DUNIA ISLAMSYARIAH

Ketika Kita Sudah Meminta Maaf, Tapi Masih Tak Dianggap

 

Ketika Kita Sudah Meminta Maaf, Tapi Masih Tak Dianggap

Ada masanya hati telah menunduk, ego telah kita lipat diam-diam, dan lidah telah mengucap kata yang paling berat bagi sebagian manusia: “Maafkan aku.”

Namun yang kita terima bukan pelukan, bukan senyum, bahkan bukan jawaban. Yang datang justru keheningan yang panjang, dingin yang memaku perasaan.

Di titik itu jiwa sering bertanya lirih: “Jika aku sudah meminta maaf, mengapa aku masih harus merasa seperti orang yang bersalah?”

  • Padahal kita telah berusaha jujur.
  • Padahal kita telah memilih mengalah.
  • Padahal kita telah membuka pintu damai.

Namun kita lupa satu kenyataan besar dalam hidup: tidak semua hati pulih pada waktu yang sama. Dalam Islam, meminta maaf bukan sekadar adab sosial.

Mohon maaf,  adalah cahaya yang membersihkan jiwa Ia adalah bagian dari taubat yang dicintai Allah.

Allah berfirman: “Dan barang siapa bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang Allah akan mengganti keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)

Maka ketika kita telah meminta maaf dengan tulus, sesungguhnya kita sedang sedang menata ulang halaman hidup kita di hadapan Allah— meski manusia belum membukanya kembali untuk kita.

Namun kemudian kita belajar satu hal yang lebih berat: meminta maaf itu kewajiban, diterima atau tidak adalah wilayah hati orang lain.

Allah mengingatkan: “Tugasmu hanyalah menyampaikan, dan Kamilah yang melakukan perhitungan.” (QS. Ar-Ra’d: 40)

Baca Juga  Mewujudkan Keluarga Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah Melalui Mimpi, Doa, dan Usaha

Artinya, tugas kita adalah memperbaiki diri, bukan memaksa orang lain memperbaiki perasaannya. Jika setelah itu ia masih cuek,

ketahuilah: itu bukan lagi urusan dosa dan pahala kita, tetapi sudah menjadi urusan batinnya dengan Allah. Sebab hidayah bukan milik manusia, bahkan kepada orang yang paling kita cintai sekalipun.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Maka sikap kita setelah meminta maaf adalah: tetap berjalan dalam kebaikan, tanpa menunggu tepuk tangan. Tetap bersikap santun, tanpa menagih balasan hati.

Allah memerintahkan: ” Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fushshilat: 34)

Ayat ini bukan janji bahwa musuh pasti langsung menjadi sahabat, tetapi janji bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.

Memang, cuek itu bisa menusuk. Diam itu bisa menyakitkan. Jarak itu bisa terasa seperti hukuman tanpa pengadilan.

Namun di saat seperti itulah iman diuji: apakah kita tetap baik karena Allah, atau karena ingin diakui manusia?

Allah mengingatkan: “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Berbuat baik karena ingin dihargai manusia membuat hati mudah patah. Namun berbuat baik karena Allah membuat hati tetap berdiri, meski sendirian.

Boleh jadi, orang itu cuek bukan karena kita buruk, melainkan karena ia sedang menanggung berat hidupnya sendiri.

Baca Juga  Betapa Besar Cinta Allah kepada Mereka yang Saling Tolong-Menolong

Boleh jadi ia bukan membenci, melainkan sedang kehabisan daya untuk memaafkan.

Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”  (QS. Al-Baqarah: 286)

Maka bisa jadi, hari ini ia belum mampu memaafkan, bukan karena ia jahat, tetapi karena lukanya belum sembuh.

Jika kita merasa lelah lahir dan batin, Islam tidak memaksa kita terus berada dalam ruang yang melelahkan.

Menjaga jarak itu boleh, asal tanpa membenci. Mengurangi interaksi itu boleh, asal tanpa dendam.

Allah berpesan: “Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 237)

Artinya, meski hubungan merenggang, jangan biarkan akhlak ikut runtuh.

Jika kesedihan semakin menumpuk, jika hati semakin sesak, pulanglah kepada satu tempat yang tidak pernah menolak kita: sujud.

Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Di hadapan manusia, kita bisa diabaikan. Namun di hadapan Allah, air mata selalu dihitung sebagai doa.

Jika kita telah meminta maaf dengan sepenuh hati, maka kita telah menunaikan kewajiban akhlak dan iman.

Sisanya, serahkan kepada Allah. Karena ketenangan sejati bukan lahir dari diterima manusia, melainkan dari keyakinan bahwa:

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada.”(QS. Al-Mulk: 13)

Biarlah manusia menilai kita dari luar, namun biarlah Allah menilai kita dari niat terdalam.

Dan bukankah lebih mulia dinilai tinggi oleh langit, meski sering disalahpahami oleh bumi?

Editor: Bangun Lubis

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button