
Hai Jiwa yang Tenang, Pulanglah
Rabi‘ah Al-Adawiyah adalah seorang kekasih Allah. Seluruh hidupnya diabdikan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Siang hari ia berpuasa, malam hari ia tenggelam dalam shalat dan munajat. Diriwayatkan, ia menunaikan shalat hingga seribu rakaat dalam sehari. Namun ibadahnya bukanlah karena mengharap surga, bukan pula karena takut akan neraka. Ia beribadah semata-mata karena cinta—cinta yang murni kepada Allah SWT.
Demi menjaga kemurnian cintanya itu, Rabi‘ah memilih untuk tidak menikah sepanjang hidupnya. Bukan karena menolak fitrah, tetapi karena hatinya telah penuh oleh Sang Kekasih Sejati. Karena ketulusan dan kesuciannya, Syaikh Fariduddin ‘Aththar menjulukinya “Perawan Suci dan Maryam Kedua.”
Ketika saat wafatnya tiba, Rabi‘ah Al-Adawiyah dikelilingi oleh orang-orang saleh. Namun dengan suara yang lembut dan penuh wibawa, ia berkata,
“Bangkitlah kalian. Silakan keluar. Berilah jalan bagi utusan Allah.”
Mereka pun keluar dan menutup pintu. Dari balik ruangan itu terdengar Rabi‘ah mengucapkan syahadat. Lalu terdengarlah sebuah suara—indah, syahdu, dan menenteramkan:
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)*
Seakan suara itu berkata,”Wahai jiwa yang penuh cinta. Kini saatnya engkau menikmati kebahagiaan yang tiada berakhir. Naiklah ke puncak tertinggi. Bergabunglah bersama para kekasih Tuhan Yang Maha Pengasih. Bergembiralah di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.”
Rabi‘ah Al-Adawiyah telah menyelesaikan tugasnya sebagai bidadari dunia*. Ia telah mencapai akhir perjalanan ruhani. Mereka yang sampai di titik ini telah menyingkirkan hijab antara dirinya dan Tuhan. Ruh mereka menetap dalam Nur Hakiki, menikmati kedekatan sejati—kegembiraan ruh dalam kesempurnaan Keindahan Ilahi.
Sebagian dari mereka naik ke derajat cahaya keyakinan yang kokoh dalam batin, pikirannya terpusat sepenuhnya pada Yang Gaib. Dan Rabi‘ah adalah salah satu di antara mereka—kekasih Allah yang sejati. Cintanya tulus, suci, murni, dan tak tertandingi.
Lalu kita bertanya pada diri sendiri: adakah yang takut mati?
Ketahuilah, kematian adalah keniscayaan.
Setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Dan pada hari kiamatlah pahala disempurnakan.
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ke mana pun kita bersembunyi, resep apa pun yang dicari untuk memperpanjang usia, siapa pun pengawal yang menjaga, tua atau muda—cepat atau lambat—kematian pasti akan menjemput.
Karena itu, marilah kita terus berdoa.
Memperbanyak amal saleh.
Mempertebal iman.
Agar kelak kita dipanggil dengan panggilan cinta, seperti Rabi‘ah Al-Adawiyah dipanggil oleh Sang Kekasih.
“Wahai jiwa yang tenang, pulanglah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”


