Adab Sebelum Ilmu: Pelajaran dari Jepang tentang Cara Berbicara dan Berteman dalam Kehidupan Sehari-hari
Bahwa adab selalu didahulukan sebelum ilmu.

Adab Sebelum Ilmu: Pelajaran dari Jepang tentang Cara Berbicara dan Berteman dalam Kehidupan Sehari-hari
Oleh: Bangun Lubis
Di tengah kemajuan teknologi dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, Jepang sering menjadi perhatian dunia karena keberhasilannya membangun masyarakat yang tertib, disiplin, dan saling menghormati. Banyak orang mengagumi kecanggihan kereta cepat, industri otomotif, maupun perkembangan sains di negeri tersebut. Namun, ada sesuatu yang sering luput dari perhatian, yaitu bagaimana masyarakat Jepang menempatkan adab dan akhlak sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu ditanamkan sejak usia yang sangat dini. Bukan sekadar teori, melainkan menjadi kebiasaan yang terus dipraktikkan dalam kehidupan mereka.
Suatu hari, seorang ibu asal Indonesia yang tinggal di Jepang berbincang dengan putranya yang masih duduk di sekolah dasar. Seperti biasa, ia bertanya tentang kegiatan yang dilakukan anaknya di sekolah. Sang ibu berharap mendengar cerita tentang pelajaran matematika atau bahasa Jepang. Namun, jawaban yang keluar dari mulut anaknya justru membuatnya terdiam. Ternyata, hari itu mereka belajar bagaimana berbicara dengan sopan kepada teman, mendengarkan orang lain dengan baik, serta saling menghormati satu sama lain. Pelajaran itu rupanya dianggap sama pentingnya dengan pelajaran akademik.
“Nak, apa yang diajarkan gurumu hari ini?” tanya sang ibu.
“Kami belajar bagaimana menjadi teman yang baik, Bu,” jawab sang anak.
“Memangnya bagaimana caranya?”
“Kami tidak boleh memotong pembicaraan teman. Kalau ada yang berbicara, kami harus mendengarkan sampai selesai. Guru mengatakan bahwa menghormati orang lain dimulai dari cara kita mendengarkan.”
Jawaban sederhana itu membuat sang ibu tersenyum. Ia teringat kepada nasihat para orang tua dan para ulama yang sejak dahulu menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Betapa nilai yang diajarkan di negeri yang jauh itu ternyata memiliki keselarasan dengan nilai-nilai yang hidup dalam ajaran Islam. Manusia tidak cukup hanya menjadi pintar. Mereka juga harus menjadi pribadi yang baik dan menghargai sesama. Sebab ilmu yang tinggi tanpa akhlak yang mulia dapat kehilangan arah dan bahkan membawa kerusakan.
Di Jepang, anak-anak diajarkan budaya yang dikenal dengan istilah *omoiyari*. Istilah ini menggambarkan sikap empati dan kepedulian terhadap perasaan orang lain. Seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana perkataan dan tindakannya dapat memengaruhi orang lain. Karena itu, masyarakat Jepang dikenal tidak suka berbicara dengan nada keras atau mempermalukan orang lain di depan umum. Mereka berusaha menjaga perasaan sesama dan menghindari perkataan yang dapat melukai hati orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak Jepang dibiasakan mengucapkan terima kasih, meminta maaf, serta mengucapkan salam ketika bertemu orang lain. Mereka juga diajarkan untuk tidak mengejek teman dan tidak mengganggu orang yang sedang berbicara. Ketika bermain, mereka diajarkan agar tidak hanya memikirkan kemenangan diri sendiri. Jika ada teman yang tertinggal, mereka akan menunggu. Jika ada teman yang sedih, mereka akan berusaha menghibur. Kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang perlahan membentuk karakter mereka menjadi manusia yang penuh empati.
Menariknya, nilai-nilai tersebut memiliki kesamaan dengan ajaran Islam yang sangat menekankan pentingnya menjaga lisan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Allah SWT berfirman:
“Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.”(QS. Al-Baqarah: 83).
Ayat ini menunjukkan bahwa berbicara dengan baik bukan sekadar etika sosial, melainkan juga perintah dari Allah SWT. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya. Perkataan yang baik dapat mendatangkan kedamaian, sedangkan perkataan yang buruk dapat menjadi sumber permusuhan dan perpecahan.
Allah SWT juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”* (QS. Al-Ahzab: 70).
Menurut para ulama tafsir, perkataan yang benar adalah ucapan yang jujur, tidak menyakiti orang lain, dan membawa manfaat. Seseorang yang menjaga lisannya akan memperoleh ketenangan dalam hidupnya. Sebaliknya, banyak pertengkaran dan permusuhan yang berawal dari perkataan yang tidak dijaga dengan baik. Karena itulah Islam sangat memperhatikan pendidikan akhlak dalam berbicara.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis yang agung ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Tidak semua yang diketahui harus diucapkan. Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang kasar. Kadang-kadang diam lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang dapat melukai hati orang lain. Sebab menjaga lisan merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin.
Dalam masalah pergaulan, Islam juga mengajarkan pentingnya persaudaraan dan kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan empati yang luar biasa. Seorang muslim tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi juga memikirkan kebahagiaan dan keselamatan orang lain. Nilai inilah yang sebenarnya tampak dalam kehidupan masyarakat Jepang melalui budaya saling menghormati dan menjaga perasaan sesama.
Imam Malik rahimahullah pernah memberikan nasihat yang terkenal:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Nasihat tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan terus menjadi pegangan para ulama. Menurut Imam Malik, seseorang yang memiliki ilmu tanpa adab dikhawatirkan akan menjadi sombong dan merendahkan orang lain. Sebaliknya, orang yang memiliki adab akan mampu menggunakan ilmunya untuk membawa manfaat bagi sesama manusia.
Hal yang hampir sama juga disampaikan oleh Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata:
“Aku mempelajari adab selama dua puluh tahun, kemudian aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun berikutnya.”
Perkataan ini menunjukkan betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan seorang penuntut ilmu. Para ulama terdahulu tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga berusaha membentuk hati dan kepribadian mereka. Mereka memahami bahwa ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang melahirkan kerendahan hati dan akhlak yang mulia.
Ibnu Mubarak rahimahullah bahkan mengatakan:”Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”
Ungkapan ini bukan berarti ilmu tidak penting. Namun, ilmu yang banyak tanpa akhlak justru dapat menjadi sumber kerusakan. Sejarah menunjukkan bahwa banyak orang cerdas yang justru menggunakan kecerdasannya untuk menindas orang lain. Sebaliknya, orang yang berakhlak baik akan mampu menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk menebarkan manfaat bagi masyarakat.
Barangkali di sinilah letak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kehidupan masyarakat Jepang. Mereka menyadari bahwa peradaban besar tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki nilai akademik tinggi. Peradaban yang kokoh lahir dari manusia-manusia yang memiliki tanggung jawab, empati, serta kemampuan menghormati sesama. Semua itu dimulai dari hal-hal sederhana yang diajarkan sejak kecil, yaitu bagaimana berbicara dengan baik dan bagaimana menjadi teman yang baik.
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar. Dunia lebih membutuhkan manusia yang mampu menggunakan ilmunya dengan penuh kebijaksanaan. Ilmu akan menerangi akal manusia, tetapi akhlak akan menerangi kehidupan. Dan dari negeri Jepang yang jauh, kita kembali diingatkan kepada sebuah warisan agung yang telah lama diajarkan para nabi, para ulama, dan para orang tua kita:
Bahwa adab selalu didahulukan sebelum ilmu.




