DUNIA ISLAM

Bahagia  Itu Tidak Harus dengan Kekayaan

Tidak sedikit orang yang bergelimang harta, tetapi malam-malamnya dipenuhi kegelisahan

Bahagia  Itu Tidak Harus dengan Kekayaan

Oleh: Bang Bangun Lubis

Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan hanya akan datang ketika harta telah melimpah, rumah telah megah, kendaraan telah mewah, dan tabungan telah berlimpah. Padahal, kehidupan telah berkali-kali memperlihatkan kepada kita bahwa kekayaan bukanlah jaminan seseorang hidup dalam ketenangan.

Tidak sedikit orang yang bergelimang harta, tetapi malam-malamnya dipenuhi kegelisahan. Senyumnya terlihat di hadapan orang lain, tetapi hatinya sepi dan penuh kecemasan. Sebaliknya, kita juga sering menemukan orang-orang sederhana yang hidup dengan apa adanya, namun wajah mereka memancarkan ketenteraman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sesungguhnya, bahagia tidak selalu diukur dengan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dengan seberapa besar rasa syukur yang bersemayam dalam hati.

Ada orang yang makan dengan lauk sederhana bersama keluarganya, tetapi suasana rumahnya penuh canda dan kasih sayang. Ada pula yang menikmati hidangan mahal, tetapi duduk sendiri tanpa kehangatan dan kebersamaan. Dari sini kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berada pada apa yang kita makan, tetapi pada siapa yang menemani dan bagaimana hati kita menerimanya.

Allah SWT berfirman:”Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”(QS. An-Nahl: 97)

Kehidupan yang baik bukan hanya berarti kekayaan materi, tetapi juga ketenteraman jiwa, keluarga yang harmonis, kesehatan, sahabat yang tulus, dan hati yang selalu dekat kepada Allah.

Baca Juga  Islam memandang peran perempuan dengan sangat hormat

Kita sering lupa bahwa banyak nikmat yang tidak dapat dibeli dengan uang. Udara segar yang kita hirup setiap hari, kesehatan tubuh, kesempatan melihat matahari terbit, tawa cucu-cucu, perhatian pasangan, serta kemampuan untuk beribadah dengan tenang adalah kekayaan yang nilainya tidak terhingga.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan kepadanya.”(HR. Muslim)

Perasaan cukup inilah yang sering hilang dari kehidupan manusia modern. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan lainnya. Ketika satu impian tercapai, lahir impian yang lebih besar. Akibatnya, hati menjadi lelah karena terus mengejar sesuatu yang tidak pernah berujung.

Padahal, kebahagiaan terkadang hadir dalam hal-hal kecil yang sederhana. Secangkir kopi di pagi hari, percakapan hangat dengan sahabat lama, mendengar suara azan yang berkumandang, membaca Al-Qur’an setelah Subuh, atau melihat anak-anak tumbuh dengan sehat dan saleh. Semua itu adalah anugerah yang sering luput dari perhatian.

Orang yang bahagia bukanlah orang yang memiliki segalanya, tetapi orang yang mampu mensyukuri apa yang ada padanya.

Kita boleh bekerja keras dan berusaha meraih kehidupan yang lebih baik. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Namun, jangan sampai kebahagiaan digantungkan sepenuhnya pada harta. Sebab, harta bisa datang dan pergi, sedangkan hati yang dekat kepada Allah akan tetap menemukan ketenangan dalam keadaan lapang maupun sempit.

Baca Juga  Sunnah Rasulullah SAW dalam Menyikapi Kesalahan Orang Lain — Lembut, Bijak, dan Penuh Kasih Sayang

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata: “Qana’ah adalah harta yang tidak akan pernah habis.”

Benar adanya. Sebab orang yang kaya hartanya tetapi miskin hatinya akan terus merasa kurang. Namun orang yang sederhana, tetapi kaya rasa syukurnya, akan selalu menemukan alasan untuk tersenyum.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang mencintai apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Karena sesungguhnya, rumah yang sederhana namun dipenuhi cinta jauh lebih membahagiakan daripada istana yang megah tetapi kosong dari kasih sayang.

Bahagia tak harus dengan kekayaan.

Kadang-kadang, kebahagiaan itu hadir dalam hati yang berserah, dalam keluarga yang saling mencintai, dalam tubuh yang sehat, dalam rezeki yang halal, dan dalam sujud yang khusyuk kepada Allah.

Dan ketika rasa syukur menjadi penghuni hati, maka seseorang akan menyadari bahwa dirinya ternyata telah lama hidup dalam kebahagiaan, hanya saja ia terlalu sibuk mencarinya di tempat yang jauh.

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button