Infakkanlah Jiwa dan Ragamu untuk Menjadi Manfaat bagi Sesama

Infakkanlah Jiwa dan Ragamu untuk Menjadi Manfaat bagi Sesama

Oleh: Bang Bangun – Dosen/ wartawan Muslim
Tidak semua infak harus berupa harta. Ada infak yang lebih luas dan lebih dalam maknanya, yaitu menginfakkan jiwa dan raga untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Apa pun bentuknya, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan ikhlas karena Allah, maka ia akan menjadi amal yang bernilai dan tidak akan pernah sia-sia.
Banyak orang berpikir bahwa untuk menjadi manusia yang berguna harus memiliki kekayaan, kedudukan, atau pengaruh yang besar. Padahal tidak demikian. Allah memberikan kelebihan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Ada yang diberi ilmu, ada yang diberi tenaga, ada yang diberi waktu luang, ada yang memiliki kemampuan mendengarkan, ada pula yang diberi kemampuan menulis dan menyampaikan kebaikan. Semua itu adalah nikmat yang dapat diinfakkan untuk kepentingan sesama.
Rasulullah SAW bersabda:”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Hadis yang singkat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Kemuliaan seseorang bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan orang lain dari kehadirannya.
Ada orang yang setiap hari menyisihkan hartanya untuk membantu kaum dhuafa. Ada pula yang tidak memiliki banyak harta, tetapi dengan tenaganya ia membantu tetangga yang sedang kesusahan. Ada guru yang dengan sabar mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Ada seorang ibu yang menginfakkan seluruh kasih sayangnya untuk mendidik anak-anaknya menjadi manusia yang saleh. Ada pula seseorang yang dengan tulisannya mampu menggerakkan hati orang lain untuk mendekat kepada Allah. Semua itu merupakan bentuk infak yang sangat berharga.
Allah SWT berfirman: “Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195).
Ayat ini mengingatkan bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia. Bahkan, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan, Allah mengetahuinya dan akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Menjadi manusia yang bermanfaat tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu memiliki jabatan atau kedudukan yang tinggi. Sebab kesempatan berbuat baik selalu terbuka setiap hari. Senyum yang tulus, sapaan yang menenangkan, nasihat yang lembut, memaafkan kesalahan orang lain, membantu orang tua, mengunjungi orang sakit, atau sekadar mendoakan saudara kita dalam diam, semuanya adalah bentuk pengabdian yang bernilai di sisi Allah.
Sesungguhnya alam mengajarkan kepada kita makna memberi. Pohon tidak memakan buahnya sendiri. Sungai tidak meminum airnya sendiri. Matahari tidak menikmati cahayanya sendiri. Semua diciptakan Allah untuk memberikan manfaat kepada makhluk lain. Demikian pula manusia. Semakin banyak ia memberi manfaat, semakin besar pula keberkahan yang akan Allah limpahkan dalam hidupnya.

Sayangnya, di zaman sekarang tidak sedikit orang yang sibuk mengejar kepentingan diri sendiri. Mereka merasa cukup ketika kebutuhan pribadinya terpenuhi, tanpa peduli terhadap keadaan orang lain. Padahal, kebahagiaan sejati justru sering kali hadir ketika kita mampu membuat orang lain tersenyum dan merasakan manfaat dari keberadaan kita.
Imam Asy-Syafi’i pernah mengatakan bahwa kemuliaan seseorang terletak pada manfaat yang ia berikan kepada sesama. Oleh sebab itu, jangan pernah meremehkan amal kecil. Bisa jadi, pertolongan sederhana yang kita berikan kepada seseorang menjadi sebab Allah memudahkan urusan kita di dunia dan akhirat.
Ketika usia semakin bertambah dan kekuatan fisik mulai berkurang, yang akan menjadi penyejuk hati bukanlah banyaknya kekayaan yang pernah dikumpulkan, melainkan jejak-jejak kebaikan yang pernah ditinggalkan. Doa dari orang-orang yang pernah dibantu, ilmu yang pernah diajarkan, serta kasih sayang yang pernah diberikan akan menjadi amal yang terus mengalir.
Karena itu, selama napas masih berhembus dan kesempatan masih terbuka, infakkanlah jiwa dan ragamu untuk menjadi manfaat bagi orang lain. Apa pun bentuknya. Jika belum mampu membantu dengan harta, bantulah dengan tenaga. Jika belum mampu dengan tenaga, bantulah dengan ilmu. Jika belum mampu dengan ilmu, bantulah dengan doa yang tulus. Dan jika semua itu belum mampu dilakukan, setidaknya jangan menyakiti sesama.
Sebab hidup yang paling bernilai bukanlah hidup yang hanya dinikmati sendiri, tetapi hidup yang kehadirannya membawa kebaikan bagi banyak orang.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ringan tangan dalam membantu, lapang hati dalam memberi, dan senantiasa meninggalkan jejak manfaat hingga akhir hayat.
“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya.” Wallahu a’lam.




