M O Z A I K

SERIUSLAH BERAGAMA, JANGAN SAMPAI DUNIA MELALAIKAN KITA

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

SERIUSLAH BERAGAMA, JANGAN SAMPAI DUNIA MELALAIKAN KITA

Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen dan Wartawan Muslim

Kehidupan ini bukan permainan tanpa tujuan. Kita lahir, tumbuh, bekerja, mencari rezeki, berkeluarga, kemudian pada waktunya meninggalkan dunia. Setelah itu, kita akan kembali kepada Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan hidup kita. Karena itu, seorang Muslim seharusnya tidak menjalani agama dengan setengah hati. Seriuslah beragama, karena kehidupan akhirat bukan sesuatu yang bisa kita tunda.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr [59]: 18:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

Ayat ini merupakan peringatan sekaligus ajakan untuk melakukan introspeksi. Setiap hari kita seharusnya bertanya kepada diri sendiri: sudah berapa banyak amal yang kita siapkan? Sudahkah shalat kita benar? Sudahkah rezeki kita halal? Sudahkah kita menjaga lisan? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti? Dan sudahkah kita benar-benar mendekat kepada Allah?

Jangan sampai kita sangat serius mengejar dunia, tetapi tidak serius mempersiapkan akhirat. Kita mampu menghabiskan waktu berjam-jam mencari uang, berdagang, bekerja, bermain telepon genggam dan mengikuti berbagai urusan dunia, tetapi terkadang merasa berat menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, berzikir dan memperbaiki ibadah.

Padahal dunia ini sangat singkat dibandingkan kehidupan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari).

Hadis ini bukan berarti umat Islam harus meninggalkan dunia atau tidak boleh kaya. Justru seorang Muslim diperintahkan bekerja dan berusaha. Tetapi dunia jangan ditempatkan di dalam hati secara berlebihan. Dunia berada di tangan untuk digunakan, bukan di hati untuk dipertuhankan.

Allah memberikan kabar gembira yang sangat besar kepada orang-orang yang bertakwa. Dalam QS. At-Talaq [65]: 2–3, Allah berfirman bahwa siapa yang bertakwa kepada-Nya, Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Baca Juga  Buah Kesabaran Itu adalah Keberhasilan

Ini adalah janji Allah yang harus menjadi kekuatan bagi orang beriman. Ketika kita memilih kejujuran meskipun keuntungan berkurang, Allah mengetahui. Ketika kita menolak pekerjaan yang haram meskipun membutuhkan uang, Allah mengetahui. Ketika kita tetap sabar dalam kesulitan dan tidak mengambil jalan yang dilarang agama, Allah mengetahui.

Rezeki tidak selalu berbentuk uang. Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang harmonis adalah rezeki. Anak yang saleh adalah rezeki. Hati yang tenang adalah rezeki. Teman yang baik adalah rezeki. Kesempatan beribadah adalah rezeki. Bahkan terhindar dari sebuah musibah yang tidak kita ketahui juga merupakan rezeki.

Allah juga berfirman dalam QS. At-Talaq [65]: 4 bahwa barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.

Namun jangan salah memahami takwa. Takwa bukan jaminan bahwa hidup kita tidak akan pernah menghadapi masalah. Para nabi dan sahabat juga mengalami ujian yang sangat berat. Takwa adalah kekuatan untuk menghadapi ujian tanpa kehilangan Allah.

Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan peringatan keras bagi manusia yang berpaling dari petunjuk Allah. Dalam QS. Taha [20]: 124, Allah berfirman:

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

Ancaman akhirat itu bukan untuk membuat manusia putus asa, tetapi agar kita segera sadar dan kembali kepada Allah. Neraka adalah perkara yang sangat mengerikan. Karena itu, jangan menganggap dosa sebagai sesuatu yang ringan. Jangan membiasakan maksiat hanya karena merasa belum mendapatkan akibatnya.

Yang lebih berbahaya adalah ketika hati mulai terbiasa melakukan kesalahan dan tidak lagi merasa berdosa.

Baca Juga  Setiap Zaman Terbentang dalam Al-Qur’an

Maka, selagi masih diberikan umur, mari kita kembali memperbaiki kehidupan. Perbaiki shalat. Perbaiki akhlak. Perbaiki cara mencari rezeki. Perbaiki hubungan dengan keluarga. Perbanyak membaca Al-Qur’an. Perbanyak istighfar. Tinggalkan fitnah, dusta, kesombongan, kezaliman dan segala sesuatu yang mengundang murka Allah.

Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur. Dan jangan menunggu kematian datang baru kita menyadari bahwa kehidupan dunia ternyata sangat singkat.

Kesungguhan dalam beragama bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan dan kehidupan dunia. Justru bekerja dapat menjadi ibadah apabila diniatkan mencari rezeki halal dan memenuhi tanggung jawab keluarga. Berdagang dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan jujur. Menolong sesama dapat menjadi ibadah apabila dilakukan ikhlas. Bahkan senyum dan perkataan yang baik pun dapat menjadi amal.

Karena itu, mari kita jadikan seluruh kehidupan sebagai jalan menuju keridaan Allah.

Carilah dunia, tetapi jangan kehilangan akhirat. Kejarlah rezeki, tetapi jangan meninggalkan takwa. Bangunlah usaha, tetapi jangan tinggalkan ibadah. Raihlah keberhasilan, tetapi jangan sampai keberhasilan itu menjauhkan kita dari Allah.

Sebab ketika ajal datang, semua yang kita banggakan akan ditinggalkan. Harta tidak ikut masuk ke dalam kubur. Jabatan tidak ikut menemani. Popularitas tidak akan menyelamatkan. Yang kita bawa hanyalah iman dan amal.

Semoga Allah SWT menjadikan kita umat yang sungguh-sungguh dalam beragama, istiqamah dalam kebaikan, diberikan rezeki yang halal dan berkah, dimudahkan segala urusan, diampuni dosa-dosa, dijauhkan dari azab-Nya, serta dikaruniai husnul khatimah.

Mari serius beragama. Karena dunia hanya tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat kembali untuk selama-lamanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bang Bangun Lubis
Dosen dan Wartawan Muslim

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button