariat.

Allah SWT berfirman kepada para istri Nabi:

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit di dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.”*l(QS. Al-Ahzab: 32).

Ayat ini adalah peringatan langsung dari Allah: kata-kata lembut dan merendah yang keluar dari seorang wanita bisa membangkitkan penyakit hati pada lelaki—dan tentu berlaku sebaliknya.

Hadis Nabi: Kalimat yang Tak Disangka Bisa Menjerumuskan

Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan suatu kalimat yang menyebabkan murka Allah, padahal ia menganggapnya ringan, maka karena kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”

> *(HR. Bukhari dan Muslim)*

Baca Juga  Upgrading Knowledge Guru TKIT Al Furqon Palembang: Pelatihan Deep Learning Bersama Guru Penggerak

Betapa banyak orang yang berbicara hanya demi menyenangkan hati, merayu secara halus, atau menjalin komunikasi tanpa tujuan syar’i—namun di mata Allah, itu adalah dosa besar karena menyentuh hati yang bukan haknya.

Pandangan Ulama: Jangan Sembarang Menyentuh Hati

Imam Al-Ghazali dalam *Ihya Ulumuddin* membahas dosa-dosa lidah, salah satunya adalah mudaahanah. berbicara dengan manis untuk mengambil hati orang lain secara batil. Bahkan, jika digunakan dalam konteks dunia dakwah sekalipun, harus tetap memperhatikan niat dan batas syariat.

Sementara Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata:

“Hati manusia adalah milik Allah. Maka jangan sembarangan engkau menyentuhnya kecuali dengan izin dan ridha-Nya.”

Ucapan yang baik belum tentu benar, dan ucapan yang benar belum tentu diridhai Allah, jika tujuannya bukan karena-Nya.

Jangan Mencuri Hati dengan Kata

Di era digital, kalimat-kalimat menyentuh hati bertebaran di status WhatsApp, story Instagram, atau komentar media sosial. Banyak di antaranya yang dibuat hanya untuk “mengena“, bukan untuk “mengajak“. Padahal, mencuri hati seseorang melalui kata tanpa ikatan yang halal adalah pintu zina hati, sebagaimana dalam hadits:

“Sesungguhnya telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina. Maka ia akan mendapatkannya, tidak bisa tidak. Zina mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh…”(HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat manis, status puitis, atau komentar bersayap bisa menjadi zina lisan, bila tidak berhati-hati.

Baca Juga  Mengenal Allah Secara Dalam: Pengembaraan Jiwa Menuju Ketenteraman Hakiki

Menjaga Lisan adalah Menjaga Hati

Jika kita ingin kalimat kita menyentuh hati, maka pastikan itu menyentuh **hati yang mencari Allah**, bukan hati yang sedang lalai. Jangan pakai kata-kata menyentuh untuk menjaring perhatian, membuai perasaan, atau menabur kekaguman tanpa batas. Gunakan lisan untuk menuntun, bukan menuntun kepada kesesatan.

 

Allah menyukai kata-kata yang **ma’ruf**, bukan yang menggoda. Menyukai kalimat yang **mendamaikan**, bukan yang membuat penasaran. Menyukai perkataan **berisi hikmah**, bukan rayuan tanpa tujuan.

Bicara untuk Allah, Bukan untuk Hati yang Fana

Berhati-hatilah. Bisa jadi kalimat yang engkau ucapkan dengan manis hari ini, akan disoal oleh Allah di hari perhitungan.

Jangan sembarangan menyentuh hati seseorang yang bukan milikmu.

Jangan merasa bangga membuat orang kagum pada kata-katamu, jika itu menjauhkan mereka dari Allah.

Jangan pula menulis, membalas, atau berucap hanya untuk menggetarkan hati yang tak halal.

Biarlah kalimat kita sedikit, tapi jujur. Biarlah kata kita tak menyentuh hati, asalkan menyentuh langit. Karena ridha Allah, lebih baik daripada sejuta pujian dari manusia.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Jika kita pernah terpeleset, marilah bertaubat. Lisan ini terlalu mahal untuk digunakan sembarangan, dan hati manusia terlalu suci untuk disentuh tanpa izin dari-Nya.

*Ditulis dengan cinta untuk sesama penempuh jalan dakwah.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button