Air Mata di Atas Sajadah

Air Mata di Atas Sajadah
Cerpen Bang Bangun
Subuh masih menyisakan dingin ketika Tigor melipat sajadahnya dengan perlahan. Di sudut ruang tamu yang sederhana itu, ia menengadah beberapa saat. Kedua telapak tangannya masih terangkat, bibirnya bergetar menahan haru.
“Ya Allah… jangan kurangi cintaku kepada istriku hanya karena ia sering melukai hatiku. Jika Engkau belum memberiku keluasan rezeki, lapangkanlah hatinya agar ia tetap mampu tersenyum.”
Doa itu hampir selalu sama setiap malam.
Tidak pernah berubah.
Sudah bertahun-tahun.
Usia Tigor lima puluh sembilan tahun. Rambutnya memutih, punggungnya mulai sedikit membungkuk, dan langkahnya tak lagi sekuat dulu. Namun satu hal yang tidak pernah menua adalah semangatnya mencari rezeki yang halal.
Ia sadar, penghasilannya kecil.
Kadang sehari hanya cukup membawa pulang uang seratus ribu rupiah. Kadang lebih sedikit. Bahkan pernah beberapa hari ia pulang hanya membawa senyum dan permintaan maaf kepada keluarganya.
Namun ia tidak pernah menyerah.
Baginya, Allah tidak pernah memerintahkan manusia menjadi kaya. Allah hanya memerintahkan manusia untuk berikhtiar dan bertawakal.
Di dapur terdengar suara piring diletakkan sedikit keras.
Sakdiah, istrinya, keluar tanpa senyum.
“Bapak berangkat lagi?”
“Iya.”
“Mudah-mudahan hari ini jangan pulang hanya membawa alasan.”
Kalimat itu menghentikan langkah Tigor.
Sesaat dadanya terasa sesak.
Tetapi ia hanya tersenyum.
“Insya Allah aku pulang membawa rezeki.”
Sakdiah menggeleng.
“Rezeki… rezeki… Sudah bertahun-tahun yang dibawa tetap sedikit. Coba lihat suami Bu Lina. Usianya hampir sama dengan Bapak. Rumahnya sudah dua lantai.”
Tigor tidak menjawab.
Ia hanya mencium tangan istrinya sebelum keluar rumah.
Sakdiah menarik tangannya perlahan.
Entah mengapa, beberapa tahun terakhir ia lebih sering melihat kekurangan suaminya daripada perjuangannya.
Di jalan, Tigor mengayuh sepeda tuanya. Matahari belum tinggi, tetapi keringat sudah membasahi dahinya. Hari itu ia kembali menawarkan jasa menulis, membantu menyusun dokumen, dan pekerjaan apa saja yang halal. Berkali-kali ia ditolak.
Menjelang sore, ia akhirnya memperoleh sedikit upah.
Dalam perjalanan pulang, ia membeli beras, beberapa butir telur, sedikit ikan asin, dan sebungkus kecil susu untuk cucunya.
Ia sendiri tidak membeli apa-apa.
Bahkan sandal yang dipakainya sudah beberapa kali dijahit.
Ketika sampai di rumah, Sakdiah membuka kantong belanja.
“Hanya ini?”
“Iya… Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah terus. Apa Bapak tidak pernah malu?”
Pertanyaan itu membuat Tigor terdiam.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Aku lebih malu kalau berhenti berusaha.”
Sakdiah tidak menjawab.
Malam itu anak-anak mereka datang berkunjung.
Di depan anak-anak, Tigor tetap tersenyum, bercerita, dan bercanda seolah tidak ada apa-apa. Tidak seorang pun tahu bahwa hampir setiap hari hatinya terluka oleh ucapan perempuan yang paling ia cintai.
Ketika semua telah tidur, Tigor membuka buku kecil yang selalu ia bawa.
Di sana tertulis pengeluaran keluarga, daftar kebutuhan, dan doa-doa yang ia tulis sendiri.
Pada halaman terakhir tertulis:
*”Hari ini Sakdiah kembali marah. Ya Allah, jangan catat kemarahannya sebagai dosa. Mungkin aku yang belum mampu menjadi suami seperti yang ia impikan.”*
Air mata jatuh di atas kertas itu.
Tidak ada yang melihat.
Hanya Allah.
Hari-hari berlalu.
Tigor tetap bekerja tanpa mengenal lelah.
Namun tubuhnya semakin sering memberi tanda.
Ia mudah lelah.
Sering pusing.
Napasnya mulai pendek.
Suatu siang, di bawah terik matahari, langkahnya tiba-tiba limbung.
Ia jatuh di pinggir jalan.
Orang-orang yang mengenalnya segera membawa Tigor ke rumah sakit.
Dokter berkata pelan kepada keluarga.
“Beliau terlalu memaksakan diri. Tubuhnya kekurangan istirahat dan sering terlambat makan.”
Sakdiah terpaku.
“Terlambat makan?”
“Iya. Lambungnya kosong. Sepertinya ini sudah sering terjadi.”
Dunia Sakdiah seakan berhenti berputar.
Selama ini ia selalu memasak.
Lalu mengapa suaminya sering tidak makan?
Ketika membersihkan tas Tigor, ia menemukan kotak makan yang masih utuh.
Nasi itu tidak pernah disentuh.
Di sampingnya ada secarik kertas kecil.
*”Biar anak-anak makan lebih banyak. Aku masih kuat menahan lapar.”*
Seketika dada Sakdiah seperti diremas.
Tangannya gemetar.
Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.
Ia membuka buku harian kecil milik Tigor.
Semakin banyak halaman yang dibaca, semakin deras air matanya mengalir.
Tidak ada satu pun tulisan yang berisi keluhan.
Tidak ada satu pun kalimat yang menyalahkannya.
Yang ada hanyalah doa.
*”Ya Allah, bahagiakan Sakdiah meskipun bukan melalui hartaku.”*
*”Ya Allah, jangan biarkan anak-anakku mengetahui ibunya sering memarahiku. Aku ingin mereka tetap mencintainya.”*
*”Ya Allah, bila aku tidak sempat menjadi suami yang kaya, izinkan aku menjadi suami yang sabar.”*
Sakdiah menangis sejadi-jadinya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa menjadi perempuan yang paling miskin.
Bukan miskin harta.
Tetapi miskin rasa syukur.
Ketika Tigor sadar dari tidurnya, ia melihat Sakdiah duduk di samping ranjang sambil memegang tangannya.
Perempuan itu menangis seperti anak kecil.
“Pak… maafkan aku…”
Tigor tersenyum lemah.
“Mengapa menangis?”
“Aku terlalu sering menyakitimu.”
Tigor menggeleng.
“Kau tidak menyakitiku. Kau hanya sedang kecewa kepada keadaan.”
“Tidak… aku salah. Selama ini aku melihat laki-laki lain membawa banyak uang. Aku lupa bahwa suamiku pulang membawa sesuatu yang lebih mahal.”
“Apa itu?”
“Kesetiaan… kejujuran… dan doa.”
Tigor menutup mata.
Air mata ikut mengalir dari sudut matanya.
“Aku hanya ingin kita sama-sama masuk surga, Bu.”
Kalimat sederhana itu membuat Sakdiah tak mampu lagi berkata-kata.
Ia mencium tangan suaminya yang selama ini lebih sering ia abaikan.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tangan yang kasar itu bukan karena kemalasan.
Melainkan karena perjuangan.
Sejak hari itu, rumah mereka tetap sederhana.
Rezeki Tigor tidak tiba-tiba menjadi berlimpah.
Tetapi setiap pagi, ketika Tigor hendak berangkat, Sakdiah kini mengantarnya sampai ke depan pintu.
“Hati-hati, Pak.”
Lalu ia mencium tangan suaminya dengan mata yang selalu berkaca-kaca.
Karena akhirnya ia mengerti…
Tidak semua lelaki mampu menghadiahkan istrinya rumah yang besar.
Tetapi lelaki yang setiap hari berjuang, tetap pulang, tetap setia, tetap menjaga salatnya, tetap mendoakan istrinya meski sering disakiti, adalah anugerah yang tidak bisa dibeli dengan harta sebanyak apa pun.
Dan setiap kali Tigor bersujud di sepertiga malam, air mata masih jatuh membasahi sajadahnya.
Bedanya, kini di sampingnya ada Sakdiah yang ikut menangis.
Bukan lagi karena kecewa.
Melainkan karena syukur telah dipertemukan dengan seorang lelaki yang mengajarkan bahwa cinta sejati bukan diukur dari banyaknya uang yang dibawa pulang, tetapi dari kesabaran yang tetap hidup ketika hati berkali-kali terluka.



