Suami yang Mengerti Istrinya, Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah

Suami yang Mengerti Istrinya Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah
Oleh : Bang Bangun – Pegiat Literasi Islam Hutadangka Kotanopan
Dalam kehidupan rumah tangga, sering kali yang tampak di mata manusia hanyalah nafkah, jabatan, rumah, kendaraan, atau kemewahan dunia. Padahal, di sisi Allah, kemuliaan seorang suami bukan hanya diukur dari banyaknya harta yang ia bawa pulang, tetapi dari kelembutan hati, kesabaran, dan kemampuannya menenangkan jiwa istrinya.
Betapa banyak perempuan yang sesungguhnya tidak menuntut emas dan kemewahan. Mereka hanya ingin dihargai, dipahami, didengar, dipeluk dengan kasih sayang, serta diyakinkan bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi kehidupan.
Seorang suami mungkin belum mampu memberi kehidupan yang berlimpah. Namun bila ia memiliki hati yang lembut, tutur kata yang baik, kesediaan meminta maaf, serta kesabaran menghadapi kekurangan pasangan, maka di situlah Allah menurunkan keberkahan rumah tangga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) secara patut dan baik.”(QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini bukan hanya perintah untuk memberi makan atau pakaian. Tetapi lebih dalam dari itu: memperlakukan istri dengan akhlak yang mulia. Menjaga perasaannya. Tidak merendahkannya. Tidak menjadikannya tempat pelampiasan emosi dan kemarahan.
Kadang seorang istri menangis bukan karena lapar. Tetapi karena hatinya merasa sendiri.
Kadang seorang perempuan tetap bertahan dalam kekurangan ekonomi, asalkan ia masih merasakan cinta dan penghormatan dari suaminya.
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:
> *“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi)
Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan istri-istrinya. Beliau membantu pekerjaan rumah. Menjahit sandal sendiri. Mendengarkan cerita istri. Bahkan berlomba lari dengan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk menyenangkan hatinya.
Padahal beliau adalah manusia paling mulia, pemimpin umat, kekasih Allah. Tetapi kemuliaannya justru semakin tampak melalui kelembutannya kepada keluarga.
Maka tidak pantas seorang suami merasa dirinya tinggi lalu kasar kepada istrinya.
Tidak pantas seorang laki-laki merasa hebat hanya karena menjadi kepala rumah tangga, tetapi gagal menghadirkan ketenangan di dalam rumahnya.
Allah berfirman:*“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”(QS. Ar-Rum: 21)
Rumah tangga dibangun bukan hanya dengan uang, tetapi dengan *mawaddah wa rahmah* — cinta dan kasih sayang.
Seorang suami yang baik adalah laki-laki yang mampu menjadi tempat pulang bagi hati istrinya.
Ia mungkin tidak kaya. Tetapi tutur katanya membuat istrinya tenang.
Ia mungkin tidak sempurna. Tetapi kesabarannya membuat rumah terasa teduh.
Ia mungkin penuh kekurangan. Tetapi ia tidak gengsi meminta maaf ketika bersalah.
Karena sesungguhnya meminta maaf bukan tanda kalah, melainkan tanda kedewasaan iman.
Rasulullah ﷺ tidak pernah malu menunjukkan kasih sayang kepada keluarganya. Beliau bahkan bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini seolah menjadi cermin bagi para suami. Ukuran iman ternyata bukan hanya panjangnya shalat atau banyaknya ceramah, tetapi bagaimana sikapnya kepada istrinya di rumah.
Masihkah ia membentak?
Masihkah ia meremehkan pengorbanan istrinya?
Masihkah ia membuat perempuan yang menemaninya justru menangis diam-diam di malam hari?
Padahal bisa jadi, doa seorang istri yang terluka menjadi penghalang keberkahan hidup suaminya.
Wahai para suami…
Tidak semua perempuan meminta rumah mewah. Tetapi hampir semua perempuan ingin diperlakukan dengan lembut.
Tenangkanlah hatinya.
Dengarkan keluh kesahnya.
Hargai lelahnya.
Peluk kesedihannya.
Jangan hanya datang membawa amarah setelah letih mencari nafkah di luar rumah. Karena istri pun lelah menjaga rumah, menjaga anak-anak, dan menjaga dirinya agar tetap kuat.
Jika ekonomi sedang sulit, jangan kehilangan kasih sayang.
Sebab kemiskinan tidak selalu menghancurkan rumah tangga. Tetapi kerasnya hati sering kali menjadi awal keruntuhan keluarga.
Allah Maha Melihat setiap kesabaran seorang suami yang tetap lembut meski hidup penuh ujian.
Dan Allah sangat mencintai laki-laki yang mampu menjaga hati perempuan yang telah Allah titipkan kepadanya.
Sebab pada akhirnya, rumah yang paling indah bukan rumah yang dipenuhi kemewahan, melainkan rumah yang dipenuhi ketenangan, saling memaafkan, dan kasih sayang karena Allah.
Semoga para suami mampu menjadi peneduh bagi istrinya.
Bukan sumber luka.
Bukan sumber air mata.
Tetapi menjadi jalan hadirnya sakinah dalam rumah tangga.
Aamiin.



