M O Z A I K

Menanam Kebencian, Menuai Luka – Hukum Kehidupan dalam Pandangan Islam

Oleh Bangun Lubis – Wartawan Muslim

ADA banyak hal yang berjalan diam-diam dalam hidup ini. Di antara yang paling sering kita temui adalah sifat manusia yang gemar membenci, merendahkan, menuduh, dan bahkan berusaha menghancurkan kehidupan orang lain tanpa alasan jelas.

Kadang itu dilakukan lewat kata-kata. Kadang dengan isyarat yang meremehkan. Kadang lewat fitnah di belakang. Kadang lewat senyuman palsu yang menyembunyikan racun. Dan kadang, dengan diam yang penuh kebencian.

Namun sedikit sekali yang menyadari bahwa dalam Islam, orang yang menanam kebencian sesungguhnya sedang menumpuk luka bagi dirinya sendiri.

 

● Keburukan yang dilempar akan kembali menghantam pelakunya

Allah sudah menentukan satu prinsip yang berlaku bagi seluruh manusia tanpa kecuali: “Jika kamu berbuat baik, (maka) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri.

> Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu kembali kepada dirimu sendiri.” (QS. *Al-Isra’* 17:7)

 

Ayat ini begitu sederhana, tetapi memotong akar semua kejahatan: keburukan tidak akan pernah benar-benar mengenai orang yang menjadi sasaran — ia lebih dulu kembali menghantam pelakunya.

Seseorang mungkin merasa puas ketika menjatuhkan reputasi orang lain. Ia mungkin merasa menang ketika membuat orang lain malu, tersisih, atau terhina.

Tetapi sesungguhnya, itu seperti menembak orang lain dengan peluru yang ujungnya melengkung kembali ke dirinya sendiri.

Itulah sunnatullah.

Hukum kehidupan yang tidak pernah bergeser.

● Kedengkian adalah penyakit hati — dan Allah menambah penyakit itu

Ketika Al-Qur’an menyebut:*“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu…” (QS. *Al-Baqarah* 2:10)

Para mufassir menjelaskan bahwa penyakit itu mencakup: ..benci, hasad, iri, dengki, riya, dan suka menjatuhkan sesama manusia.

Allah menambah penyakit itu bukan karena Allah zalim, tetapi karena pelakunya memilih jalan itu.

Betapa banyak orang yang hidupnya tampak baik-baik saja secara fisik, tapi hatinya panas, dadanya sempit, pikirannya kacau, dan hidupnya tidak pernah merasa cukup. Itulah akibat dari kebencian yang ia pelihara.

Baca Juga  Menjalani Hidup yang Baik dan Membalas Kebaikan dengan Kebaikan

Dendam itu seperti api kecil di dalam dada. Jika dibiarkan, ia membakar pemiliknya dari dalam.

● Kehidupan orang penuh kebencian memang tampak “berjalan”, tetapi di dalamnya hancur Ada orang yang benci padamu tapi senyum di depanmu.

Ada yang memfitnahmu tapi seolah peduli tentang hidupmu. Ada yang ingin menjatuhkanmu tapi pura-pura temanmu. Mereka mungkin terlihat “stabil” dari luar, tapi lihatlah bagaimana mereka menjalani malam—

betapa banyak yang tidak tidur, gelisah, cemburu melihat orang lain bahagia, dan merasa hidup selalu tidak adil. Itulah yang Al-Qur’an sebut sebagai:

“Kehidupan yang sempit.”(QS. *Thaha* 20:124)

Sempit bukan berarti miskin, tetapi sempit di dalam jiwa: tidak tenang, selalu curiga,  sulit bahagia,  rezeki terasa hambar,  dan hidup penuh tekanan batin.

Kebencian mencuri kebahagiaannya sendiri.

● Hadis Nabi: Kedengkian memakan amal seperti api memakan kayu

Rasulullah SAW mengingatkan: “Hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Betapa kerasnya peringatan ini. Kebencian itu bukan sekadar perasaan, melainkan penghancur amal.Orang yang membenci kita bukan sedang menang atas kita. Ia sedang menghanguskan catatan kebaikannya sendiri. Ini yang disabdakan Rasulullah, sebagai orang Maka jika ada orang yang membenci kita tanpa alasan, sebenarnya ia sedang menjadi musuh bagi dirinya sendiri.

● Ulama salaf sudah lama memahami hukum kehidupan ini**

● **Ibnul Qayyim rahimahullah** berkata: “Kedengkian adalah kerusakan yang kembali kepada pelakunya sebelum mengenai orang yang ia dengki.”

Artinya, sebelum kebenciannya menyakiti orang lain,

dalam dirinya sudah terjadi kehancuran batin lebih dulu.

● Hasan Al-Bashri berkata: “Pendengki tidak akan pernah merasa tenang. Ia tersiksa setiap kali melihat nikmat Allah pada orang lain.”

Orang seperti ini tidak pernah menikmati hidup. Karena setiap kebahagiaan orang lain menjadi alasan kesedihannya.

Baca Juga  Pendidikan, Akan Mengubah Dunia

● mam Syafi’i berkata:“Aku tidak memusuhi pendengki. Ia tersiksa setiap kali melihat nikmat Allah pada diriku.”

Betapa jernihnya cara ulama memandang hidup.

● Ketika seseorang sengaja merusak nama baik orang lain……sebenarnya ia sedang merusak namanya sendiri.

Ketika seseorang sengaja membuat orang lain terhina dan terpinggirkan……Allah sedang menulis kehinaan baginya di tempat lain.Ketika seseorang membuat orang lain terluka secara batin……Allah sedang menyiapkan luka pada dirinya, biasanya lewat hal yang tidak ia sangka.

Sebab Allah tidak suka kezaliman.

Dan Rasulullah SAW menegaskan: “Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Kegelapan itu tidak datang tiba-tiba. Ia dimulai dari hati yang gelap selama di dunia.

● Lalu apa sikap kita kepada orang yang membenci kita?

Islam tidak mengajarkan kita membalas keburukan dengan keburukan.

Allah berfirman: “Balaslah kejahatan dengan cara yang lebih baik…”  (QS. *Fussilat* 41:34)

 

Biarkan mereka tenggelam dalam apa yang mereka tanam.

Biarkan Allah yang mengadili.

Doa orang yang dizalimi tidak ada penghalangnya di sisi Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Takutlah kepada doa orang yang dizalimi, karena antara dirinya dan Allah tidak ada hijab.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita memilih sabar, maka Allah yang turun langsung membela kita.

Jangan takut pada kebencian manusia

Tak perlu gentar jika ada yang membenci kita tanpa alasan.

Tak perlu menghabiskan energi untuk membalas.

Tak perlu menjelaskan apa pun kepada orang yang sudah menutup mata hatinya.

Hidup ini tidak diatur oleh kebencian manusia, melainkan oleh keadilan Allah.

Yang menebar kebaikan, akan kembali mendapat kebaikan.

Yang menebar keburukan, akan kembali mendapat keburukan.

Itulah hukum Allah yang tidak pernah berubah — dan tidak ada manusia yang mampu menghindar darinya.

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button