DUNIA ISLAM

Hilangnya Keramahan, Memudarnya Keberadaban

Ukuran kemuliaan manusia perlahan bergeser dari kualitas pribadi menuju Materi

Semakin Lunturnya Nilai Keberadaban dalam Masyarakat, Keramahan Pun Ikut Tergerus

Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen & Wartawan Muslim

Ada sesuatu yang patut kita renungkan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Di tengah kemajuan zaman, perkembangan teknologi, meningkatnya pendidikan dan terbukanya akses informasi, justru muncul gejala yang mengkhawatirkan: nilai-nilai keberadaban dalam kehidupan sosial semakin memudar. Keramahan, kesantunan, rasa hormat, kepedulian dan penghargaan terhadap sesama seolah tidak lagi menjadi bagian penting dalam hubungan antarmanusia.

Apakah perubahan ini semata-mata disebabkan oleh materi, harta dan uang? Tentu tidak. Namun, harus diakui bahwa orientasi kehidupan yang semakin materialistis turut memberikan pengaruh besar terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Dahulu, seseorang dihormati karena ilmu, kebijaksanaan, pengalaman, kesalehan dan keteladanannya. Kini, penghormatan sosial terkadang lebih banyak diberikan kepada mereka yang memiliki kekayaan, kendaraan mewah, rumah besar atau jabatan tinggi. Ukuran kemuliaan manusia perlahan bergeser dari kualitas pribadi menuju apa yang dimiliki.

Persoalannya muncul ketika materi tidak lagi sekadar menjadi sarana kehidupan, tetapi berubah menjadi ukuran harga diri. Manusia berlomba mengejar kekayaan, bahkan terkadang melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijaga.

Keramahan yang Semakin Langka

Gejala lunturnya keberadaban sebenarnya mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Cobalah perhatikan perilaku pengguna jalan raya. Saling menyerobot, tidak mau mengalah, membunyikan klakson berlebihan, bahkan tidak peduli terhadap keselamatan orang lain. Jalan raya yang seharusnya menjadi ruang bersama sering berubah menjadi tempat mempertontonkan ego masing-masing.

Di lingkungan tempat tinggal pun demikian. Hubungan bertetangga yang dahulu akrab, saling menyapa dan saling membantu, kini di sejumlah lingkungan terasa semakin renggang. Ada tetangga yang berpapasan tetapi tidak menyapa. Bahkan, orang yang telah bertahun-tahun hidup berdampingan terkadang tidak mengenal secara baik penghuni rumah di sebelahnya.

Hubungan persahabatan pun tidak selalu lebih baik. Orang yang dahulu dekat, saling berbagi cerita dan membantu dalam kesulitan, sekarang terkadang bersikap begitu cuek. Ketika bertemu seolah tidak saling mengenal. Persahabatan yang seharusnya dibangun atas ketulusan perlahan dapat dikalahkan oleh kesibukan dan kepentingan masing-masing.

Baca Juga  Sikap Kita Terhadap Tetangga: Refleksi Nilai-Nilai Kemanusiaan

Lebih menyedihkan lagi ketika sikap tidak peduli muncul dari orang-orang yang telah memiliki kedudukan, jabatan atau pengaruh sosial. Ketika sudah berada di atas, sebagian orang seolah melupakan mereka yang dahulu berada di sekelilingnya. Menyapa orang kecil terasa berat, sementara penghormatan lebih mudah diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki kekuasaan.

Padahal, kebesaran seseorang bukan diukur dari seberapa tinggi kedudukannya, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika dirinya sudah berada di atas.

Materi, Teknologi dan Individualisme

Selain materi, perkembangan teknologi digital juga membawa perubahan besar. Dahulu, kepala yang tertunduk di hadapan orang tua merupakan simbol penghormatan. Sekarang, kepala sering tertunduk karena perhatian tertuju pada layar telepon genggam.

Kita dapat duduk bersama keluarga, tetapi masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Berada di tengah masyarakat, tetapi tidak memperhatikan orang yang berada di sampingnya. Teknologi yang seharusnya mempererat hubungan justru dapat mengurangi kualitas interaksi langsung apabila tidak digunakan secara bijaksana.

Individualisme juga semakin menguat. Kehidupan yang serba cepat membuat manusia sibuk dengan urusan masing-masing. Gotong royong, kepedulian dan kebiasaan saling mengunjungi menghadapi tantangan. Hubungan sosial pun semakin mudah berubah menjadi hubungan berdasarkan kepentingan dan keuntungan.

Krisis Keteladanan dan Ironi Kesalehan

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah krisis keteladanan. Masyarakat membutuhkan contoh dalam kehidupan. Anak-anak membutuhkan orang tua yang dapat diteladani. Mahasiswa membutuhkan pendidik yang berintegritas. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab.

Namun, ketika orang-orang berpendidikan tinggi, bergelar akademik atau memiliki jabatan justru tersandung persoalan moral dan korupsi, masyarakat tentu mempertanyakan makna pendidikan dan kehormatan itu sendiri.

Gelar akademik bukan jaminan kemuliaan akhlak. Jabatan bukan bukti kebijaksanaan. Kekayaan bukan ukuran kehormatan. Semuanya baru mempunyai nilai ketika disertai integritas.

Hal yang lebih penting lagi adalah kehidupan beragama. Kita patut bersyukur apabila semakin banyak masyarakat mendekatkan diri kepada agama. Tetapi keberagamaan tidak boleh berhenti pada simbol, penampilan dan ritual semata. Agama harus tercermin dalam akhlak.

Baca Juga  Istri yang Memuliakan Suami, Jalan Menuju Rumah Tangga yang Tenang

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qalam [68]: 4, bahwa Rasulullah SAW memiliki budi pekerti yang agung. Sementara dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13, Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

Pesannya jelas: keimanan seharusnya melahirkan akhlak, keramahan dan penghormatan kepada sesama. Rasulullah SAW juga mengajarkan agar orang beriman berkata baik atau diam, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

Karena itu, jangan sampai seseorang rajin berbicara tentang agama, tetapi perilakunya mudah menghina, merendahkan, memusuhi dan menyakiti orang lain. Kesalehan semestinya membuat manusia semakin rendah hati, santun dan peduli.

Mengembalikan Martabat Keberadaban

Pada akhirnya, lunturnya nilai keberadaban bukan semata-mata persoalan materi. Ada perubahan orientasi hidup, pengaruh teknologi, individualisme, krisis keteladanan dan melemahnya pendidikan akhlak yang saling berkaitan.

Kita tidak harus menolak modernisasi, kekayaan ataupun kemajuan teknologi. Yang diperlukan adalah menempatkan semuanya secara proporsional. Harta harus menjadi sarana berbuat baik, jabatan merupakan amanah, ilmu melahirkan kebijaksanaan dan agama membentuk kemuliaan akhlak.

Keluarga harus kembali menjadi tempat pertama pendidikan kesantunan. Sekolah dan perguruan tinggi harus memperkuat karakter. Pemimpin harus memberikan keteladanan. Masyarakat perlu menghidupkan kembali budaya saling menyapa, menghormati, membantu dan menjaga persaudaraan.

Sebab, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, kemegahan infrastruktur atau kecanggihan teknologi. Ada ukuran yang jauh lebih mendasar, yakni kualitas manusia dan hubungan sosialnya.

Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang semakin kaya, tetapi semakin miskin kepedulian; semakin tinggi pendidikan, tetapi semakin rendah penghormatan; semakin maju teknologi, tetapi semakin jauh dari sesama.

Sebab, ketika keramahan hilang, kesantunan ditinggalkan dan kepedulian mati, yang sedang tergerus bukan sekadar tata krama. Yang sedang kita pertaruhkan adalah keberadaban dan martabat kemanusiaan itu sendiri.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button