
MANUSIA berasal dari Allah, berada dalam kekuasaan Allah dan kembali kepada Allah. Pernyataan ini bisa berarti bahwa manusia itu tidak pernah sejenak pun bisa berdiri sendiri di luar kekuasaan Allah, di luar kekuatan Allah dan di luar pengetahuan Allah.
Manusia itu wujud nya meminjam dari wujud Allah, wujudnya tergantung pada wujud Allah, seperti tergantung nya bayang bayang dengan pemiliknya, atau seperti bergantung nya ciptaan dengan penciptanya, yang jika tidak diciptakan maka ciptaan itu tidak mungkin ada.
Manusia itu tidak pernah sesaat pun bisa terlepas dan terpisah dari Allah dan berdiri sendiri secara independen berhadap hadapan dengan Allah, karena yang bisa berdiri sendiri memang hanya Allah.
Ini bisa berarti bahwa wujud yang selain Allah itu hanyalah wujud yang nisbi, relatif dan wujud yang tidak sebenarnya, karena wujud yang sebenarnya ( Al-Haqq) memang hanya Allah.
Manusia oleh Allah diberi potensi yang tiada Tara nilainya. Potensi itu berupa pikiran, perasaan, kesadaran, dan keinginan. Dengan potensinya itu manusia bisa menguasai alam semesta dan menguasai dirinya sendiri.
Manusia bisa menggunakan potensi yang dimiliki nya, secara maksimal dan dengan benar hanya dengan cara mengikuti petunjuk Allah, baik dengan petunjuk Nya yang tertulis ( Al Qur’an), maupun melalui petunjuk Nya secara langsung yaitu Ilham.
Potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia itu bisa dikembangkan sampai ke tingkat tidak terbatas. Namun itu hanya bisa dilakukan dengan petunjuk dari Yang Tidak Terbatas. Yaitu Allah.
Tanpa petunjuk Allah, manusia hanya bisa berputar putar di sekitar yang terbatas, dan tidak akan lebih dari itu.
Oleh karena itu, satu satunya jalan untuk bisa melintasi keterbatasan nya, manusia harus menghubungkan diri nya dengan Yang Tidak Terbatas.
Pada gilirannya manusia bisa menggunakan potensi yang dimilikinya untuk menemukan kodrat hakikatnya yang paling fundamental, dan menemukan dasar terakhir wujud nya. Ketika itu manusia segera menyadari bahwa sebenarnya ia tidak pernah berpisah dan ia pun menyadari bahwa rasa keterpisah itu disebabkan oleh ketidakmampuan dan kelupaan nya terhadap asal usul nya.
Dengan demikian , manusia yang telah menyadari status keberadaannya, maka ia pun berada dalam bentangan pengetahuan yang tidak terbatas, berada dalam kekuatan yang tidak terbatas dan juga berada dalam jangkauan kehendak yang tidak terbatas.
Yang diketahui, dirasakan, dialaminya pun berubah menjadi wujud yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Dalam suasana rohaniah yang demikian, manusia harus tetap menjaga dan mempertahankan dirinya agar tidak hangus terbakar dan lenyap.
Ia harus tetap menguasai dan mengendalikan diri nya, agar tetap tangguh dan tidak goyah berada dalam kekuasaan Allah. Semoga Allah memberi kita kekuatan dan kesanggupan, serta memudahkan kita untuk meraih karunia yang diridhoi Allah.
Aamiin Ya Rabbal’ Alamin.



