DUNIA ISLAM

Konten Keagamaan di Era Modern: Menjemput Anak Muda dengan Bahasa Makna

Konten Keagamaan di Era Modern: Menjemput Anak Muda dengan Bahasa Makna

Oleh: Drs. H. Bangun Paruhuman Lubis, M.Si_

Saya sering ditanya: “Pak Bangun, kenapa anak muda sekarang kayak cuek sama agama? Sholat bolong-bolong, ngaji malas, tapi ngikutin tren digital nonstop.”

Jawaban saya sederhana: bukan agamanya yang ditolak, tapi cara penyampaiannya yang belum nyambung.

Di era modern ini, tantangan dakwah bukan lagi soal minimnya masjid atau ustadz. Masjid berdiri megah di tiap desa. Ustadz juga banyak. Tapi anak muda justru merasa “agama itu jauh”. Ironisnya, fenomena ini paling terasa di desa. Dulu kita kira desa = benteng moral. Sekarang, HP sudah masuk ke gubuk paling ujung. Algoritma tidak kenal batas kota-desa. Yang kenal batas cuma kita, para pengurus dakwah, yang masih nyaman dengan cara lama.

1. Anak Muda Tidak Anti Agama, Mereka Anti “Tidak Nyambung”

Coba tanya anak muda desa: “Kamu percaya Tuhan nggak?” 9 dari 10 akan jawab: “Percaya, Pak”. Tanya lagi: “Kenapa kamu jarang ke pengajian?” Jawabannya rata-rata: “Bahasa ustadznya berat, Pak. Nggak ngerti. Terus yang dibahas itu-itu aja: neraka, dosa, kiamat. Kami lagi mikir gimana bayar UKT, gimana lolos kerja, gimana lepas dari judi online. Kok nggak pernah dibahas?”

Di situlah letak jurangnya. Anak muda hidup di dunia yang cepat, kompleks, penuh tekanan mental. Mereka butuh pegangan. Tapi konten keagamaan yang sampai ke mereka masih model ceramah 1 arah, durasi 2 jam, tanpa ruang tanya jawab. Sementara dunia digital sudah melatih mereka berpikir dalam 15 detik. Bukan berarti mereka tidak sabar. Mereka sabar menunggu konten yang “ngena”. Kalau tidak ngena, di-skip.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button