Sahabatku, Kokohkan Tauhid, Teguhkan Iman, Istiqamahkan Amal Ibadah
Ukuran keberhasilan hijrah bukan seberapa banyak kita berbicara tentang perubahan, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita menjalani perubahan itu di hadapan Allah.

Sahabatku, Kokohkan Tauhid, Teguhkan Iman, Istiqamahkan Amal Ibadah
Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen dan Wartawan Muslim
Setiap orang yang ingin memperbaiki kehidupan tentu berharap menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam kehidupan seorang Muslim, keinginan itu tidak cukup hanya diwujudkan dengan perubahan penampilan, lingkungan, atau kebiasaan. Lebih jauh dari itu, hijrah harus dimulai dari hati: menguatkan tauhid, meningkatkan iman, kemudian membuktikannya melalui ketaatan dan amal saleh.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka…”(QS. Fussilat: 30)
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa setelah seseorang mengakui Allah sebagai Tuhannya, ada tuntutan berikutnya, yaitu meneguhkan pendirian. Dengan kata lain, iman bukan hanya pengakuan di lisan. Iman harus dijaga dan diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah arti penting istiqamah.
Berhijrah memang mudah ketika hati sedang bersemangat. Kita bisa menangis ketika mendengar kajian, merasa tersentuh ketika membaca Al-Qur’an, atau berjanji untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Namun ujian sesungguhnya adalah apa yang terjadi setelah semangat itu berlalu.
Apakah kita tetap salat tepat waktu?Apakah kita tetap membaca Al-Qur’an?Apakah kita tetap menjaga lisan?Apakah kita tetap menjauhi maksiat ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah kita tetap mencari ilmu agama ketika tidak sedang mendapatkan dorongan dari orang lain?
Di situlah hijrah diuji.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”(HR. Muslim)
Pesan Nabi ﷺ sangat singkat, tetapi sangat dalam. Iman harus diikuti istiqamah. Tidak cukup mengatakan beriman, kemudian kehidupan berjalan tanpa arah. Seorang Muslim harus berusaha agar keyakinannya kepada Allah terlihat dalam ibadah, akhlak, pekerjaan, keluarga dan hubungan sosial.
Karena itu, jangan takut memaksa diri untuk melakukan kebaikan pada awalnya. Bangun untuk salat mungkin terasa berat. Membaca Al-Qur’an setiap hari mungkin terasa berat. Menghadiri majelis ilmu secara rutin mungkin terasa berat. Meninggalkan kebiasaan buruk juga tidak selalu mudah.
Tetapi diri harus dilatih. Sesuatu yang awalnya terasa berat, apabila dilakukan dengan sabar dan terus-menerus, insya Allah akan menjadi kebiasaan. Jangan selalu menunggu hati bersemangat untuk beribadah. Ada kalanya kita harus mendidik hati dengan amal.
Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”(QS. Al-‘Ankabut: 69).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa jalan menuju kebaikan membutuhkan kesungguhan. Perjuangan itu bukan hanya menghadapi keadaan di luar diri kita, tetapi juga melawan hawa nafsu, kemalasan, kesombongan dan berbagai keinginan yang menjauhkan kita dari Allah.
Karena itu pula, carilah majelis ilmu yang benar-benar membangun iman dan ilmu. Jangan hanya mencari tempat kajian yang membuat kita senang, tertawa dan merasa nyaman. Kegembiraan tentu tidak dilarang dalam Islam, tetapi kajian agama harus membawa kita lebih dekat kepada Allah.
Carilah kajian yang membuat kita ingin belajar Al-Qur’an. Carilah guru yang mendorong kita memperbaiki salat dan akhlak. Carilah lingkungan yang mengingatkan kita ketika lalai. Sebab ilmu agama bukan sekadar pengetahuan untuk dibicarakan, tetapi petunjuk untuk diamalkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)*
Maka jangan pernah merasa cukup dalam belajar agama. Semakin banyak ilmu yang benar kita pelajari, seharusnya semakin tumbuh rasa takut kepada Allah, semakin rendah hati, dan semakin baik amal kita.
Para ulama menjelaskan bahwa perjalanan seorang hamba menuju Allah membutuhkan ilmu, kesabaran dan mujahadah. Ilmu menunjukkan jalan, iman memberikan kekuatan, sedangkan istiqamah menjaga langkah agar tidak berhenti di tengah perjalanan.
Hijrah bukan berarti seseorang tidak pernah jatuh. Manusia tetap memiliki kelemahan. Yang terpenting adalah ketika jatuh, ia segera bangkit; ketika melakukan dosa, ia segera bertobat; ketika lalai, ia kembali mengingat Allah.
Hijrah adalah perjalanan panjang.
Mari kita kokohkan tauhid, teguhkan iman dan istiqamahkan amal. Jangan hanya ingin berubah, tetapi bersungguh-sungguhlah untuk berubah. Jangan hanya mencari kajian yang menyenangkan hati, tetapi carilah ilmu yang mampu memperbaiki kehidupan.
Sebab ukuran keberhasilan hijrah bukan seberapa banyak kita berbicara tentang perubahan, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita menjalani perubahan itu di hadapan Allah.
Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen dan Wartawan Muslim




