DUNIA ISLAM

Beraqidah Tanpa Ada Keraguan

Setiap umat muslim diharuskan untuk memiliki aqidah yang benar

Oleh: Bangun Lubis (Wartawan Satujalan.com )

SATUJALAN NETWORKAqidah adalah istilah yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Bahkan bisa dibilang pemahaman tentang aqidah adalah landasan dari ajaran Islam. Dalam istilah agama Islam, aqidah juga bisa dimaknai sebagai iman.

Setiap umat muslim diharuskan untuk memiliki aqidah yang benar terlebih dahulu. Namun, sebelum itu kamu tentunya perlu mengenali dan memahami apa itu aqidah secara mendalam. Pasalnya, aqidah adalah keyakinan dasar seseorang.

Konsep Asasi  Iman Menurut Al-Qur’an, bersumber pada Al Quranulkarim. Diantara karakteristik asasi Iman yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya, keyakinan (iman) yang teguh dan kuat tanpa keraguan yang disertai dengan komitmen yang menyeluruh.

Rasulullah telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Allah, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.(QS. Al Baqarah : 285).

Sesungguhnya orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.     ( Al-Hujurat : 15 ).

Dalam Kajian yang bertemakan “Bagaimana Menata Iman “ disajikan  Ustads Beni Subandi, Spd.I, pada Kajian Jumat, di Yayasan Dakwah dan Pendidikan (YDP) Al Furqon, R Soekamto mengemukakan,  Surat Al-Baqarah [2:285], Allah tiada membedakan makhluk satu dengan yang lainnya dalam soal Iman. Dan Iman mereka sangat komitmen dan menyeluruh.

Baca Juga  Biden Akui ISIS Musuh Bebuyutan Taliban

Surah Al-Baqarah dimulai dengan menerangkan bahwa Alquran tidak ada keraguan padanya dan juga menerangkan sikap manusia terhadapnya, yaitu ada yang beriman, ada yang kafir dan ada yang munafik. Selanjutnya disebutkan hukum-hukum salat, zakat, puasa, haji, pernikahan, jihad, riba, hukum perjanjian dan sebagainya.

Ayat – ayat itu, ujar Beni,  adalah sebagai ayat penutup surah Al-Baqarah yang menegaskan sifat Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya terhadap Alquran. Mereka mempercayainya, menjadikannya sebagai pegangan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan ayat ini juga menegaskan akan kebesaran dan kebenaran Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman, dan menegaskan bahwa hukum-hukum yang tersebut itu adalah hukum-hukum yang benar.
Dengan ayat ini Allah Swt. menyatakan dan menetapkan bahwa Rasulullah Saw. dan orang-orang yang beriman, benar-benar telah mempercayai Alquran, mereka tidak ragu sedikit pun dan mereka meyakini benar Alquran.

Pernyataan Allah swt. ini terlihat pada diri Rasulullah saw. dan pribadi-pribadi orang mukmin, terlihat pada kesucian dan kebersihan hati mereka, ketinggian cita-cita mereka, ketahanan dan ketabahan hati mereka menerima cobaan-cobaan dalam menyampaikan agama Allah, sikap mereka di waktu mencapai kemenangan dan menghadapi kekalahan, sikap mereka terhadap musuh-musuh yang telah dikuasai, sikap mereka di waktu ditawan dan sikap mereka di waktu memasuki daerah-daerah luar Jazirah Arab.

Baca Juga  Jika Kau Lepaskanlah  Kesusahan Saudaramu,  Allah Mencukupkan Keperluanmu

Sikap dan watak yang demikian adalah sikap dan watak yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran Alquran dan ketaatan melaksanakan hukum Allah swt. Inilah yang dimaksud dengan jawaban Aisyah r.a. ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad saw. beliau menjawab:

 “ Bukankah engkau selalu membaca Alquran?” Jawabnya: “Ya.” Aisyah berkata: “Maka sesungguhnya akhlak Nabi itu sesuai dengan Alquran.” (HR Muslim).

Seandainya Nabi Muhammad saw. tidak meyakini benar ajaran-ajaran yang dibawanya dan tidak berpegang kepada kebenaran dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tentulah ia dan pengikutnya tidak akan berwatak demikian. Bisa jadi Rasulullah akan ragu. Tapi ternyata tidak, karena keyakinan tersebut.

Dalam pada itu orang-orang yang hidup di zaman Nabi, baik pengikut beliau maupun orang-orang yang mengingkari, semuanya mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang kepercayaan, bukan seorang pendusta Tiap-tiap orang yang beriman itu yakin akan adanya Allah Yang Maha Esa, hanya Dia sendirilah yang menciptakan makhluk, tidak berserikat dengan sesuatu pun. Mereka percaya kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan-Nya kepada para Nabi-Nya, percaya kepada malaikat-malaikat Allah, dan malaikat yang menjadi penghubung antara Allah swt. dengan Rasul-Rasul-Nya, pembawa wahyu Allah. Mengenai keadaan zat, sifat-sifat dan pekerjaan-pekerjaan malaikat itu termasuk ilmu Allah, hanya Allah swt. yang Maha Tahu. Percaya kepada malaikat merupakan pernyataan percaya kepada Allah swt.(*)

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button