M O Z A I K

Ketika Ego Suami Terlalu Tinggi, Rumah Tangga Kehilangan Kehangatannya

Ada suami yang selalu ingin tampil paling benar,

Ketika Ego Suami Terlalu Tinggi, Rumah Tangga Kehilangan Kehangatannya

Oleh: Anita  – Pemerhati Keluarga

Tidak sedikit rumah tangga yang menghadapi persoalan bukan karena kekurangan harta, bukan pula karena tidak adanya cinta, melainkan karena ego yang terlalu tinggi.

Ada suami yang selalu ingin tampil paling benar, paling berkuasa, dan tidak mau dikalahkan dalam berbagai urusan. Pendapatnya harus diterima, keputusannya tidak boleh dibantah, dan dirinya selalu ingin menjadi pusat dari segala sesuatu.

Dalam keadaan seperti itu, sering kali istri memilih mengalah. Bukan karena ia tidak memiliki pendapat, bukan karena ia selalu salah, tetapi demi menjaga ketenangan rumah tangga. Namun, mengalahnya seorang istri jangan sampai membuat seorang suami merasa dirinya selalu benar. Sebab dalam Islam, kesombongan dan keangkuhan bukanlah sifat yang terpuji.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”* (HR Muslim).

Kesombongan tidak selalu ditunjukkan dengan kekayaan atau jabatan. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang halus. Merasa diri paling tahu, tidak mau menerima nasihat, tidak mau meminta maaf, dan selalu ingin menang dalam setiap perdebatan. Inilah yang sering menjadi racun dalam kehidupan rumah tangga.

Padahal seorang suami adalah pemimpin. Dan kepemimpinan dalam Islam bukanlah kekuasaan yang harus ditakuti, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan kasih sayang dan kerendahan hati.

Allah SWT berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) secara patut.”* (QS. An-Nisa: 19).

Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Memperlakukan istri dengan baik bukan hanya memenuhi kebutuhan lahirnya, tetapi juga menghargai perasaannya, mendengarkan pendapatnya, dan memperlakukannya sebagai sahabat dalam perjalanan hidup.

Baca Juga  Istri yang Memuliakan Suami, Jalan Menuju Rumah Tangga yang Tenang

Sayangnya, ada sebagian suami yang menganggap bahwa menjadi kepala keluarga berarti harus selalu menang. Ia lupa bahwa rumah tangga bukanlah medan perang untuk mencari pemenang dan pecundang. Rumah tangga adalah tempat bertumbuh bersama, tempat saling menguatkan, dan tempat mencari ridha Allah.

Istri yang terus-menerus mengalah terkadang menyimpan luka di dalam hati. Ia tersenyum, tetapi menyimpan kesedihan. Ia diam, tetapi memendam kekecewaan. Ia sabar, tetapi hatinya perlahan lelah.

Karena itu, sesungguhnya yang perlu terus belajar bukan hanya istri, melainkan juga suami.

Suami harus belajar mendengar.

Suami harus belajar mengendalikan emosi.

Suami harus belajar mengakui kesalahan.

Suami harus belajar meminta maaf.

Suami harus belajar bahwa dirinya bukan manusia yang sempurna.

Rasulullah SAW, manusia terbaik sepanjang zaman, justru merupakan sosok yang paling lembut kepada keluarganya. Beliau tidak pernah merasa rendah ketika membantu pekerjaan rumah. Beliau mendengarkan istri-istrinya, bahkan menerima masukan dari mereka.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menceritakan bahwa Rasulullah SAW membantu pekerjaan keluarganya di rumah, dan apabila waktu shalat tiba, beliau berangkat untuk shalat. (HR Bukhari).

Betapa indahnya teladan ini. Nabi Muhammad SAW yang kedudukannya begitu mulia tidak pernah merasa harga dirinya turun hanya karena mendengarkan istri atau membantu pekerjaan rumah. Sebaliknya, kemuliaan beliau justru terpancar dari akhlaknya yang lembut.

Suami yang bijak bukanlah suami yang selalu menang dalam perdebatan. Suami yang bijak adalah suami yang mampu menjaga hati istrinya. Sebab, hati seorang perempuan sangat lembut. Ia mungkin tidak banyak bicara, tetapi ia mengingat perlakuan yang diterimanya.

Ada kalanya seorang suami harus mengalah, bukan karena kalah, tetapi karena ingin memenangkan cinta dan ketenteraman dalam rumah tangga. Ada saatnya seorang suami meminta maaf, bukan karena harga dirinya jatuh, tetapi karena ia ingin menjaga kasih sayang tetap hidup.

Baca Juga  Bangkit Lagi — Karena Hidup Tak Berhenti Saat Kita Jatuh

Sesungguhnya, tidak ada manusia yang terlalu tinggi untuk belajar. Semakin bertambah usia, seharusnya semakin bertambah pula kebijaksanaan. Jabatan, pengalaman, bahkan ilmu yang banyak, tidak boleh membuat seseorang merasa dirinya paling benar.

Rumah tangga yang bahagia dibangun oleh dua orang yang sama-sama mau belajar. Suami belajar menjadi pemimpin yang penyayang, sementara istri belajar menjadi pendamping yang setia. Keduanya saling melengkapi, bukan saling mendominasi.

Karena pada akhirnya, cinta tidak tumbuh dari ego yang memuncak, melainkan dari kerendahan hati.

Dan mungkin, salah satu tanda kedewasaan seorang suami adalah ketika ia mampu berkata dengan tulus kepada istrinya:

“Maafkan aku. Mungkin aku salah. Mari kita bicarakan bersama.”

Kalimat sederhana itu tidak akan mengurangi kehormatannya sebagai seorang pemimpin. Justru di situlah letak kebesaran seorang laki-laki.

Sebab dalam pandangan Allah, yang paling mulia bukanlah yang paling keras suaranya, bukan pula yang selalu menang dalam perdebatan, melainkan mereka yang paling baik akhlaknya.

Dan sebaik-baik laki-laki adalah mereka yang paling baik terhadap istrinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”* (HR Tirmidzi).

Semoga para suami senantiasa diberi hati yang lembut, kerendahan hati untuk terus belajar, dan kemampuan untuk menjadikan rumah tangga sebagai taman kasih sayang yang diridhai Allah SWT. Aamiin.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button