DUNIA ISLAM

Ketika Hidup Harus Memilih

 

Oleh: Albar Santosa Subari

Perang Tabuk menjadi salah satu ujian besar bagi umat Islam di Madinah. Ketika mayoritas penduduk Madinah bersatu mendukung perjuangan Nabi, sebagian kaum munafik justru menebar provokasi untuk melemahkan persatuan. Di antara mereka adalah Julas ibn Suwaid, seorang lelaki yang selama ini merawat seorang anak muda bernama Umair ibn Sa’ad. Hubungan mereka sangat dekat; Umair mencintai Julas seperti ayahnya sendiri.

Namun suatu hari, keluar ucapan dari mulut Julas yang membuat hati Umair terbelah. Dengan nada meremehkan, Julas berkata:

“Jika apa yang diucapkan Muhammad itu benar, niscaya kita lebih buruk daripada keledai.”

Ucapan itu menusuk hati Umair. Bagaimana mungkin seseorang meragukan kebenaran Nabi yang telah membawa cahaya kepada umat? Dengan tegas Umair berkata:

“Aku bersaksi bahwa Rasulullah benar. Dan jika engkau mengingkari beliau, maka aku—bukan engkau—yang lebih buruk dari keledai.”

Julas terkejut. Ia sadar telah terpeleset di hadapan anak muda yang jujur ini. Dengan gelisah ia berkata: “Umair, jangan ceritakan ini kepada siapa pun.”

Dua Pilihan yang Sama-sama Pahit

Baca Juga  Menghilangkan Kebodohan: Jalan Ilmu Menuju Cahaya Hidayah

Umair menangis dalam dilema. Jika ia melaporkan ucapan Julas kepada Nabi, ia takut menyakiti orang yang telah mengasuhnya sejak kecil. Namun bila ia diam, ia merasa ikut menanggung dosa karena membiarkan kemunafikan tumbuh di tengah umat.

Ia berkata kepada Julas:

“Engkau orang yang paling kucintai. Tapi engkau telah mengatakan sesuatu yang bila kusampaikan, akan membuatmu dicela. Dan bila aku diam… aku binasa. Maka aku memilih yang akibatnya lebih ringan.”

Dengan hati bergetar, Umair pun menemui Rasulullah SAW. Namun ketika dipanggil, Julas menyangkal semua laporan itu dan bersumpah bahwa Umair berbohong. Para sahabat pun menatap Umair dengan curiga. Dada Umair sesak. Ia menengadahkan tangan dan berdoa: “Ya Allah, turunkanlah kebenaran kepada Rasul-Mu.”

Wahyu Turun Menyingkap Tirai

Sekejap suasana berubah hening. Rasulullah SAW menerima wahyu dan membacakannya:

“Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu yang menyakitimu. Padahal sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran…”(QS. At-Taubah: 74)

Mendengar ayat itu, wajah Umair bersinar lega, sementara Julas tertunduk malu. Dengan suara lirih ia berkata:

“Aku bertobat, wahai Rasulullah…”

Baca Juga  Lepaskanlah Kesusahan Saudaramu, Allah Janjikan Rahmat dan Kemudahan Bagimu

Nabi menoleh kepada Umair, memegang telinganya, dan bersabda:

“Telingamu dapat dipercaya, wahai anak muda. Tuhan telah membenarkanmu.”

Julas yang semula bersumpah tak ingin menafkahi Umair lagi, akhirnya menarik sumpahnya dan memperlakukan Umair dengan segala kebaikan. Nama Umair pun tercatat indah dalam sejarah sebagai orang muda yang memilih kebenaran, meski pahit.

Hidup Adalah Pilihan

Rasulullah SAW bersabda:

“Katakanlah kebenaran itu, walaupun pahit.”

Dan Allah mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11)*

Hidup selalu menyuguhkan dua jalan: jalan keberanian atau jalan kenyamanan. Jalan kebenaran atau jalan pembiaran. Jalan usaha atau jalan putus asa.

Orang yang memilih sukses yakin bahwa rezekinya dijamin Allah. Bila ia jatuh, ia menyebutnya hanya sebagai sukses yang tertunda. Ia terus bekerja keras, terus menatap tujuannya: kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

Pada akhirnya, seperti Umair ibn Sa’d, kita semua pada masanya akan berdiri di persimpangan. Dan ketika hidup memaksa kita memilih, semoga kita memilih jalan yang diridhai-Nya.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button