MUSLIMAH

Peran Perempuan dalam Dunia Digital: Menguatkan Dakwah Islam, Membangun Masyarakat dan Bangsa

Perempuan dapat menjadikan ruang digital sebagai ladang amal dan sarana perjuangan untuk mengambil peran dalam perubahan masyarakat.

 

Peran Perempuan dalam Dunia Digital: Menguatkan Dakwah Islam, Membangun Masyarakat dan Bangsa.

Oleh : Ifah Rasyidah (Praktisi Pendidikan)

Di tengah derasnya arus digitalisasi, perempuan memiliki peran yang sangat strategis. Perempuan bukan sekedar konsumen informasi digital, tetapi dapat menjadi produsen gagasan dan ide, menjadi pendidik umat, penggerak dakwah, sekaligus pembentuk opini publik. Perempuan dapat menjadikan ruang digital sebagai ladang amal dan sarana perjuangan untuk mengambil peran dalam perubahan masyarakat.

Perkembgan dunia digital telah mengubah hampir seluruh wajah kehidupan manusia. Media sosial, platform video, mesin pencari, aplikasi pesan, hingga kecerdasan buatan telah menjadikan informasi bergerak tanpa batas ruang dan waktu. Perkembanngan teknologi ini harusnya dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menghalangi derasnya arus pornografi dan free sex serta tindak kriminal lainnya khususnya yang menimpa generasi dan perempuan.

Setiap harinya media sosial seakan tidak terbendung menyuguhkan tontonan yang merusak akhlak dan moral generasi. Media pun seakan tidak memiliki filter. Algoritma lebih membaca konten-konten yang tidak bermanfaat, sekedar trend media social tanpa edukasi. Sementara konten-konten edukatif lebih sepi peminat dan jarang terbaca algoritma.

Islam memandang perempuan sebagai manusia yang memiliki kewajiban untuk terikat kepada syariat dan memiliki tanggung jawab dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Karena dakwah bukan sekedar tugas para ulama dan kaum laki-laki. Tetapi perempuan juga memiliki peran penting dalam perubahan masyarakat dengan aktif menyampaikan kebenaran, mendidik, menasihati, dan mengajak masyarakat kepada kebaikan di dunia nyata dan digital.

Perempuan dan Dakwah di Era Digital

Hari ini seorang perempuan dapat menyampaikan kajian, menulis artikel dan opini, membuat konten edukasi, membangun komunitas muslimah produktif dengan menyebarkan dakwah Islam, atau sekedar membincangkan persoalan umat tanpa harus berada di sebuah mimbar merupakan upaya konkrit untuk melakukann sebuah perubahan masyarakat. Satu konten dakwah atau tulisan dibuat dengan penuh kesadaran dapat menjadi jalan sampainya ilmu kepada ribuan bahkan jutaan orang di dunia digital.

Namun, dakwah digital tidak cukup hanya dengan memperbanyak konten Islami. Tetapi tantangan terbesar justru bagaimana menghadirkan Islam sebagai sebuah pemikiran yang mampu menjawab persoalan kehidupan. Perempuan wajib hadir membawa narasi Islam yang mencerdaskan, bukan sekadar konten motivasi yang terlepas dari akar persoalan umat, atau konten-konten edukasi yang tidak menyentuh inti permasalahan umat.

Baca Juga  Ada Rahasia dengan Allah yang Tak Perlu Kita Ceritakan kepada Siapa Pun

Dengan sejumlah persoalan yang ada, masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, kerapuhan keluarga, eksploitasi perempuan, pergaulan bebas, krisis pendidikan, hingga ketimpangan ekonomi tidak cukup diselesaikan dengan nasihat dan ceramah bulanan. Semua persoalan tersebut harus dikaji secara mendalam dan dilihat dalam kerangka kehidupan masyarakat serta sistem yang berlaku.

Di sinilah dakwah ideologis dibutuhkan untuk membangun kesadaran umat bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi memiliki seperangkat aturan yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Menjadikan Islam sebagai sebuah pedoman hidup yang paripurna.

Ruang digital juga merupakan arena masuknya berbagai ideologi dan pemikiran. Liberalisme, sekularisme, materialisme, hedonisme dengan mudah dikemas menjadi konten yang menarik. Tidak sedikit dihadirkan konten yang bertentangan dengan Islam justru dipasarkan sebagai dalih kebebasan dan kemajuan.

Maka perempuan yang memiliki kemampuan literasi digital sekaligus literasi Islam sangatlah penting. Cerdas menggunakan teknologi informasi, tetapi juga kuat dalam memahami akidah, syariat dan khazanah Islam. Aktif di media sosial, tetapi tidak kehilangan identitas sebagai Muslimah. Senantiasa menyampaikan gagasan pemikiran Islam yang mampu menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Peran perempuan di dunia digital juga sangat penting dalam membangun ekonomi masyarakat. Perempuan dapat menggunakan teknologi untuk membangun kemandirian ekonomi melalui usaha halal, pemasaran digital, pendidikan daring, kelas keterampilan UMKM, dan berbagai profesi yang tetap menjaga ketentuan syariat. Sebagai upaya kecil melakukan sedikti perubahan di tengah kesulitan ekonomi masyarakat.

Perempuan adalah bagian penting dari pembentukan generasi. Apa yang dibaca, dipahami, dibicarakan, dan ditanamkan kepada anak-anak akan memengaruhi cara mereka memandang kehidupan. Karena itu, kehadiran perempuan di ruang digital dapat menjadi kekuatan besar untuk membangun generasi yang memiliki kepribadian Islam, berpikir kritis, mencintai ilmu, dan peduli terhadap persoalan umat. Perempuan dapat menciptakan ruang belajar daring, komunitas pendidikan, forum parenting Islami, gerakan literasi sebagai wadah melakukan pembinanaan kepada sesama perempuan dalam membina generasi.

Baca Juga  Wanita Islam: Martabat dan Perlindungan dalam Pandangan Islam

Dakwah Digital Harus Berorientasi Perubahan

Konten dakwah tidak boleh berhenti pada kutipan ayat, kata-kata motivasi, atau nasihat personal. Dakwah harus mampu membangun cara pandang Islam dalam melihat kehidupan. Menguasai teknologi sekaligus memahami tsaqafah Islam. Mampu berkomunikasi dengan bahasa generasi muda sekaligus memiliki keberanian menyampaikan kebenaran. Kreatif dalam menggunakan platform digital sekaligus tegas dalam menjaga batasan halal dan haram.

Perempuan juga harus membangun kolaborasi dengan masyarakat. Dakwah tidak akan bisa jika berjalan sendiri-sendiri. Para pendidik, dai, penulis, aktivis sosial, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas muslimah dapat membangun ekosistem digital yang produktif dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Perempuan yang berilmu, beriman, melek teknologi, dan memiliki kesadaran politik Islam akan menjadi kekuatan strategis bagi kebangkitan umat. Sebab perubahan besar tidak hanya lahir dari ruang-ruang formal. Ia juga dapat lahir dari layar ponsel, dari tulisan yang dibagikan, dari video yang ditonton, dari kelas daring yang diikuti, dan dari satu gagasan yang berhasil mengubah cara berpikir seseorang. Maka, dunia digital merupakan medan dakwah, bukan medan lalai; sebagai sarana membangun umat, bukan sekadar mengejar popularitas semata.

Perempuan Muslim harus hadir, bersuara, berkarya, dan menggerakkan. Dengan ilmu dan ketundukan kepada syariat, teknologi dapat menjadi wasilah untuk membangun masyarakat yang beradab dan menguatkan perjuangan menghadirkan kehidupan yang menjadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.

 

 

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button