Jangan Mempersulit Urusan Orang Lain, Karena Allah Bisa Mempersulit Urusan Kita
Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjadi orang yang memberikan kemudahan, pertolongan dan jalan keluar, bukan justru menjadi sebab kesulitan bagi orang lain.

Jangan Mempersulit Urusan Orang Lain, Karena Allah Bisa Mempersulit Urusan Kita
Oleh: Bang Bangun Lubis – Dosen & Wartawan Muslim
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak mungkin hidup sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain, sebagaimana orang lain pada suatu ketika membutuhkan bantuan kita. Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjadi orang yang memberikan kemudahan, pertolongan dan jalan keluar, bukan justru menjadi sebab kesulitan bagi orang lain.

Mempersulit urusan orang lain bukan hanya berarti menolak memberikan pertolongan. Perbuatan itu dapat muncul dalam berbagai bentuk: sengaja menunda pekerjaan, mempersulit pelayanan, menyembunyikan informasi, membuat aturan yang tidak perlu, mempermainkan orang yang sedang membutuhkan bantuan, menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, mempersulit urusan administrasi, menahan hak seseorang, bahkan menyebarkan fitnah yang akhirnya membuat kehidupan orang lain menjadi sulit.
Islam sangat memperhatikan persoalan ini. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Ma’idah: 2).
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat jelas. Seorang Muslim hendaknya menjadi bagian dari penyelesaian masalah, bukan bagian dari masalah. Ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu dalam kebaikan, maka kemampuan tersebut merupakan amanah dari Allah.
Allah SWT juga berfirman:“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat tersebut memang berbicara dalam konteks kemudahan dalam syariat, tetapi memberikan pelajaran penting bahwa Islam bukan agama yang menghendaki kesulitan dan kesempitan bagi manusia. Karena itu, seorang Muslim seharusnya tidak menjadikan dirinya sebagai sumber kesulitan bagi saudaranya.
Rasulullah SAW Mengajarkan Kemudahan. Rasulullah SAW memberikan prinsip yang sangat tegas dalam bermuamalah. Beliau bersabda:
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini bukan sekadar nasihat dalam berdakwah. Prinsip “memudahkan dan tidak mempersulit” juga sangat relevan dalam kehidupan sosial.
Ketika seseorang datang meminta bantuan, jangan langsung mencari alasan untuk menolaknya jika memang kita mampu membantu. Ketika seseorang membutuhkan informasi, jangan sengaja memberikan informasi yang membingungkan. Ketika seseorang memiliki hak yang harus diberikan, jangan menahannya tanpa alasan yang benar.
Kita harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran kita membuat urusan orang lain menjadi lebih mudah atau justru semakin sulit?
Allah Memperingatkan Orang yang Suka Menyusahkan
Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa yang menyusahkan seorang Muslim, niscaya Allah akan menyusahkannya. Dan barang siapa yang menyulitkan seorang Muslim, niscaya Allah akan menyulitkannya.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini mengandung peringatan yang sangat keras.
Manusia terkadang merasa memiliki kekuasaan karena memegang jabatan, memiliki uang, mempunyai koneksi, atau berada pada posisi yang menentukan urusan orang lain. Akhirnya, ia merasa bebas memperlakukan orang sesuka hatinya.
Padahal jabatan hanyalah amanah. Kekuasaan adalah ujian. Kemampuan membantu adalah nikmat yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Jangan sampai seseorang ketika berkuasa berkata, “Ini urusan saya, terserah saya mau mempermudah atau mempersulit.” Tidak demikian dalam Islam.
Mempersulit Orang Lain Bisa Menjadi Kezaliman
Allah SWT berfirman:“Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.”(QS. Hud: 85)
Ayat ini memberikan peringatan agar manusia tidak merugikan hak orang lain.
Karena itu, mempersulit urusan orang lain dapat menjadi dosa apabila dilakukan dengan sengaja dan menyebabkan seseorang kehilangan hak, mengalami kerugian, dipermalukan, tertipu, atau mendapatkan penderitaan tanpa alasan yang dibenarkan syariat.
Lebih berat lagi apabila kesulitan itu sengaja dibuat karena dendam, iri hati, kepentingan pribadi, atau karena ingin mendapatkan keuntungan.
Dalam keadaan seperti itu, persoalannya bukan lagi sekadar **“tidak membantu”**, tetapi sudah dapat masuk kepada tindakan zalim terhadap sesama.
Jangan Menahan Hak Orang Lain
Islam juga sangat keras terhadap orang yang menahan atau mengurangi hak manusia.
Allah SWT berfirman: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”(QS. Al-Mutaffifin: 1–3)
Ayat ini memang berbicara tentang kecurangan dalam takaran dan timbangan, tetapi prinsip keadilannya sangat luas: jangan mengambil hak kita secara sempurna tetapi memberikan hak orang lain secara tidak sempurna.
Dalam kehidupan modern, bentuknya dapat bermacam-macam. Kita menuntut pelayanan terbaik ketika menjadi pelanggan, tetapi ketika kita menjadi pihak yang memberikan pelayanan, kita justru memperlambat orang lain.
Kita ingin urusan kita segera diselesaikan, tetapi ketika orang lain membutuhkan bantuan kita, kita sengaja menunda.
Kita ingin dihargai, tetapi kita tidak menghargai orang lain. Inilah yang harus diperbaiki.
Mempermudah Bukan Berarti Melanggar Aturan
Namun perlu dipahami, Islam tidak mengajarkan seseorang mempermudah dengan cara melanggar hukum, aturan atau syariat.
Jika suatu persyaratan memang wajib, maka harus dipenuhi. Jika sebuah aturan dibuat untuk kemaslahatan, jangan dilanggar hanya dengan alasan ingin mempermudah.
Yang dilarang adalah menciptakan kesulitan yang tidak perlu menambahkan persyaratan tanpa alasan yang benar, memperlambat sesuatu karena kepentingan pribadi, atau menggunakan aturan sebagai alat untuk menyusahkan orang lain.
Jadi, sikap seorang Muslim adalah: tegas terhadap aturan, tetapi tetap manusiawi dalam pelayanan.

Membantu Orang Lain adalah Amal
Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.”(HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa membantu menyelesaikan kesulitan orang lain bukan pekerjaan sia-sia.
Ketika kita membantu seseorang menyelesaikan persoalannya, Allah menjanjikan pertolongan bagi kita. Ketika kita memberikan jalan keluar, Allah dapat memberikan jalan keluar bagi kehidupan kita. Ketika kita menolong seseorang yang sedang kesulitan, boleh jadi suatu saat Allah mengirimkan orang lain untuk menolong kita ketika kita berada dalam kesulitan.
Inilah keseimbangan kehidupan seorang Muslim.
Jangan Merasa Hebat Karena Bisa Membuat Orang Lain Menunggu
Ada orang yang merasa dirinya penting ketika orang lain harus menunggu. Ada yang merasa berkuasa ketika orang lain berkali-kali datang meminta tanda tangan.
Ada yang sengaja tidak menjawab pesan karena merasa dirinya lebih tinggi. Ada pula yang sengaja membuat seseorang bolak-balik hanya karena ingin menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa.
Perilaku seperti ini harus diwaspadai.
Seorang Muslim seharusnya memahami bahwa kemampuan membuat orang lain bergantung kepada kita adalah ujian, bukan kehormatan mutlak.
Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. An-Nisa: 58).
Ayat ini sangat penting bagi siapa saja yang memegang amanah, baik sebagai pemimpin, pejabat, pengurus organisasi, guru, dosen, pengusaha, maupun orang yang memiliki kewenangan atas urusan orang lain.
Belajarlah Menjadi Jalan Keluar
Islam mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang kehadirannya membawa manfaat.
Jika ada orang kesulitan, kita bantu sebatas kemampuan. Jika ada orang tidak mengetahui, kita beri penjelasan. Jika ada orang bingung, kita berikan informasi yang benar. Jika ada orang memiliki hak, kita tunaikan haknya. Jika kita tidak mampu membantu, setidaknya jangan menambah kesulitannya.
Dan apabila kita memang tidak dapat memenuhi permintaannya, sampaikan dengan cara yang baik.
Sebab terkadang seseorang tidak membutuhkan uang dari kita. Ia hanya membutuhkan informasi, waktu, perhatian, atau sebuah kalimat sederhana: “Mari saya bantu semampu saya.”
Muhasabah untuk Diri Kita
Sebelum menilai orang lain, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Pernahkah saya mempersulit urusan orang lain?Pernahkah seseorang datang kepada saya dan saya sengaja menundanya?Pernahkah saya memiliki kemampuan membantu tetapi memilih tidak peduli?Pernahkah saya menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi?Pernahkah saya menahan hak orang lain?Pernahkah saya membuat seseorang harus berulang kali datang hanya karena kelalaian saya?
Jika pernah, jangan malu untuk memperbaikinya. Sebab manusia tidak luput dari kesalahan. Yang penting adalah mau bertaubat, meminta maaf jika telah menzalimi orang lain, mengembalikan haknya dan memperbaiki perilaku.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah orang yang memberikan keamanan kepada orang lain dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, ukuran kesalehan seseorang bukan hanya seberapa banyak ia beribadah secara pribadi, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan manusia. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi orang lain justru takut berurusan dengan kita. Jangan sampai kita banyak berbicara tentang agama, tetapi tangan kita mempersulit hak orang lain. Jangan sampai kita ingin Allah memudahkan kehidupan kita, sementara kita sendiri senang membuat kehidupan orang lain menjadi sulit.
Permudahlah urusan orang lain selama tidak melanggar syariat. Bantulah yang membutuhkan. Tunaikan hak. Jangan zalim. Jangan gunakan kekuasaan untuk menekan.
Karena kehidupan ini berputar.
Hari ini mungkin kita berada dalam posisi yang bisa membantu orang lain. Besok bisa jadi kitalah yang membutuhkan bantuan.
Dan pada akhirnya, semua urusan kita akan kembali kepada Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan kita manusia yang kehadirannya membawa kemudahan, ketenangan dan keberkahan bagi orang lain. Aamiin.
Bangun Lubis





