M O Z A I K

Jangan Lagi Menyimpang dari Syariat: Meniti Jalan Istiqomah di Tengah Krisis Dunia Akhir Zaman

Ada yang mulai membenarkan kebohongan, kecurangan, mengambil hak orang lain, bahkan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.

Jangan Lagi Menyimpang dari Syariat: Meniti Jalan Istiqomah di Tengah Krisis Dunia Akhir Zaman

Oleh: Bang Bangun Lubis (Dosen dan Wartawan Muslim)

Kehidupan dunia semakin penuh tantangan. Berbagai persoalan datang silih berganti, mulai dari krisis ekonomi, ketidakpastian sosial, kemerosotan moral, hingga meningkatnya berbagai bentuk kejahatan. Manusia semakin sulit menemukan rasa aman dan ketenangan. Bahkan, tidak sedikit orang yang mulai kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Di tengah keadaan seperti ini, kita sering dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Tekanan ekonomi, tuntutan kebutuhan hidup, dan keinginan memperoleh kesenangan dunia terkadang mendorong seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Ada yang mulai membenarkan kebohongan, kecurangan, mengambil hak orang lain, bahkan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.

Padahal, sesulit apa pun keadaan yang kita hadapi, jangan sampai membuat kita meninggalkan syariat Allah SWT. Kesulitan hidup bukan alasan untuk melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, keadaan yang penuh ujian seharusnya menjadi pengingat agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Ujian Zaman dan Keteguhan Iman

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa menjelang akhir zaman akan muncul berbagai fitnah yang dapat menggoyahkan keimanan manusia. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan keadaan ketika seseorang pada pagi hari masih beriman, tetapi pada sore harinya dapat kehilangan imannya karena menjual agama demi kepentingan dunia.

Peringatan ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi kita semua. Jangan sampai urusan dunia membuat kita melupakan tujuan hidup yang sebenarnya. Jabatan, kekayaan, kekuasaan, dan popularitas tidak akan berarti apabila diperoleh dengan cara yang melanggar ketentuan Allah.

Kita harus memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Apa yang kita miliki hari ini bisa saja hilang esok hari. Sementara itu, setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Karena itu, jangan menjadikan keadaan sulit sebagai pembenaran untuk berbuat salah. Rezeki memang harus dicari, tetapi tetap melalui jalan yang halal dan baik.

Istiqomah sebagai Jalan Keselamatan

Salah satu kekuatan utama seorang Muslim dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan adalah istiqomah. Istiqomah berarti teguh dalam keimanan dan konsisten menjalankan perintah Allah, baik ketika berada dalam kesulitan maupun ketika memperoleh kemudahan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Fussilat ayat 30:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati.”

Ayat ini memberikan pesan bahwa orang yang istiqomah akan memperoleh pertolongan dan ketenangan dari Allah SWT. Mereka tidak mudah kehilangan harapan karena menyadari bahwa setiap persoalan kehidupan berada dalam pengetahuan dan ketetapan-Nya.

Istiqomah bukan berarti seseorang tidak pernah menghadapi kesalahan atau godaan. Namun, ketika melakukan kesalahan, ia segera menyadari, bertobat, dan memperbaiki diri. Inilah sikap seorang Muslim yang selalu berusaha menjaga hubungannya dengan Allah.

Kembali kepada Syariat dalam Kehidupan

Untuk menghadapi berbagai tantangan zaman, ada beberapa hal penting yang perlu kita lakukan.

Baca Juga  Menjalani Hidup dengan Ketabahan — Menemukan Kebahagiaan di Balik Ujian

Pertama, memperbaiki hubungan dengan Allah melalui salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita jauh dari ibadah.

Kedua, menjaga kejujuran dan akhlak dalam kehidupan sosial. Jangan merugikan orang lain, jangan mengambil hak sesama, dan jangan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Islam mengajarkan bahwa hubungan baik dengan manusia merupakan bagian penting dari keimanan.

Ketiga, mencari rezeki dengan cara yang halal. Jangan karena takut kekurangan, kita berani melakukan sesuatu yang diharamkan Allah. Yakinlah bahwa rezeki tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi juga dari keberkahan dan ketenangan dalam memperolehnya.

Keempat, memperbanyak introspeksi dan tobat. Setiap manusia memiliki kekurangan. Karena itu, jangan merasa diri paling benar. Teruslah memperbaiki ibadah, perilaku, dan hubungan dengan sesama.

Pada akhirnya, dunia boleh semakin berat, persoalan boleh semakin rumit, dan ujian boleh datang silih berganti. Namun, jangan sampai semua itu menjauhkan kita dari Allah SWT.

Mari kita jadikan sisa kehidupan ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan lagi sengaja menyimpang dari syariat, jangan menggadaikan iman demi kesenangan sesaat, dan jangan kehilangan arah hanya karena mengejar dunia.

Sebab, keberhasilan hidup yang sesungguhnya bukan sekadar tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan bagaimana kita menjalani kehidupan dengan iman, amal saleh, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqomah hingga akhir hayat dan memperoleh husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button